BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 24 : Kembali ke Fitrah, Kembali ke Syariah

Tausiyah 24 : Kembali ke Fitrah, Kembali ke Syariah

Secara bahasa, fitrah berasal dari kata fathara– yafthuru–fathr[an] wa futhr[an] wa fithrat[an] yang berarti: pecah, belah, berbuka, mencipta. Jika dikatakan,  Fathar Allâh, artinya Allah menciptakan. Ar-Razi dalam kitab Mukhtâr as-Shihâh, juz. I hlm. 212, menuturkan riwayat dari Ibn Abbas ra. yang berkata, “Aku tidak tahu apa arti, Fâthir as-samawât (Pencipta langit) hingga datang kepadaku dua orang Arab Baduwi yang sedang berselisih mengenai sumur. Salah seorang berkata, ‘Fathartuhâ,” yakni Ibtadâ’tuhâ (Aku yang memulai [membuat]-nya. Jadi, menurut orang-orang Arab asli, fathara artinya memulai, mencipta, atau mengkreasi; dan fithrah artinya ciptaan. Allah Swt. berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar-Rum: 30).

Imam al-Qurthubi, mengutip gurunya, Abu Abbas, menyatakan, “Ayat tersebut mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan qalbu (akal) anak Adam siap sedia menerima kebenaran sebagaimana mata diciptakan siap untuk melihat dan telinga siap untuk mendengar.  Selama qalbu anak Adam tetap dalam fitrahnya itu, maka ia akan mengenali kebenaran. Agama Islam adalah agama yang benar (Tafsîr al-Qurthubi, juz 14 hlm. 29).

Menurut Ibn Atsir dalam kitab Al-Fâ’iq juz 3 hlm. 128, fitrah itu tidak lain adalah karakteristik penciptaan manusia dan potensi kemanusiaan yang siap untuk menerima agama. Oleh karena itu, Imam Zamakhsyari mengatakan, fitrah itu menjadikan manusia siap sedia setiap saat menerima kebenaran dengan penuh sukarela, tanpa paksaan, alami, wajar, dan tanpa beban.  Seandainya setan jin dan setan manusia ditiadakan, niscaya manusia hanya akan memilih kebenaran itu.

Ayat di atas seakan menyatakan, “Hadapkanlah wajahmu pada agama Allah dengan lurus. Tetaplah kamu di atas fitrahmu, yaitu tetaplah dalam karakteristik penciptaanmu dan potensi kemanusiaan dalam dirimu yang menjadikan kamu siap menerima kebenaran.  Islam adalah agama yang benar. Niscaya kamu akan siap menerima Islam dengan sukarela, tanpa paksaan, wajar dan tiada beban.”

Kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan menetapi fitrah, yakni menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran. Jadi, kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan terus mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran.

Puasa Ramadhan dan serangkaian aktivitas Ramadhan sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita menyadari dan memahami fitrah kita. Kita sudah dikondisikan dan dilatih untuk menetapi fitrah. Ramadhan itu telah menjadi riyâdhah badaniyah sekaligus riyâdhah bâtiniyah yang mengharuskan seorang muslim lebih merasakan dan memahami fitrahnya.  Fitrah itu akan berkembang, menjadikan dirinya selalu siap menerima kebenaran. Puasa akan menjadikan ia lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai makhluk yang diliputi kelemahan dan keterbatasan. Dengan begitu ia akan lebih merasa membutuhkan Penciptanya, membutuhkan petunjuk dari-Nya.

Fitrah mengharuskan manusia hanya menerima agama, ideologi, dan sistem hidup yang memang sesuai dengannya. Fitrah manusia mengharuskan untuk menolak dan membuang agama, ideologi, dan sistem hidup yang mengesampingkan fitrah atau bertentangan dengan fitrah. Manusia akan terdorong oleh fitrahnya untuk mencari agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah. Kenyataannya, di dunia ini hanya Islamlah agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia.

Agama-agama selain Islam yang notabene hanya mengatur aspek spiritual dan ritual penyembahan itu realitanya tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian, fitrah tidak bisa menerima agama yang bersifat demikian. Di sisi lain, ideologi selain Islam, yaitu Sosialisme dan Kapitalisme, juga tidak bisa diterima oleh fitrah. Sosialisme mengatakan bahwa sang Pencipta itu itu tidak ada. Ini sangat bertentangan dengan fitrah manusia. Begitu pula Kapitalisme, walaupun mengakui adanya Tuhan, pengakuannya bersifat semu; Kapitalisme tidak menganggap adanya peran Tuhan dalam masalah dunia. Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia dalam keberadaannya yang serba lemah dan memerlukan aturan dari Tuhan untuk semua aspek fitrahnya.

Dengan demikian, kembali ke fitrah adalah kembali pada Islam sebagai agama dan ideologi yang melahirkan tatanan kehidupan. Itu artinya, kita harus kembali pada akidah Islam dan syariah atau sistem yang terpancar dari akidah Islam itu.

Kalau manusia menyimpang dari fitrahnya, maka akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:

  • Manusia menjadi lebih rendah dari pada binatang

Fitrah merupakan ciri kemanusiaan manusia. Jika fitrah itu buang, sebagian atau keseluruhan, sama saja menghilangkan ciri kemanusiaan; manusia akan tercerabut dari sifat kemanusiaannya. Ketika manusia tidak menggunakan penglihatan, pendengaran dan hati atau akalnya dengan benar, potensi itu tidak digunakan untuk menerima kebenaran yakni Islam, Allah menilai manusia yang demikian lebih sesat daripada binatang.

لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Mereka mempunyai kalbu, tetapi kalbu itu mereka tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka mempunyai mata, tetapi mata itu tidak mereka gunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah); mereka mempunyai telinga, tetapi telinga itu tidak mereka gunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti  binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. (QS. al-A’raf: 179).

Di sisi lain manusia juga sering bertindak melampaui batas fitrahnya. Fitrah manusia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang diliputi kelemahan dan keterbatasan. Fitrah tidak membenarkan kecuali manusia berposisi sebagai makhluk yang menyembah Penciptanya. Fitrah tidak bisa membenarkan manusia menempati posisi Tuhan sebagai Pembuat hukum (Al-Hâkim).

Kenyataan sekularistik seperti itu merupakan penyimpangan terhadap fitrah. Manusia justru menjadi budak yang diperbudak hawa nafsu dan materi. Manusia akan terjerumus ke  penghambaan terhadap hawa nafsu dan materi.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. (QS. al-Furqan: 43-44).

Aturan sekular itu jelas menyimpang dari fitrah. Kenyataannya, aturan itu dibuat hanya oleh segelintir manusia. Segelintir manusia itu telah memposisikan diri mereka sebagai Tuhan dan menempatkan seluruh manusia yang lain sebagai hamba. Ini jelas menyalahi fitrah, karena seluruh manusia dalam fitrahnya adalah sama; satu sama lain tidak layak memperbudak dan memperhamba manusia lain. Sesungguhnya itu adalah penjajahan manusia atas manusia lain.

  • Hancurnya kehidupan.

Penyimpangan terhadap fitrah, di samping telah menjadikan manusia sebagai hewan, juga menyebabkan hancurnya tatanan kehidupan di segala bidang. Dalam aspek sosial, kita ambil satu contoh saja, seks bebas.  Di AS saja sejak tahun 1973 sampai tahun 2002 telah seks bebas telah mengakibatkan 42 juta aborsi atau 4.000 perhari (http://www.guttmacher.org/pubs/2005/05/18/ab_incidence.pdf). Sekarang aborsi di AS diperkirakan 2 juta/tahun.  Jumlah ini lebih banyak dari total korban Perang Vietnam (58.151 jiwa) + Perang Korea (54.246) + Perang Dunia II (407.316) + Perang Dunia I (116.708) + Perang Sipil Amerika (498.332 jiwa) (Lihat: http://www.aborsi.org/statistik.htm).

Dalam bidang ekonomi, sistem yang menyalahi fitrah (sistem Kapitalisme), telah menyebabkan 80% kekayaan dan energi dunia dikuasai dan dinikmati oleh hanya 20% penduduk dunia, lebih khusus lagi bagian terbesarnya dinikmati oleh AS. Sehingga yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Kehancuran yang sama juga terjadi pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Kehancuran itu telah melanda seluruh bidang kehidupan manusia. Semua itu adalah akibat ditinggalkannya kebenaran, yakni Islam, serta diterapkannya sistem aturan yang menyalahi fitrah, yakni sistem Sosialisme dan Kapitalisme. Allah Swt. telah mengingatkan kita:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124).

  • Kehancuran alam.

Kehidupan yang menyalahi fitrah itu juga menyebabkan kerusakan alam. Hutan dibabat semena-mena, gunung berubah menjadi danau akibat penambangan, pulau-pulau kecil tenggelam karena pasirnya disedot untuk reklamasi, lautan porak-poranda akibat bom untuk menangkap ikan, gunung digunduli diambil kayunya, banjir pun menghancurkan berbagai desa dan kota. Keseimbangan alampun terganggu dan sesuai sunatullah, segala macam bencana alam pun selalu mengintai. Semua itu adalah pengelolaan alam ala sistem Kapitalisme yang menyalahi fitrah manusia.

Penyimpangan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang membutuhkan aturan-aturan dari sang Pencipta (syariah) terbukti membawa banyak akibat buruk. Karena itu, manusia harus segera kembali ke fitrahnya; kembali mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran. Kebenaran itu tidak lain adalah Islam. Walhasil, kembali pada fitrah adalah kembali pada akidah dan syariah Islam.[]

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *