BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Untaian Berkah Ramadhan

Untaian Berkah Ramadhan

Oleh Nenden Maesaroh|Mahasiswa Pendidikan Sosiologi

Teruntuk Ramadhan yang aku cintai, tahun dimana aku dapat kembali berjumpa denganmu adalah tahun-tahun terindah dalam hidupku, terutama bila aku dapat melewatkan setiap harimu dengan keluargaku tercinta, keluarga yang utuh. Ada ayah, ibu, serta dua orang saudaraku. Hanya saja, sudah dua tahun ini aku menjalani ramadhan tanpa ayah. Ya, dua tahun lalu ayah dipanggil untuk pulang keharibaanNya yang agung. Aku sungguh ikhlas akan kepergiaannya, bukankah pulang memenuhi panggilanNya adalah suatu keniscayaan yang tak dapat ditunda apalagi ditolak? Tidak ada yang harus kita takutkan bila kita kembali padaNya dengan iman yang masih berdegup dalam dada. Bukankah rindu yang selama ini kita pendam padaNya di dunia akan segera terbalas ketika dapat berjumpa denganNya? Ya Rabb yang Maha Pengasih terimalah ayahanda yang selama hidupnya berjuang menghidupi kami dengan cara yang halal. Terimalah amal dan ibadahnya yang jatuh bangun ia tegakkan demi ridhoMu yang merupakan tujuan puncak setiap muslim. Aku ikhlas, kami ikhlas Ya Rabb.

Ramadhan membuatku mengerti tentang arti perjuangan yang sebenarnya, ketika kulihat ibu terlelap tidur di siang hari pada bulan ramadhan, wajah teduh yang menenangkan terlelap tidur menikmati istirahat siang yang jarang ia lakukan, dua tahun ini beliau hanya dapat menikmati tidur siang di bulan ramadhan, di bulan-bulan lain beliau yang menggantikan ayah mencari nafkah dengan berjualan makanan ringan di warung yang kami buat sedemikian rupa di depan rumah kami sehingga beliau tak pernah sempat memejamkan mata barang sejenak untuk beristirahat siang. Ya Ramadhan, kedatanganmu sungguh istimewa. Tidur siang yang kukira hanya hal sederhana namun begitu luar biasa bagi ibu, dua tahun ini aku menyaksikan sendiri bagaimana kuatnya ibu menanggung beban keluarga, tak nampak rasa takut dalam sosok perempuan yang paling aku cintai ini, baginya ketiadaan ayah bukan berarti rezeki kami ikut hilang, beliau yakin ketika ayah tiada Allah yang langsung menjamin rezeki kami. Bila ramadhan tiba kami tetap menyambutnya dengan suka cinta walaupun tak bisa ku abaikan suasana rumah yang berbeda kala sosok ayah tak lagi bersama kami, hal lain yang sederhana seperti buah pisang yang membusuk berhari-hari tergantung di rak dapur tanpa ada yang memakannya, padahal bila ada ayah setiap tiga hari sekali buah kesukaan ayah itu habis tak tersisa dimakannya sebelum menyantap makan siang. Ayah, ramadhan tahun ini kami masih merasa kesepian, banyak yang berubah tanpa ayah namun tetap kami nikmati bulan penuh keberkahan ini, semoga lantunan surat Yaasin tanda kerinduan kami yang senantiasa terlafadz sampai keberkahannya padamu.

“Ini ramadhan tahun kedua tanpa bapak kan?” seorang sahabat bertanya padaku.

“Iya” jawabku singkat.

“Yang sabar yah” ucapnya menguatkan.

“Makasih” lagi-lagi aku menjawabnya singkat.

Dua tahun tanpa bapak, bukan hanya ramadhan namun banyak hal yang sudah aku lewati tanpa bapak. Banyak cerita suka dan duka yang ingin kusampaikan.

Pak, rindu. Bisikku didalam hati.

“Eh ini pertama kali kamu ramadhan disini kan?” lagi, sahabatku bertanya. Sepertinya ia hendak mengalihkan topik pembicaraan agar siang itu tak menjadi siang yang mengharu-biru.

“Iya, resiko mahasiswa yang ngontrak kuliah semester padat. Hehehe” kali ini aku sedikit panjang menjawab pertanyaan sahabatku itu.

Gimana rasanya puasa di kosan?” tanyanya penasaran.

Tentu saja ada rasa penasaran di benaknya, karena sahabatku ini bukan anak kosan sepertiku, tapi asli pribumi kota Bandung tempat kampus kami berada.

“Ya… yang pasti tidak seenak seperti menjalankan ibadah puasa dirumah yang serba ada, serba mudah karena pasti disiapkan Ibu, kita tinggal bantu sedikit bisa langsung makan hehehe” jawabku sekedarnya.

Pengen deh ngerasain jadi anak kosan” katanya berandai-andai.

“Rumah kamu kan deket dari kampus, Ta” kata ku pada Nita yang memang jarak antara rumahnya dengan kampus cukup ditempuh selama duapuluh menit dengan kendaraan umum.

“Iya makanya orang tua gak ngebolehin. Padahal, kayaknya seru deh. Belajar survive, mandiri, ngatur uang, ngatur waktu” katanya dengan mimik muka sedikit sedih.

Aku kembali mengingat-ingat kehidupanku sebagai anak kos, mencoba menyamakan dengan apa yang dikatakan Nita, namun tak semuanya seperti apa yang dibayangkan oleh si anak pribumi ini, begitu aku menyebut Nita ketika bercanda dengannya.

Di ramadhan pertamaku sebagai anak kos sekaligus mahasiswa yang sedang mengejar-ngejar mimpinya meraih gelar S.pd secepat mungkin dengan mengikuti semester padat suka dan duka itu semakin nyata kurasakan. Namun aku bersyukur, selain anak-anak pribumi seperti Nita aku juga berteman dengan anak-anak lain yang statusnya sama, yakni anak kos. Setidaknya hal itu membuatku merasa bahwa aku tak sendirian melewati suka dan duka itu.

Ramadhan pertama ditanah rantau ini sungguh berkesan, banyak hal pahit, sukar dan kedukaan yang berbuah manis. Disini, di kamar kos yang tidak begitu luas namun hati ini merasa begitu lapang. Ada ikhlas yang tidak terbatas melewati detik-detik ramadhan, sendirian menikmati hidangan sahur dan buka puasa seadanya, bukan menu sahur dan berbuka yang menjadi persoalan utama. Namun kondisi yang membuatku tak bisa melewati bulan penuh berkah ini dengan keluarga. Jujur, traumaku kehilangan ayah saat aku masih semester dua belum hilang. Ramadhan kali ini membuatku semakin takut bahwa aku tak bisa melewati ramadhan tahun depan dengan keluargaku, terutama Ibu.

Tahun ini, ramadhan datang membawa lebih banyak hal istimewa terutama untuk ku. Ada banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari setiap detik bulan suci ini. Sabar yang tak terbatas, kesendirian yang lebih membuatku mengenal siapa diri ini sebenarnya, sampai akhinya suka dan duka ramadhan di tanah rantau ini berbuah manis ketika tradisi mudik didepan mata. Ya Ramadhan, terimakasih telah mengingatkanku arti pulang yang sebenarnya. Mengingati bahwa ayah pulang ke kampung halaman yang sebenarnya yaitu akhirat karena takdirnya sudah sampai, dan aku pulang ke rumah karena takdirku pula telah sampai untuk pulang sementara ke kampung halamanku di dunia. Esok, lusa atau kapanpun ketika Engkau memanggilku, ketika sampai giliranku kembali padaMu, pulang ke kampung akhirat aku tidak akan malu berlari padaMu. Menumpahkan cinta dan rindu yang kian menebal di relung hati pada malam penghujung ramadhan ini.

Sekarang aku mengerti kenapa banyak orang mengucapkan selamat datang menyambut bulan suci penuh keberkahan ini. Karena puing-puing keberkahan itu sungguh nyata bagi mereka yang benar-benar mencariNya pada setiap santap sahur yang seringkali penuh perjuangan, pada saat menanti waktu berbuka puasa yang penuh godaan, pada saat sujud-sujud penuh keihlasan mereka yang melaksanakan shalat sunnah tarawih bukan hanya diawal dan akhir ramadhan namun istiqomah menjalankannya, menikmati setiap detik ramadhan, menyambut serta menjamu ramadhan dengan sepenuh hati, maka ramadhan membalasnya dengan berkah yang berlimpah, salah satunya istiqomah dalam beribadah.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *