BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Sukses Hidup / Yang perlu diperhatikan dari Pujian

Yang perlu diperhatikan dari Pujian

doa1

Diriwayatkan : Disamping Rasulullah SAW ada orang yang memuji-muji temannya. Lalu, Rasulullah mengingatkannya, ”Celaka kamu! Kamu telah memotong leher saudaramu itu. Kalau ia mendengar, ia tidak akan senang.” Beliau melanjutkan, ”Kalaulah kamu harus memuji saudaramu, lakukanlah itu dengan jujur dan objektif.” (HR. Bukhari Muslim).

Disisi lain pujian dpt merusak. Pujian berlebihan berdampak menimbulkan perasaan bangga diri (kesombongan). Akibatnya mirip dengan cercaan. Pujian berlebihan juga mengakibatkan seseorang stagnan bahkan layu. Bibit kesombongan membuat seseorang stagnan, cacian berlebihan juga mengakibatkan seseorang stagnan dalam demotivasi yang parah. Bagai air yang tak mengalir, yang berlanjut pada pembusukan. Pujian berlebihan atau cercaan bisa menjadikan prestasi merosot .

Rasulullah saw bersabda, yang artinya , “Berhati-hatilah dengan pujian. Sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” (HR. Al-Bukhari) .

Pujian berlebihan bisa mengakibatkan kita terlena dengan pujian. Kita merasa nyaman dengan pujian itu atau bahkan ketagihan untuk mendapatkan pujian yang lebih besar. Pujian yang tidak disikapi dengan hati-hati bisa menjadi malapetaka. Bisa menipu diri, dan menutup diri dari nasihat orang, serta menghancurkan keikhlasan. Pujian akan menggerus rasa ikhlas dalam diri kita. Pujian bisa memudarkan motivasi keikhlasan kita.

Rasulullah saw bersabda ,yang artinya ,” Tidaklah seseorang menganggap besar dirinya sendiri, berjalan sambil menyombongkan diri kecuali ia akan bertemu Allah sedangkan Allah murka thdpnya,” (Shohibul jami’ al-Shoghir 5711)

Malapetakan besar menunggu seorang hamba yang terjerat pujian hingga ia terjatuh dalam kesombongan (berbangga diri). Membanggakan diri sendiri (prestasi diri), akan menghapus amal kebaikan-kebaikan walau telah dilakukannya dengan keikhlasan.

“Maka masukilah pintu-pintu neraka jahanam, kalian kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri “. (Qs. An-Nahl : 29).

Pujian yang ada seharusnya dijadikan sebagai introspeksi diri untuk lebih mengenal diri. Karena ini berpotensi menjerumuskan diri bila ia tergelincir menjadi tersanjung. Parahnya lagi bukan dijadikan sebagai bahan introspeksi namun justru menjadi semacam kebutuhan , sehingga apa yang dilakukan tertanam sebagian motivasi untuk meraih pujian. Inilah yang menjadi bibit kerusakan dimana pujian bukan lagi sebagai sarana, tetapi sudah menjadi tujuan. Motivasinya menjadi melenceng bagaimana bisa dapat pujian.

Selanjutnya mari kita melihat dari sudut orang yang memuji . Mengapa orang lain memuji kita? Apa motivasinya ?

Alasan pertama adalah bahwa besar kemungkinan karena mereka tidak tahu sebenarnya siapa diri kita. Apabila mereka tahu siapa diri kita yang sebenarnya, pasti mereka tidak akan memuji. Karena sesungguhnya kita terlalu buruk dari apa yang mereka kira.Yang perlu diwaspadai adalah ternyata kita nantinya akan terjebak dalam situasi dimana kita justru akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada diri kita itu.

Orang yang memuji karena persepsi mereka kepada kita. Sedangkan persepsi dari hasil pengamatan panca indera mereka. Sebenarnya Persepsi hanyalah hasil dari proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada suatu obyek. Sedangkan kemampuan panca indera manusia sangat terbatas, ia hanya bisa melakukan pengamatan dan penilaian untuk sebagian kecil obyek saja. Sehingga apa yang dipersepsikan seseorang dapat jauh berbeda dari kenyataan yang obyektif. Kita menjadi tertipu karena apa yang menjadi persepsi orang lain terhadap kita, sebenarnya tidak ada. Seakan kita menjadi buta terhadap kondisi diri kita yang sebenarnya.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya , “Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.” (HR. Ad-Dailami).

Seharusnya pujian itu membuat kita malu. Karena apa yang mereka katakan, sebenarnya tidak ada pada diri kita. Pujian akan membimbing kita untuk berbohong pada diri sendiri. Dan yang perlu diingat dalam proses dalam Puji-Memuji, bahwa

  1. Kita dipuji, bukan karena kelebihan kita. Tapi semata-mata Allah menutup kekurangan (aib) kita.
  2. Allah menggerakan orang yang memuji kita, untuk menguji keikhlasan kita. Sampai seberapa jauh tingkat keikhlasan kita dalam mengerjakan perkara ibadah ataupun urusan muamalah.

Pujian bisa mengaburkan bahkan menggerus keikhlasan kita, karena kita melakukan sesuatu tidak semata-mata karena Allah sebagai ukuran, namun ditunggangi kepentingan selain Allah. Bahkan untuk urusan sederhana pun, tidak lolos dari potensi bahaya pujian. Dimana kesederhanaan seseorang bisa tumbuh motivasi agar mendapat pengakuan atau dinilai tawadlu oleh orang lain. Jangan terlalu menikmati pujian karena bisa terjebak. Pujian itu bisa memabukkan diri seseorang.

Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din, menyebutkan enam bahaya (keburukan) yang dapat tumbuh dari puji memuji itu. Dikatakan, empat keburukan kembali kepada orang yang memberikan pujian, dan dua keburukan lainnya kembali kepada orang yang dipuji.

Bagi pihak yang memuji, keburukan-keburukan itu berisi beberapa kemungkinan:

  1. ia dapat melakukakan pujian secara berlebihan sehingga ia terjerumus dalam dusta.
  2. ia memuji dengan kepura-puraan menunjukkan rasa cinta atau simpati yang tinggi padahal dalam hatinya bisa jadi lain. Sehingga ia terjjangkit sifat hipokrit.
  3. ia menyatakan sesuatu yang tidak didukung fakta yang lengkap. Bisa jadi hanya membual belaka.
  4. ia telah membuat senang orang yang dipuji, padahal ia orang jahat (fasik). Orang jahat, kata Ghazali, jangan dipuji biar senang, tetapi harus dikritik untuk introspeksi.

Sedangkan bagi pihak yang dipuji terdapat dua keburukan yang bisa timbul.

  1. ia bisa terjangkit sifat sombong (kibr) dan merasa besar sendiri(‘ujub). kibr dan ‘ujub merupakan penyakit hati yang mematikan.
  2. ia bisa lupa diri dan lengah karena mabuk pujian.

Menurut Imam Ghazali, bahwa orang yang merasa besar (hebat) sesungguhnya ia lengah. Karena ia merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras, kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.

Imam Ghazali menyatakan pula bahwa sebenarnya pujian boleh dilakukan asalkan dapat terhindar dari keburukan-keburukan. Bahkan, dalam kadar dan situasi tertentu pujian itu diperlukan.

Rasulullah SAW juga pernah memuji Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan sahabat-sahabat beliau yang lain. Namun, pujian beliau dilakukan dengan jujur dan penuh kearifan. Sehingga tidak menjadikan para sahabat tergelincir dalam kesombongan.

Dalam suatu kesempatan ada seseorang telah memuji Ali bin Abi Thalib ra . Lalu, dikatakan kepada orang itu bahwa,”Aku tidak sebagus yang kamu katakan.”

Dalam kesempatan lain, ketika banyak menerima pujian, beliau Ali bin Abi Thalib ra justru berdoa, ”Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan mereka, dan jangan Engkau siksa aku gara-gara mereka.Berikanlah kepadaku kebaikan dari apa yang mereka sangkakan kepadaku.”

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Rasulullah SAW memberikan tiga kiat untuk menghadapi pujian ;

  1. Mawas diri supaya tidak terbuai oleh pujian. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Rasulullah SAW menanggapinya dengan doa, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR Bukhari). Lewat doa ini, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita.
  2. Menyadari bahwa hakikat pujian adalah tabir dari sisi gelap kita yang tidak ingin diketahui orang lain. Karena, ketika ada yang memuji kita, itu lebih karena ketidaktahuannya akan sisi gelap kita. Rasulullah SAW dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa,”Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku).” (HR Bukhari).
  3. Kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain memang benar ada dalam diri kita, Rasulullah SAW mengajarkan agar memohon kepada Allah SWT untuk dijadikan lebih baik lagi. Maka, kalau mendengar pujian seperti ini, Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Bukhari).

Saudaraku, pujian maupun hinaan bisa menjadi motivator diri yang kuat Kita hanya perlu melihatnya dari sisi kebaikannya. Hinaan menjadikan kita lebih intensif melakukan perbaikan diri dari sifat atau perbuatan buruk kita. Sedangkan pujian akan membuat kita lebih mensyukuri nikmat Allah dan menyadari sebenarnya yang paling berhak pujian hanyalah Allah. Karena apapun yang terjadi dalam diri kita adalah atas izin Allah . Dan hinaan maupun pujian seharusnya dapat membuat kita lebih terpacu menjemput nikmat Allah yang lebih besar .

Wallahu’alam

Referensi : Muhammad Nuh, Dakwatuna.com. M. Taqiyyuddin Alawiy, Pengajar Madrasah Diniyah Nurul Huda Mergosono Malang. Yusran Pora dalam Gagal itu Indah , muslim.or.id .  eramuslim. Jere E. Brophy ; Motivating Student to Learn, harapansatria.blogspot.co.id.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Manajemen Diri

Oleh: Hafizhah Syifa’ (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Surabaya) Apa yang Anda bayangkan apabila mendengar ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *