BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Tausiyah 22 : Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Amalan Shalih

Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan dimana Allah memberikan kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri. Bulan dimana Allah Swt. memberikan banyak kasih sayangNya kepada kaum muslim. Bulan dimana Allah Swt. menjanjikan kepada kita, bagi orang-orang yang shaum, ampunan. Ampunan terhadap dosa-dosa kita sebelumnya.

Lailatul Qadar atau malam kemuliaan adalah malam yang dikabarkan oleh Allah Swt. sebagai malam kemuliaaan, dimana nilai keberkahan malam itu lebih baik dari pada seribu bulan. Malam dimana para malaikat dan malaikat Jibril turun ke dunia menebarkan salam hingga terbit fajar. Secara tegas dan jelas Allah Swt. menerangkan malam itu dalam firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 1-5).

Sebab turunnya ayat (sabab nuzul) di atas telah diterangkan dalam sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwa di masa lalu ada pemuda Bani Israil yang berjihad di siang hari dan beribadah qiyamul lail di malam hari selama seribu bulan berturut-turut. Para sahabat pun berdecak kagum terhadap amalan pemuda bani Israil itu dan membayangkan betapa besar pahala orang itu. Namun Rasulullah Saw. menyebutkan adanya pahala yang lebih besar dari itu, yakni amal ibadah seorang mukmin pada suatu malam yang disebut Lailatul Qadar.

Di samping itu Lailatul Qadar juga disebut oleh Allah Swt. sebagai malam keberkahan (lailatul mubârakah). Allah Swt. berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. ad-Dukhân: 3).

Apa keistimewaan Lailatul Qadar sehingga memperoleh kedudukan yang sangat tinggi? Ada dua sebab penting: pertama, pada malam itulah al-Qur’an diturunkan, sebagaimana firman Allah Swt.:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. al-Baqarah: 185).

Sedangkan al-Qur’an memberikan kehidupan baru bagi ummat manusia, sehingga malam itu adalah awal dimulainya kehidupan baru bagi manusia. Oleh karena itu, malam tersebut layak sekali dijadikan hari yang mulia. Abu Bakar al-Warraq mengatakan, “Malam itu dinamakan lailatul qadar karena pada malam itu turun al-Qur’an yang mempunyai kedudukan yang tinggi, dibawa oleh malaikat yang memiliki derajat yang tinggi, kepada Rasul yang mempunyai derajat yang tinggi, untuk disampaikan kepada ummat yang tinggi pula.”

Kedua, pada malam itu, turun banyak sekali malaikat yang disertai Jibril a.s. untuk memberikan ucapan keselamatan (tahiyyat) kepada orang-orang yang berpuasa (shaimin) yang ikhlas (mukhlisin) dan untuk menyaksikan amal ibadah mereka, serta untuk menebarkan salam dan rahmat kepada  penduduk bumi.

Atas dasar itu, malam itu juga disebut lailatus salam (malam keselamatan) atau lailatus syaraf (malam kemuliaan). Juga dinamakan lailatut tajalli, dimana Allah Swt melimpahkan cahaya dan hidayahNya untuk para hambaNya, orang-orang yang shaum (shaimin), dan orang-orang yang menunaikan ibadah malam.

Memang benar, keistimewaan lailatul qadar ini tak bisa dibayangkan kebesarannya. Sebab, al-Qur’an telah turun di malam itu dan ia adalah seperangkat aturan (syari’at Allah Swt.) yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan manusia. Selain itu, kedatangan beliau Saw. sendiri merupakan rahmat Allah bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiyâ’: 107).

Allah Swt juga berfirman:

حم (1) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (2) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (5) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (6)

(1) Hâ Miim (2) Demi Kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan, (3) sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (4) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (5) (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, (6) sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. ad-Dukhân: 1-6).

Adapun waktu datangnya lailatul qadar dan tanda-tanda datangnya lailatul qadar. Jelas, Lailatul Qadar turun di malam bulan Ramadhan. Hanya saja, pada malam keberapa? Inilah yang dirahasiakan oleh Rasulullah Saw. Beliau hanya memberikan isyarat untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab al-Muwattha’ dari Abi Said al-Khudri yang berkata, Adalah Rasulullah Saw.. Beri’tikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah sampai beliau pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada pagi harinya, beliau berkata, “Barang siapa turut beri’tikaf bersamaku, hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang akhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam al-qadar.” Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di puluhan yang akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Said, “Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun korma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu malam 21.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Carilah dengan segala daya upaya malam al-qadar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan.”

Dari uraian-uraian di atas menunjukkan, bahwa Lailatul Qadar tersembunyi pada sepuluh malam terakhir (asyril awakhir). Tentu ini ada hikmahnya. Menurut  para ulama salaf, penyembunyian waktu lailatul qadar adalah agar kita menghidupkan semua malam. Ini seperti hikmah Allah menyembunyikan saat ijabah di hari Jum’at supaya kita berdoa sepanjang hari. Atau seperti Allah menyembunyikan sholat wustha’ dalam sholat lima waktu, supaya kita memelihara kesemuanya. Atau Allah menyembunyikan isim a’dham (nama teragung) di antara nama-namaNya supaya kita menyerunya dengan nama-nama itu. Allah menyembunyikan mana ketaatan yang mendapat keridhaanNya supaya kita mengerjakan semua ketaatan dengan sepenuh hati. Atau Allah menyembunyikan mana maksiyat yang sangat dimarahi supaya kita menghentikan semua maksiyat itu. Atau Allah merahasiakan waliyullah (kekasih Allah) diantara para mukmin, supaya kita berbaik sangka terhadap sesama mukmin. Atau Allah menyembunyikan kedatangan kiamat supaya kita selalu siap siaga. Allah menyembunyikan ajal manusia supaya kita selalu dalam persiapan.

Adapun upaya kita menghidupkan malam al-qadar ialah dengan cara mengerjakan ketaatan, bertahajjud, beristighfar, berdzikir, membaca al-Qur’an serta beri’tikaf, menambahkan amalan ihsan, memperbanyak shadaqah, dan dakwah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubadah Ibn Shamid: Rasulullah mengabarkan kepada kami tentang lailatul qadar. Beliau berkata, “Dia berada di dalam bulan Ramadhan, di puluhan yang akhir,  malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadhan. Barang siapa mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap keridlaan-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang.

Melihat besarnya pahala pada malam kemuliaan itu, alangkah baiknya seorang muslim menghidupkan Lailatul Qadar.

Menghidupkan malam al-qadar adalah dalam rangka melatih ketaatan dalam menerima seluruh aturan Allah, beristighfar dari segala dosa termasuk dosa kolektif, i’tikaf untuk memelihara kemurnian islam, dan berdakwah untuk tegaknya syariah. Ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan sebagai bahan perenungan kita di malam al-Qadar.

Perkara pertama, terminal akhir dari ibadah puasa adalah agar kita mampu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Atas dasar itu, puasa harus mampu membentuk karakter untuk selalu membenci dan menjauhi perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan. Sayangnya, betapa banyak kaum muslim yang sudah melaksanakan ibadah puasa puluhan tahun lamanya, akan tetapi ia tidak pernah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah.

Perkara kedua, selama bulan ramadhan atau paling tidak malam al-qadar, harus mampu melemahkan syahwat kita, hingga akhirnya kita memiliki muyul (kecenderungan) yang baik. Kecenderungan hanya ingin berbuat baik, dan beribadah kepada Rabb-nya dengan penuh keikhlasan dan ketawadlu’an. Puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiyat. Dengan demikian, semakin lama kita berpuasa, sudah semestinya kita semakin rindu dan cinta kepada terwujudnya penerapan syariat Islam secara menyeluruh di muka bumi ini. Sudah semestinya pula, kita semakin mencintai dan hanya memberikan loyalitas Islam dan kaum mukmin.

Perkara ketiga, di malam-malam terakhir bulan Ramadhan, umat Islam harus menjadikan wahana untuk melahirkan manusia yang bisa menghindarkannya dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam.  Atas dasar itu, seorang mukmin akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi mereka.

“Sungguh, kelak kalian akan mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta; hingga jika mereka masuk ke lubang biawak kalian akan mengikuti mereka.” Para shahabat bertanya, “Apakah mereka itu adalah orang Yahudi dan Nashrani?” Rasulullah Saw. menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (al-Mustadrak dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal).

Itulah beberapa perkara yang sepatutnya menjadi bahan muhasabah kita di malam al-qadar, sembari terus bermunajat agar Allah Swt. mengangkat kita dari segala keburukan yang mengelilingi kita, untuk diganti dengan keadaan yang penuh dengan barakah. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *