BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 27 : Muhasabah Ramadhan, Sudahkah KIta Meraih Derajat Takwa

Tausiyah 27 : Muhasabah Ramadhan, Sudahkah KIta Meraih Derajat Takwa

Kaum muslim yang dirahmati Allah Swt. Bulan Ramadhan sebentar lagi akan berlalu. Saat ini kaum muslim bersiap-siap menyambut hari raya ‘idul fitri dengan mengumandangkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid serentak sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah Swt.

Namun ada juga rasa sedih di hati kita. Sebab bulan Ramadhan yang penuh barakah, rahmat, ampunan dari Allah akan segera berlalu. Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah memberikan kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri. Bulan dimana Allah Swt. memberikan banyak kasih sayang-Nya kepada kaum muslim. Bulan dimana Allah Swt. menjanjikan kepada kita, bagi orang-orang yang shaum, ampunan. Ampunan terhadap dosa-dosa kita sebelumnya.

Bisakah kita disebut berhasil dan meraih kemenangan padahal Ramadhan kita tidak banyak berpengaruh terhadap penyelesaian persoalan umat. Apakah pantas kita disebut berhasil sementara umat tetap saja hidup menderita. Musuh-musuh Allah, kaum kuffar, masih saja membunuhi kaum muslim. Penguasa-penguasa di negeri-negeri Islam, masih saja tidak melindungi rakyatnya. Mereka juga tidak peduli apakah kebutuhan pokok rakyatnya terjamin atau tidak. Bahkan penguasa-penguasa negeri Islam lebih mementingkan keridhoan negara-negara imperialis, meskipun harus memenjarakan, menzhalimi, bahkan membunuh rakyatnya sendiri.

Hal yang sama terjadi pada partai politik yang lebih sibuk bertikai, saling berebut kursi, saling menipu demi kekuasaan dan kedudukan, juga demi harta. Kenapa umat Islam masih diliputi oleh kemiskinan dan kebodohan. KKN dan berbagai penyimpangan pun masih merajelala. Belum lagi perjudian, pornografi, pelacuran, masih saja berjalan, bahkan di bulan Ramadan sekalipun. Kriminalitas seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, dan lain-lain masih merupakan hal yang sering kita saksikan.

Negara-negara asing juga merampas kekayaan kaum muslim, mengeksploitasinya, dengan cara-cara licik. Jadilah negeri Islam, yang kaya dengan kekayaan alam, tapi penduduknya hidup miskin menderita. Apa yang salah dari kita?

Berkaca kepada kehidupan Rasulullah, wajar kalau umat Islam dahulu mendapat kemuliaan dan kejayaan di sisi Allah Swt. Sebab Ramadhan mereka dijadikan ajang untuk mewujudkan Islam sebagai agama ideologis. Agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, menyelesaikan seluruh persoalan manusia mulai dari pribadi, keluarga, sosial, ekonomi, pemerintahan, politik luar negeri, sanksi-sanksi pelanggaran hukum, masalah pertahanan dan keamanan. Rasulullah dan para Sahabat sangat memahami arti takwa yang sesungguhnya.

Sementara sekarang, kita tidak lagi menjadi masyarakat yang bertakwa secara utuh. Padahal ketakwaan adalah kunci dimana Allah Swt. akan menurunkan berkah-Nya dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. al-A’raf: 96)

Ini berarti kita harus mengkoreksi pencapaian target Ramadhan kita. Apakah kita benar-benar sudah mencapai derajat hamba Allah yang bertakwa. Kata-kata takwa, sangat disayangkan, sering kali menjadi sekedar retorika ritual yang berulang-ulang tanpa kemudian dipahami secara utuh dan menyeluruh oleh kaum muslim. Apa yang salah dari pemahaman dan wujud ketakwaan kaum muslimin saat ini?

Wujud ketakwaan itu adalah ketertundukannya kepada Allah Swt. dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Swt. meminta kepada setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya, agar bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa.  Dia Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(QS. ali-‘Imran: 102).

Al-Ustadz Muhammad Ali As-Shabuni dalam Shofwatut Tafaasiir juz I hal. 200 mengatakan ‘haqqa tuqaatih’ maksudnya adalah dengan menjauhi segala bentuk kemaksiatan (kedurhakaan) kepada-Nya.

Jadi wujud  takwa kepada Allah Swt. adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara.  Allah Swt. menuntut penyerahan jiwa dan raga orang-orang mukmin kepada Islam secara total, kaaffah.  Dia Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. al-Baqarah: 208).

Takwa seharusnya juga diwujudkan oleh negara dengan menerapkan hukum-hukum Allah Swt. Ketakwaan penguasa juga seharusnya tercermin dari tanggung jawab mereka untuk mengurusi urusan-urusan rakyat. Sebab Rasulullah bersabda:

فَاْلإِمَامُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَاعِيَّتِهِ

“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah takwa yang sesungguhnya, yakni menjalankan aturan Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan kita. Baik dalam persoalan individu, keluarga, ataupun negara. Ketakwaan yang total dan menyeluruh inilah yang bisa memberikan pengaruh nyata di tengah-tengah umat. Menyelesaikan persoalan umat dan jalan keluar dari persoalan kehidupan kita. Sebagaimna firman Allah Swt. :

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. at-Thalâq: 2-3).

Tidak hanya itu, ketakwaan yang sesungguhnya inilah yang akan mengantarkan kaum muslim ke surga Allah Swt. yang sangat dirindu-rindukan oleh setiap muslim. Firman Allah Swt.,

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ
عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.(QS. ar-Ra’d: 35). []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *