BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Muslimah / Tunjukan Hasil Ramadhan mu

Tunjukan Hasil Ramadhan mu

THR

Ramadhan, bulan mulia nan berkah telah berlalu meninggalkan kita. Bulan dimana pahala dilipat gandakan, bulan dimana ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, setan pun dibelenggu, serta keutamaan-keutamaan lain yang patut kita syukuri karena merupakan pemberian dari yang Maha Pemurah dan Penyayang; Allah SWT. Dapat kita rasakan, bagaimana keimanan kaum muslim meningkat saat Ramadhan berlangsung, kita berlomba untuk mendapat pahala dari-Nya. Acara televisi yang bertransformasi menjadi acara Islami, tempat-tempat ‘tak senonoh’ ditutup sementara, dan suasana yang mencerminkan indahnya Islam, pastinya menentramkan hati. Dan ternyata, tidak berhenti sampai disitu kemurahan dari-Nya, saat Ramadhan berlalu dan kita menginjak bulan Syawal maka Allah SWT pun telah menyiapkan sesuatu yang spesial bagi hamba-Nya yakni; “Siapa yang berpuasa Ramadlan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal maka itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad & Muslim). Masya Allah, maka nikmat manakah yang dapat kamu dustakan?

Lalu apa hasil dari Ramadhan yang telah kita dapatkan? Allah SWT berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S Al-Baqarah:183). Itulah ayat perintah dari-Nya untuk melaksanakan shaum, dan diakhiri oleh kalimat agar kamu bertakwa!.

Dears, Jelaslah Bulan Ramadhan adalah bulan pembentukan jati diri kita menjadi orang yang bertakwa, Takwa disini berarti menjalankan seluruh perintah dari-Nya, dan menjauhi seluruh larangan dari-Nya. So dibulan setelah ramadhan harus ada dong hasil yang ditunjukannya… Nah kalo masih ada yang tidak bisa menunjukan hasil Ramadhannya atau balik lagi ke jati diri sebelumnya yang ngga terlalu intens mengerjakan amal sholehnya bisa jadi dirimu itu malas, padahal melaksanakan; qiyamul lail, tilawah, hafalan Al-Qur’an, mengkaji islam, shadaqoh, membaca buku keislaman adalah aktivitas yang bisa kita kerjakan di bulan-bulan setelah Ramadhan. Jadi, Jangan sampai malas menghampiri yah… hingga kita terlena untuk tidak melaksanakan amalan-amalan tersebut. Karena ketika kita tilik penyebab malas itu adalah nafsu. Dan hati-hati, ketika nafsu menguasai bisa menjadikan kita semangat mengerjakan amal shalih hanya saat bersama saja, namun tidak semangat ketika sendiri, hal ini bisa jadi merupakan tanda dari sifat riya Naudzubillah. So Guys, jauhi rasa malas dan kerjakan amalan yang bisa menghalau nafsu, amalan yang bisa mendekatkan kita pada-Nya seperti baca Al-Qur’an dan maknanya, agar kita tahu serta merenungi makna yang terkandung dalam kalimat-kalimat cinta-Nya hingga bisa melaksanakannya. Kemudian dirikanlah shalat malam karena di sepertiga malam itulah tiada hijab antara kita –sebagai hamba- dengan Allah SWT, jadikanlah ajang bermuhasabah, serta mencurahkan seluruh keluh kesah pada-Nya. Menjauhi rasa malas pun dapat dilakukan dengan membuat target, menjadikan hidup kita terencana, learning by design baik itu target perhari, per minggu maupun perbulan.

Nah Sahabat, selain itu berkumpulah dengan orang shalih, karena merekalah orang-orang yang senantiasa mengajak kita pada kebenaran, merekalah yang akan mengingatkan kita ketika futur menghampiri. Pasti deh manusia itu ngga bisa sendiri, ia akan senantiasa dipengaruhi oleh orang lain dalam hidup nya karena ia adalah makhluk sosial. So, untuk menunjukan hasil Ramadhan kita, kita perlu dukungan dari beberapa elemen nih; Pertama, kita butuh teman yang mendorong kita agar tidak malas dalam melaksanakan amal shalih. Ingat Guys, saat kita berteman dengan tukang parfum, maka kita akan ‘kebagian’ wanginya, begitupun jika kita berteman dengan orang-orang shalih, maka kita akan terbawa pada kebaikan. Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita agar berteman dengan orang shalih.

“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.” (HR. Al-Bukhari no. 5534, Muslim no. 2628).

Kedua, kita juga butuh lingkungan yang mendorong kita pada ketakwaan. Karena harus kita pahami bersama bahwa masyarakat terbentuk dari pemikiran, perasaan, dan peraturan yang standarnya sama dalam menjalani kehidupan. Tentunya harus berasal dari standar yang sama dan shohih yaitu Islam, ketika hal tersebut bukan berasal dari Islam maka kasus di masyarakat misalkan adalah zina –yang notabene harusnya dihukum cambuk atau rajam- maka masyarakat malah menyikapi kasus zina tersebut dengan hukum penjara, diacuhkan, atau bahkan dinikahkan. Inilah mengapa diperlukannya masyarakat yang menjadikan pemikiran, perasaan dan peraturan dengan standarnya Islam.

Ketiga, harus ada negara yang mengkondisikan ketakwaan penduduk suatu negara karena negaralah yang menjadi ujung tombak dalam penerapan aturan-aturan dan hukum di masyarakat –yang didalamnya ada individu- bisa kita bayangkan, bagaimana saat negara menghalalkan riba bahkan dijadikan penopang dalam ekonomi negara, maka mau tidak mau seluruh masyarakat menjalankan riba juga. Padahal kita ketahui sendiri bahwa dosa terkecil dari riba adalah seperti menzinahi ibu kandung sendiri. Naudzubillah. Sungguh, negara pun harus bertakwa.

Sahabat dengan suasana yang mendukung akan menjadikan keimanan yang tinggi seperti yang biasa terjadi saat bulan Ramadhan di setiap harinya, kapanpun dan dimanapun. Nyatanya kondisi ini pernah terjadi saat Rasulullah saw memimpin negara Madinah hingga 13 abad berikutnya. Maka sekarang, saat dimana penerapan aturan yang digunakan bukan berasal dari Islam yang harus kita lakukan –sebagai hamba yang ingin benar-benar bertakwa- adalah memperjuangkan kembali tegaknya institusi dimana Al-Qur’an dan As-sunah lah satu-satunya aturan yang digunakan yakni dalam institusi negara Khilafah Islamiyah yang telah dijanjikan oleh Allah Swt akan tegak kembali. Inilah hasil Ramadhan kita, menjadi hamba yang benar-benar bertakwa dengan memperjuangkan penerapan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu’alam bi ash-shawab

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Jangan Tancapkan Panah Cintamu pada Cinta yang Semu

CINTA. Siapapun manusia yang mendengar kata tersebut ia tidak akan berpikir jauh dari yang namanya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *