BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 26 : Mempersiapkan Agenda Setelah Ramadhan

Tausiyah 26 : Mempersiapkan Agenda Setelah Ramadhan

Idul Fitri atau Lebaran harus dipandang sebagai kelahiran kembali orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Swt. dan menjelma menjadi orang bertakwa. Lebaran bukanlah akhir dari ketaatan, melainkan awal dari ketakwaan baru. Karenanya, lebaran akan bermakna hanya jika setiap muslim menampakkan ketakwaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Di antara aktivitas yang lahir dari ketakwaan dan akan menjadikan Idul Fitri bermakna tersebut adalah:

  1. Lebih taat kepada Allah Swt. setelah Ramadhan

Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin termasuk rugi. Orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin merupakan orang yang celaka. Satu-satunya orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin; bulan sekarang lebih baik daripada bulan yang lalu. Karena itu, orang yang memahami hal ini akan menjadi orang yang lebih taat dengan ketakwaannya yang baru tersebut setelah Ramadhan. Dia cepat dalam melakukan ketaatan untuk meraih ampunan dan surga-Nya.  Dia selalu menunaikan firman Allah Swt.:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.  (QS. Ali Imran: 133).

  1. Memelihara amalan-amalan rutin Ramadhan

Shaum, shalat, zikir, sedekah, membaca dan mengkaji al-Quran, shalat berjamaah, istighfar, bangun malam, memperbanyak amalan sunah, dan aktivitas lain yang selama ini dilakukan pada bulan Ramadhan dilakukan pula di luar Ramadhan. Semangat untuk taat pada bulan Ramadhan tetap dikobarkan setelah itu. Karenanya, semangat dalam mencegah diri dari perbuatan maksiat anggota tubuh (mata, telinga, lisan, tangan, kaki) serta akal dan hati, keikhlasan, kesabaran, keistiqamahan, semangat jihad fi sabîlillâh, dan semangat dakwah akan terus menyala bahkan nyalanya lebih besar lagi sejak lebaran.

  1. Lebih meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah

Allah Swt. telah menjanjikan akan mengampuni dosa orang-orang yang melakukan shaum dengan penuh keikhlasan. Namun, bila seseorang memiliki kesalahan terhadap sesama manusia maka orang tersebut diperintahkan untuk meminta maaf kepadanya. Pada sisi lain, saat Ramadhan pun hubungan antar sesama mukmin demikian amat menjadi penentu kualitas puasa. Bila ada orang yang mengajak bertengkar, ia diperintahkan tidak meladeninya, dengan menyatakan, “Aku sedang berpuasa.” (HR. Muslim dan Ahmad). Perkataan palsu dan perbuatan palsu menyebabkan Allah tidak mempedulikan puasanya. (Sebagaimana HR. Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah). Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. at-Tirmidzi). Besarnya balasan orang yang memberi buka orang yang sedang berpuasa. Semua ini mengisyaratkan nilai hubungan persaudaraan dalam Ramadhan. Di sinilah letak pentingnya terus menjalin hubungan silaturahmi dengan famili dan ukhuwah islamiyah dengan masyarakat secara keseluruhan.

  1. Lebih meningkatkan upaya mengetahui hukum-hukum Allah Swt. dengan cara menuntut ilmu

Setiap bulan Ramadhan, Nabi Saw. didatangi Malaikat Jibril untuk mengajarkan al-Quran. Kata Nabi Saw., “Siapa saja yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan niscaya Dia akan memahamkannya dalam perkara agama (dîn).” (HR al-Bukhari). Setiap Muslim yang berharap lebarannya lebih bermakna akan terus meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang hukum Allah Swt.

  1. Lebih giat berdakwah dalam menegakkan syariah

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak mungkin petunjuk itu sampai bila tidak didakwahkan. Atas dasar inilah dakwah merupakan karakter kaum mukmin.

  1. Terus bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (tawbatan nashûhâ)

Walaupun Allah Swt. menjamin mengampuni orang-orang yang benar-benar puasa Ramadhan, kaum mukmin tidak akan terlena dengan itu.  Mereka tetap bertobat sebagai salah satu ciri orang bertakwa seperti tercantum dalam firman Allah Swt.,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka;  siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui (QS. Ali Imran: 135).

Sekali lagi, hasil dari Ramadhan adalah ketakwaan. Apabila sikap pasca Ramadhan tidak menunjukkan meningkatan ketakwaan, maka kita selayaknya merenungkan sabda Rasulullah Saw.,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ اْلجُوْعِ وَ اْلعَطَشِ

Banyak di antara orang yang berpuasa tetapi hasilnya hanya lapar dan dahaga. (HR. Ibn Huzaimah).

  1. Menjaga agar tetap istiqamah di jalan Allah

Menurut makna bahasa, al-istiqaamah bermakna al-i’tidaal (lurus). Jika dinyatakan “istaqaama lahu al-amr”, maknanya adalah tegak lurus. Di dalam Tafsir al-Baidlawiy, Imam Baidlawiy, mengutip riwayat dari Khulafaur Rasyidin, menyatakan, “Istiqamah adalah al-tsabat (teguh) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh kewajiban.” (Imam al-Baidlawiy, Tafsir al-Baidlawiy, juz 5/114]

Pada dasarnya, Allah swt telah mewajibkan Rasulullah saw dan kaum mukmin untuk selalu istiqamah di jalan Allah Swt.   Di dalam sebuah ayat, AllahSwt. Berfirman,

َاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS. Hud: 112).

Imam Qurthubiy menjelaskan; ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Saw. dan kepada umatnya untuk istiqamah.  Menurut Ibnu ‘Abbas, tak ada ayat yang diturunkan kepada Nabi saw yang lebih berat dan sulit dibandingkan surat Hud ayat 112. Oleh karena itu, ketika beliau Saw. ditanya para shahabat, “Sungguh, anda cepat sekali beruban”.  Rasulullah saw menjawab,”Aku beruban karena surat Hud dan suadara-saudaranya”.(Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 9/107)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa istiqamah di jalan Allah; yakni selalu konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, tanpa ada pengecualian.  

Renungan

Zaman Nabi Saw. merupakan contoh terbaik untuk kita semua. Idul Fitri pada zaman Rasul merupakan hari raya yang kental dengan penghambaan diri kepada Allah Swt. Selesainya kita menjalankan shaum satu bulan penuh, saat Idul Fitri digemakan takbîr sebagai wujud pengagungan Allah Swt., ditunaikan shalat sunnat, dilangsungkan khutbah, bahkan saling bertemu satu sama lain sehingga orang-orang menempuh jalan pulang berbeda dengan jalan yang dilaluinya ketika berangkat. Pada saat Idul Fitri juga para shahabat laki-laki dan perempuan banyak mengeluarkan sedekah. Pasca Ramadhan para sahabat bukannya santai-santai melainkan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui berbagai ketaatan termasuk dakwah dalam menegakkan syariah Islam.

Walhasil, orang yang akan mendapatkan makna Lebaran sebenarnya adalah orang yang berhasil meraih ketakwaan dengan puasanya itu. Tanpa takwa, Lebaran hanyalah sebuah kehampaan. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *