BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 25 : Idul Fitri dan Kesatuan Umat

Tausiyah 25 : Idul Fitri dan Kesatuan Umat

Setiap usai shaum Ramadhan kaum muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Orang Indonesia menyebutnya Lebaran. Kata Nabi Saw., Idul Fitri ini merupakan hari raya umat Islam. Anas bin Malik berkata bahwa dulu pada zaman Jahiliyah bangsa Arab memiliki dua hari dalam setahun saat mereka bermain dan bersuka ria.  Ketika Nabi Saw. datang ke Madinah beliau bersabda:

كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ اْلأَضْحَى

Dulu kalian memiliki dua hari saat bermain-main pada keduanya. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik daripada kedua hari raya tersebut, yaitu Hari Raya berbuka (Idul Fitri) dan Hari Raya Kurban (Idul Adha). (HR. an-Nasa’i).

Kaum mukmin yang memahami Ramadhan sangat ingin agar sepanjang tahun Ramadhan terus, bahkan kalau perlu tidak usah ada hari raya. Ramadhan saja terus. Mereka tidak merasakan puasa Ramadhan sebagai beban memberatkan. Rasa seperti ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., sebagaimana dituturkan Ibn Mas‘ud:

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي اَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَّةَ كُلَّهَا

Sekiranya para hamba (kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadlan, niscaya umatku mengharapkan Ramadlan terus ada sepanjang tahun. (HR Abu Ya‘la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami).

Sehingga, kegembiraan pada bulan Ramadhan bukanlah karena pesta dan hiburan; bukan pula karena telah bebas dari kungkungan puasa. Sebab, kebahagian seperti itu merupakan kebahagiaan yang lahir dari keterpaksaan, atau setidaknya, bahagia jauh dari kewajiban. Kebahagiaan yang ada adalah kebahagiaan karena telah berhasil menunaikan salah satu kewajiban dan kesiapan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban berikutnya. Kebahagiaan tersebut lahir dari:

Pertama, harapan akan bertemu dengan Allah Swt. penuh rasa senang, gembira, dan bahagia. Puasa yang telah dijalaninya dengan baik akan mengantarkannya untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, bukan kebahagiaan sehari saat Idul Fitri semata, melainkan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.  Kebahagiaan demikian dilandasi oleh sabda Rasulullah Saw.:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ         

Bagi orang yang puasa ada dua kebahagiaan yang membahagiakannya. Ketika berbuka (termasuk berbuka pada saat Idul Fitri, pen.) ia bahagia dan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya ia pun bahagia karena puasanya itu. (HR. al-Bukhari).

Kedua, kebahagiaan akan ampunan dari Allah Swt. yang diberikan kepadanya. Shaum dan qiyâmul lail yang telah ia lakukan penuh kesungguhan diyakini akan menjadi wasilah diampuninya dosa.  Allah Swt. berjanji untuk memberikan ampunan tersebut. Rasulullah Saw. menegaskan:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (balasan Allah Swt.) niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. al-Bukhari).

Di sisi lain, kondisi umat Islam saat ini dalam kondisi yang tidak bersatu. Bersama merayakan Idul Fitri tetapi berpisah lagi dalam sisi kehidupan yang lain. Padahal kesatuan umat Islam merupakan suatu kewajiban atas kaum muslim —sebagaimana kewajiban shalat, shaum, dan jihad— sesuai firman Allah Swt.:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…” (QS. Ali-‘Imran: 103).

Rasulullah Saw. dalam masalah ini bersabda: “Barangsiapa mendatangi kalian —sedang urusan (kehidupan) kalian ada di bawah kepemimpinan satu orang (Imam/Khalifah)— dan dia hendak memecah belah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia!” (HR. Muslim).

Dalil di atas menegaskan adanya kewajiban bersatu bagi kaum muslim atas dasar Islam (hablullah), bukan atas dasar kebangsaan atau ikatan palsu lainnya. Nash-nash di atas juga mewajibkan kaum muslim untuk hidup di bawah satu kepemimpinan. Dalil-dalil di atas juga menegaskan keharaman berpecah-belah dan bercerai-berai. Barangsiapa yang berupaya untuk memecah-belah umat Islam menjadi beberapa negara, maka sanksi syar’i baginya adalah jelas dan tegas.

Dengan berjuang secara ikhlas dan bersungguh-sungguh, InsyaAllah, cita-cita ini akan tercapai, sesuai janji Allah SWT:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa…” (QS. an-Nûr: 55). []

 

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

One comment

  1. terim kasih udah shre articlenya

    smoga mempersatukan umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *