BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 21 : I’tikaf Sarana untuk Melatih Ketaatan

Tausiyah 21 : I’tikaf Sarana untuk Melatih Ketaatan

 

Diantara rangkaian ibadah di dalam bulan suci Ramadhan yang senantiasa dipelihara dan dianjurkan oleh Rasulullah Saw. adalah i’tikaf. Setiap muslim disunnatkan untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi kaum Muslim untuk memelihara keislamannya, khususnya di tengah arus globalisasi, materialisasi, dan informasi yang sarat dengan pengaruh-pengaruh negatif.

Barangkali, orang yang belum pernah melakukan i’tikaf, membayangkan i’tikaf sebagai ibadah yang sangat berat dan sulit. Padahal, i’tikaf sangatlah mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah SWT, yakni orang yang mempersenjatai dirinya dengan niat ikhlas dan tekad yang sungguh-sungguh. Allah pasti akan menolong dan memudahkannya.

I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sekaligus untuk meraih malam al-Qadar.

I’tikaf adalah mengurung diri dan membatasi diri untuk hanya berbuat taat dan selalu mengingat Allah. Ia memutuskan hubungan dengan segala kesibukan-kesibukannya, dan mengurung hatinya dan jasmaninya hanya untuk Allah dan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tak terbetik dalam hatinya keinginan apapun, selain mengharap ridha Allah dan semua hal yang bisa mendatangkan keridloanNya.

Menurut Sayyid Sabbiq, dalam kitab Fiqh as-Sunnah, jld. 1, hal. 433, menyatakan, bahwa i’tikaf adalah luzûm al-syai’ wa habs al-nafs ‘alaih (mengikatkan diri pada sesuatu dan menahan diri di atasnya). Dengan kata lain, i’tikaf adalah berdiam (tinggal) di suatu tempat. Oleh karena itu, orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya bisa disebut sebagai mu’takif dan ‘akif (orang yang sedang beri’tikaf). Bgitulah penjelasan al-Fayumi dalam kitab al-Mishbahul Munir, jld. 3, hlm. 424.

Alangkah baiknya jika kita menyimak apa yang dikatakan oleh Imam Ibn Qayyim (Zâdul Ma’ad, jld. 2 hal. 86-87), beliau  berkata, “Manakala seseorang ingin berjalan di atas jalan Allah SWT dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten), semuanya sangat tergantung pada terkumpulnya unsur-unsur yang bisa memperkuat hati, kemudian menghadapkan hati tersebut kepada Allah SWT secara menyeluruh. Sebab, kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadap kepada Allah Ta’ala. Sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul, terlalu banyak bicara dan tidur, termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah kusut dan menceraiberaikan hati di setiap tempat. Hal-hal ini tentunya akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkan, menghalangi dan menghentikannya.

Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang, menjadikan Dirinya berkehendak untuk mensyari’atkan puasa bagi mereka sebagai wahana untuk mengurangi kelebihan makan dan minum; sekaligus sebagai media untuk membersihkan kecenderungan syahwat di dalam hati;  yang mana, syahwat tersebut dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah SWT.  Selain itu, Allah SWT juga mensyari’atkan i’tikaf bagi hambaNya agar mereka dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Tidak hanya itu saja, ibadah itu juga dimaksudkan agar seorang hamba bisa tetap berjalan di atas jalan Allah dengan lurus dan konsisten, hingga akhirnya ia akan memperoleh kebaikannya di dunia maupun di akhirat kelak.

Sesungguhnya disyari’atkannya i’tikaf bagi umat Islam; maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta’ala, berkumpulnya hati dengan Allah, menyendiri (berkhalwat) denganNya, memutuskan segala kesibukan dengan makhluk, dan hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hingga akhirnya, mengingatNya, kecintaan dan menghadapkan diri kepadaNya menjadi pengganti atas kesedihan hatinya dan betikan-betikannya, sehingga ia mampu mencurahkan hatinya kepadaNya. Dan seluruh keinginan dan betikan-betikan hatinya menjelma menjadi keinginan untuk selalu mengingatNya, bertafakur untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan dirinya kepada Allah. Sehingga, bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah merupakan pengganti kelembutannya terhadap makhluk. Sedangkan yang menyebabkan ia berbuat demikian, karena, kelembutan dirinya kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur; di saat sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya, dan manakala tidak ada lagi yang dapat membahagiakan dirinya selain Allah.  Sesungguhnya, inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu.

I’tikaf disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya sepanjang tahun.  Telah dituturkan dalam riwayat shahih, bahwa Nabi Saw. beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir bulan Syawwal.(HR. Bukhâri dan Muslim). Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Umar pernah bertanya kepada Nabi Saw.:

Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beri’tikaf pada malam hari di Masjidil Haram.” Beliau menjawab: “Tunaikanlah nadzarmu.” Maka Umar ra. pun beri’tikaf pada malam harinya. (HR. Bukhâri dan Muslim).

Adapun i’tikaf yang paling utama dilakukan pada bulan Ramadhan berdasarkan hadits Abu Hurairah ra; bahwasanya Rasulullah Saw. sering beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari. (HR. Bukhâri). Sedangkan waktu yang lebih utama lagi yaitu pada akhir bulan Ramadhan.  Sebab, Nabi Saw. seringkali beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. (HR. Bukhâri dan Muslim dari ‘Aisyah).

Jadi, bahwa i’tikaf merupakan sarana perenungan yang sangat efektif bagi kaum muslim untuk memelihara keislamannya, khususnya di tengah arus globalisasi, materialisasi, dan informasi yang sarat dengan pengaruh-pengaruh negatif. Maklum di tengah kehidupan yang jauh dari Islam seperti sekarang ini, sangat berat untuk memelihara keislaman kita. Kehidupan kita yang sekular telah mengajarkan kepada kita bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam kehidupan. Sehingga, tidak heran jika terjadi kebebasan di bidang budaya yang kebablasan, politik yang menghalalkan segala cara, ekonomi yang penuh dengan riba, dan pendidikan kita yang sangat mahal.

I’tikaf juga merupakan sarana melatih keikhlasan dan mengharap ridha Allah Swt. dan semua hal yang bisa mendatangkan keridhaanNya. Dalam i’tikaf, seharusnya kita banyak memohon ampun dari segala kemaksiyatan yang kita dan umat lakukan, yakni tidak menerapkan hukum Allah ta’ala. Dalam i’tikaf, kita juga seharusnya memohon kepada Allah kekuatan untuk bisa menegakkan hukum Allah Swt. Itulah bentuk kecintaan kita kepada Allah. Allah Swt. telah memberikan petunjuk yang sangat jelas, bagaimana cara mendapatkan kecintaan-Nya. Allah Swt. telah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Ali Imran: 31).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, “Ayat ini merupakan pembukti, “Siapa saja yang mengaku mencintai Allah Swt, namun ia tidak berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Nabi Mohammad Saw., maka orang tersebut hanya berdusta saja. Dirinya diakui benar-benar mencintai Allah, tatkala ia mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw., baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau Saw..” Jika teruji bahwa ia benar-benar mencintai Allah, yakni dengan cara menjalankan seluruh ajaran Muhammad Saw., maka Allah akan balas mencintai orang tersebut. Rasul Saw. bersabda: “Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan maka perbuatan itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Hasan al-Bashriy pernah berkata,” Ada suatu kaum merasa bahwa mereka telah mencintai Allah Swt, lalu, Allah Swt menguji mereka dengan firmanNya,”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Ali Imron:31). Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan, “Jika kalian mengikuti sunnah Rasulullah Saw., maka kalian akan mendapatkan keberkahan hidup”.

Saudaraku, atas dasar itu, jika kita hidup sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw., maka kita pasti akan mendapatkan kecintaan dari Allah Swt., dan kita juga pasti akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt.

Dari uraian Imam Ibnu Katsir di atas jelaslah bagi kita, jika seseorang ingin meraih dan mendapatkan kecintaan dari Allah Swt., kita mesti berbuat dan berperilaku sesuai tuntunan Islam. Jika kita berjalan sesuai dengan ajaran yang dibawa Muhammad Saw., tentu kita akan dicintai oleh Allah Swt. Sebaliknya, meskipun kita merasa mencintai dan dicintai Allah Swt., kita tidak akan mendapatkan kecintaan dari Allah Swt., selama tidak berjalan sesuai dengan ajaran Muhammad Saw.

Atas dasar itu, kita tidak boleh membuat tatacara atau ritual tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran ataupun ritual apapun yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw. tidak mungkin mengantarkan kita untuk meraih cinta Allah Swt. Hanya dengan menjalankan ajaran Islam secara konsisten dan konsekuen. Kita akan mendapat kecintaan dari Allah Swt.

Jelaslah kini, hanya ada satu cara untuk mendapatkan kecintaan dari Allah Swt; yaitu, selalu menjaga keimanan dan berperilaku sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw. Seorang yang mencintai Allah Swt akan berusaha dengan segenap tenaga untuk menerapkan aturan-aturan Allah Swt, baik yang berhubungan dengan masalah ekonomi, politik, dan sosial budaya. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *