BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 29 : Meraih Kemenangan di Hari Raya ‘Idul Fitri

Tausiyah 29 : Meraih Kemenangan di Hari Raya ‘Idul Fitri

Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Agung, Maha Tinggi, dan Maha Mulia. Kepada-Nya segenap makhluk bergantung dan hanya kepada-Nya segala sesuatu akan kembali. Dialah al-Khaliq al-Mudabbir, Dzat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan seluruh aturan-Nya yang utuh dan sempurna. Dialah al-Musyarri’, Dzat yang Maha Pembuat hukum, yang hukum-hukum-Nya membawa rahmat bagi semesta alam.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Besar Muhammad Saw.; keluarganya, para shahabatnya, serta para pengikutnya yang tetap istiqamah berjuang untuk menegakkan dan menjalankan hukum-hukum Allah Swt., serta menyebarkan risalah-Nya ke seluruh penjuru dunia hingga di akhir masa.

Saudaraku, pada hari raya ‘idul fitri, gema takbir membahana saling bersahutan di seluruh penjuru bumi. Perasaan bahagia bercampur kesedihan menjadi satu di hari itu. Bahagia karena hari itu adalah hari raya kaum muslim seluruh dunia. Pada hari itu kaum muslim berkumpul bersama keluarga, kerabat dekat dan para tetangga berulang-ulang mengucapkan takbir kepada Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Mereka semua mengagungkan Allah Swt, al-Khaliq yang menciptakan manusia. Dialah yang memberikan banyak nikmat kepada makhluk-makhlukNya. Apalagi Allah Awt. telah berjanji untuk memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang telah menyelesaikan shaum.

Di sisi lain kitapun bersedih. Ya, bersedih karena belum banyak amal shalih yang kita lakukan di bulan Ramadhan yang akan segera berlalu, bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah Swt.

Juga kesedihan pun muncul saat kita menengok kenyataan kaum muslim sekarang. Pertama, dalam bidang agama. Gerakan sekularisasi berskala global sedang berupaya menyingkirkan syari’at Islam dari tengah-tengah umat. Negara-negara kapitalis dibawah komando Amerika mengeluarkan dana yang tidak terbatas untuk membawa kaum muslim ke dalam jurang sekularisme yang mereka jajakan.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (QS. at-Taubah: 32).

Kedua, dalam bidang politik. Pemerintahan baru yang belum terbentuk setelah rangkaian pemilu yang melelahkan dan menyedot sumber daya rakyat dan menghabiskan triliunan uang negara kemarin, tampaknya masih akan tetap bertumpu pada rel sekularisme. Program yang ditawarkan semasa kampanye menunjukkan bahwa solusi terhadap berbagai persoalan di dalam negeri sama sekali mengesampingkan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Koalisi-koalisi yang ada juga lebih mengutamakan perebutan kekuasaan dan kepentingan pribadi dan kelompok mereka. Padahal mereka dipilih oleh bangsa dan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini bukan untuk itu.

Ketiga, dalam bidang ekonomi. Mereka yang diserahi mengurus perekonomian khususnya perdagangan dan perencanaan pembangunan nasional dalam Kabinet adalah bagian dari mesin kapitalisme global. Kemungkinan besar sistem perekonomian Indonesia akan tetap berkiblat kepada gembong kapitalis AS dan China yang selama ini telah ‘berhasil’ meningkatkan kesengsaraan masyarakat. Artinya, penjajahan ekonomi kapitalisme global masih akan terus mencengkram kuat perekonomian Indonesia.

Keempat, dalam bidang budaya. Kapitalisme tidak hanya menjual sekularisme dalam bidang ekonomi dan politik tapi juga mengobral tatanan budaya hedonistik (serba boleh). Sebagian besar budaya yang dilegalkan di negeri ini mengusung berbagai bentuk kemaksiatan. Media TV dan media cetak secara rutin menemani generasi muda muslim untuk mengajarkan budaya maksiat. Keadaan menjadi semakin parah karena pemerintah justru memberikan support meskipun dengan malu-malu.

Saudaraku, ampunan Allah bagi orang-orang yang shaum tentunya harus disertai dengan upaya bertaubat kepada Allah Swt. Adalah mustahil kita mendapat ampunan Allah Swt, sementara kita tetap berbuat maksiat selepas Ramadhan. Jadi kunci turunnya ampunan Allah adalah Taubat. Dengan taubat inilah Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita. Firman Allah Swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taubatlah kamu kepada Allah dengan tobat yang tulus dan ikhlas, mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu…” (QS. at-Tahrim: 8).

Taubat yang sebenar-benarnya adalah menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan dimasa lampau dan tidak mengulanginya lagi, serta memperbanyak melakukan amalan shalih. Sebab amalan shalih inilah yang akan membantu menggugurkan dosa-dosanya.

Firman Allah Swt.,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya kebajikan itu melenyapkan dosa (kejahatan). Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hûd: 114).

Tentu saja banyak dosa yang telah kita lakukan selama ini. Mungkin sholat kita belum sempurna, mungkin kita pernah berdusta, menggunjing, merendahkan orang lain, dan mungkin kita pernah menyakiti orang lain bahkan mungkin juga kita pernah menyakiti orang yang sangat mencintai kita yakni ayah dan ibu kita. Oleh karena itu, pada hari raya idul fitri yang akan kita lalui, bersegeralah meminta maaflah kepada orang-orang yang pernah anda sakiti, anda rendahkan, atau anda gunjingkan.

Selain kita melakukan dosa dan kemaksiatan yang sifatnya personal, selama ini kita juga melakukan dosa dan kemaksiatan yang sifatnya kolektif. Meskipun dosa ini merupakan dosa besar, tapi kita sering tidak merasa bersalah dan melupakannya. Padahal dosa besar ini berpengaruh besar terhadap masyarakat dan kaum muslim secara keseluruhan. Dosa yang kita lakukan ini tidak hanya merugikan diri kita, tapi telah menjerumuskan kaum muslim pada kehinaan, penderitaan, kemiskinan dan kebodohan yang berkepanjangan. Beberapa dosa besar dan kemaksiatan kita antara lain:

Pertama, tidak menegakkan hukum-hukum Allah —syari’at Islam— secara kâffah dan menyeluruh. Tidak diterapkannya hukum-hukum Allah. Sebutan fasik, zalim, dan kafir diberikan oleh Allah Swt. kepada mereka yang tidak mau tunduk pada aturan Allah Swt. Firman Allah Swt.,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)

…lalu siapa saja yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124).

Kedua, tidak turut serta dalam perjuangan menegakkan Dinullah. Dosa kedua yang dilakukan oleh umat sekarang ini adalah berdiam diri, tidak ikut serta dalam memperjuangkan Dinullah, menegakkan aqidah dan syariah-Nya. Padahal memperjuangkan Dinullah adalah wajib bagi kaum muslim.

Marilah kita benar-benar bertaubat, disamping meninggalkan perbuatan maksiat yang secara pribadi kita lakukan, kita juga harus taubat dari dua dosa diatas. Sebab sulit kita meraih kemenangan di bulan Ramadan ini, mendapat ampunan dari Allah Swt, sementara kita tetap melakukan dua dosa besar diatas. Marilah kita bersegera mengharapkan ampunan Allah Swt. dan Surganya. Firman Allah Swt:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegaralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-‘Imran: 133).

Karena itu, marilah kita jadikan hari Idul Fitri, menjadi saat yang tepat bagi kita untuk tidak lagi bermaksiat kepada Allah Swt. Kita harus meninggalkan kemaksiatan kita dengan kembali menegakkan syari’at Islam Untuk itu wajib bagi kita untuk terlibat langsung dalam upaya memperjuangkan agama Allah ini. Saat itulah kita meraih kemenangan yang sejati, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah Swt.:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)

 “…dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. ar-Rûm: 45). []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *