BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz 2/158).   Disebut al-namaa’ (tumbuh), karena dengan dikeluarkannya zakat harta bisa tumbuh dan berkembang; atau bisa juga disebabkan karena pahalanya akan dilipatgandakan; atau dikaitkannya zakat dengan harta-harta yang bisa berkembang, misalnya perdagangan dan pertanian. Masih menurut Imam asy-Syaukani, disebut al-thahaarah karena, zakat bisa mensucikan jiwa dari kekikiran dan dosa. Sedangkan menurut Sayyid Saabiq, zakat bermakna al-namaa’ (tumbuh), al-thaharah (suci), dan al-barakah (keberkahan). (Sayyid Saabiq, Fiqh Sunnah, juz 1/318). Disebut zakat karena, di dalamnya ada harapan untuk mendapatkan keberkahan, kesucian diri, dan pertumbuhan harta dengan berbagai macam kebaikan. Allah Swt. berfirman;

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. (QS. At Taubah: 103).

وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.(QS. Ar Rum: 39).

Menurut pengertian syariat, zakat adalah menyerahkan sebagian harta yang sudah sampai nishab kepada kaum fakir dan lain sebagainya, tanpa ada halangan syar’iy (maani’ syar’iyy) yang menghalangi harta itu untuk berpindah kepadanya. (Imam Syaukani, Nail al-Authar, juz 2/158). Dengan kata lain, zakat adalah istilah untuk menyebut harta yang menjadi hak Allah Swt. yang diserahkan manusia kepada kaum fakir.

Sedangkan menurut ‘Abdul Qadim Zallum dalam kitab al-Amwaal fi al-Daulah al-Khilafah, hal. 145, zakat menurut pengertian syar’iy adalah hak (nilai atau jumlah) tertentu yang dikenakan pada harta-harta yang telah ditentukan pula. Zakat dianggap sebagai ibadah, seperti halnya shalat, puasa dan haji; dan ia merupakan salah satu rukun Islam. Zakat hanya dikenakan kepada orang muslim saja, dan tidak dibebankan kepada orang kafir.

Demikian juga, dapat disimpulkan dari lafadz خُذْ (ambillah!) pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 103 di atas, menunjukkan bahwa zakat itu diambil. Dan tentu pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil zakat adalah amil yang ditunjuk oleh pemerintah. Dalam catatan sejarah umat Islam, kepala negara dalam Islam (Khalifah) adalah pihak yang memiliki kewenangan untuk memungut zakat yang biasanya menugaskan amil-nya di wilayah tersebut.

‘Amilin Zakat disebut juga al-su’ah, atau al-mushaddiqun, yaitu orang-orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan zakat dari wajib zakat (muzakki), atau ditugaskan untuk mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq). Mereka berhak mendapatkan zakat walaupun kaya. Pemberian zakat ini sebagai kompensasi tugas mereka mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.

Jadi zakat merupakan ibadah kepada Allah Swt, bukan sarana untuk menanggulangi kemiskinan. Masalah kemiskinan, pada dasarnya berpangkal pada masalah pemerataan kekayaan yang tidak adil. Karena itu, Islam menekankan pengaturan pemerataan ekonomi yang adil agar ketimpangan di dalam masyarakat dapat dihilangkan. Allah Swt berfirman:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. al-Hasyr: 7).

Agar harta tersebut tidak berhenti di tangan orang-orang kaya saja, maka, melalui kesempatan Ramadhan yang suci ini, kita harus menghidupkan ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah masyarakat, mendorong mereka membelanjakan hartanya di jalan Allah, dan menjalankan kebijakan ekonomi Islam yang adil.

a. Mendorong ukhuwah islamiyah

Salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan adalah membangun kepedulian antara sesama anggota masyarakat. Dalam Islam kepedulian terhadap sesama ini diikat kokoh dengan tali persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara …” (QS. al-Hujarât: 10).

Dari Ibn Umar dituturkan, bahwa Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

Muslim itu saudara seorang muslim, dia tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya; dan siapa saja yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan, Allah SWT akan membebaskannya dari suatu kesulitan di hari kiamat…” (HR. Ahmad, Bukhâri, Muslim, Abû Dâwud, at-Tirmidzi, dan an-Nasâ’i).

Begitu pula jika ada saudara kita menderita karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kitapun turut merasakan penderitaan mereka sehingga mendorong kita untuk menolong mereka. Kepedulian terhadap sesama inilah yang sangat jarang kita temui saat ini, terlebih lagi di kota-kota besar. Kehidupan masyarakat disibukkan dengan rutinitas pekerjaan hingga perhatian mereka terhadap sesamanya terabaikan. Hal ini menjadi sekat yang menghalangi kepedulian antar anggota masyarakat. Ketidakpedulian ini diperparah dengan sikap sebagian masyarakat yang menerapkan pola hidup hedonistik dan konsumtif.

b. Membelanjakan harta di jalan Allah

Implimentasi kepedulian sosial yang dibingkai dalam ukhuwah Islamiyyah adalah dengan membelanjakan harta di jalan Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu maka itu sangat baik bagimu dan jika kamu menahannya, itu sangat jelek bagimu. Kamu tidak akan dicela karena kecukupan. Dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu, dan tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim, dari Abu Ummah Shahadi bin ‘Ajlan)

Menafkahkan harta di jalan Allah berarti mengeluarkan harta dan membelanjakannya pada hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan Allah, seperti menafkahi keluarga, mengeluarkan zakat, memberi makan fakir miskin, menghidupi anak yatim, memberikan sedekah bagi orang-orang yang membutuhkan dan memberikan harta untuk kepentingan umum.

Sebagian harta yang kita miliki sebenarnya ada yang bukan menjadi hak kita, tetapi hak orang-orang miskin. Atas dasar itu, wajar jika Allah menyuruh kita menafkahkannya untuk orang lain. Allah Swt. berfirman:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. adz-Dzâriyât: 19).

c. Penerapan kebijakan ekonomi Islam oleh negara

Di samping membangun kepedulian sosial di tengah-tengah masyarakat dengan ukhuwah Islamiyyah, kemiskinan juga harus dituntaskan melalui kebijakan ekonomi pemerintah yang tepat.

Pada dasarnya, kemiskinan yang menimpa masyarakat lebih disebabkan karena kesalahan aturannya, dalam hal ini kebijakan pemerintah. Selama ini, kebijakan ekonomi pemerintah bertumpu pada pertumbuhan ekonomi bukan pada pemerataan ekonomi. Akibatnya, meskipun berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah gagal mengurangi kesenjangan, apalagi menciptakan pemerataan ekonomi. Berbagai subsidi yang sangat dibutuhkan rakyat satu persatu mulai dikurangi dan dicabut. Sementara itu, aset-aset negara yang produktif dan menguasai hajat hidup orang banyak, dijual kepada asing. Berbagai produk perundang-undangan juga sangat menguntungkan investor asing dan cenderung merugikan rakyat kecil.

Dalam Islam, pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Kepemimpinan adalah amanah untuk mengurus orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Rasulullah Saw. mengumpamakan pemimpin laksana penggembala (ra’in). Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

فَاْلإِمَامُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَاعِيَّتِهِ

“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits Nabi Saw. di atas, seharusnya fungsi pemerintahan adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Ini berarti dalam bidang ekonomi pemerintah harus mengupayakan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya dengan mengatur distribusi kekayaan secara adil. Adapun perkara-perkara yang menjadi kebijakan dasar pemerintah untuk mewujudkan hal ini adalah sebagai berikut.

Pertama, pemerintah harus melakukan kebijakan yang bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok bagi setiap individu, seperti pakaian, makanan, perumahan. Pemerintah bertanggungjawab terhadap pemenuhan kebutuhan sandang, makanan dan perumahan kepada rakyatnya. Bagi rakyat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut, maka keluarga dekatnya berkewajiban memberikan bantuan. Jika keluarga dekatnya juga tidak mampu, maka kewajiban itu harus dipikul oleh negara.

Kedua, pemerintah menjamin kebutuhan pokok masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Karena kemiskinan juga terkait dengan masalah pendidikan, maka dalam Islam pendidikan menjadi tanggung jawab negara mulai tingkat dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sebab, dengan adanya pendidikan bagi semua orang, maka setiap anggota masyarakat dapat meningkatkan skill dan kecerdasan yang sangat dibutuhkan untuk bekerja, atau untuk bidang-bidang profesi lainnya; misalnya pembangunan dan industri negara. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *