BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 20 : Ramadhan dan Peubahan Masyarakat

Tausiyah 20 : Ramadhan dan Peubahan Masyarakat

Sebagai muslim, jika kita berkeinginan melakukan perubahan dalam masyarakat menuju pada tatanan kehidupan yang lebih baik maka, tidak boleh tidak, kita harus menengok kembali bagaimana Rasulullah saw. melakukan tahapan-tahapan dalam perubahan masyarakat. Mengapa demikian? Sebab, ada dua tuntutan yang harus kita kedepankan. Pertama, dari segi keyakinan, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya seharusnya senantiasa mengikatkan diri pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah ketetapan yang pasti dan tidak boleh ditawar-tawar lagi. Kita pun yakin bahwa cakupan aturan Allah bukan hanya dalam masalah ibadah semata, namun lebih dari itu; termasuk di dalamnya aturan bagaimana mengubah masyarakat. Karena itu, tatkala kita berkeinginan untuk mengubah masyarakat kita tidak boleh lepas dari tuntunan Rasul bagaimana mengubah masyarakat.

 Kedua, dari segi fakta , perubahan yang dilakukan Rasul adalah perubahan yang mendasar lagi gemilang. Bagaimana tidak? Masyarakat Arab jahiliah, tatkala belum masuk Islam, terkenal suka membunuh, berjudi, mabuk-mabukkan, berperang, dan merendahkan martabat perempuan. Dalam waktu singkat, Rasulullah saw. kemudian berhasil mengubah mereka menjadi masyarakat yang beradab, bermartabat, dan disegani. Ya, hanya dalam satu generasi, bangsa Arab yang jauh terbelakang, berubah menjadi bangsa muslim yang maju dan menjadi pelopor peradaban. Adakah yang lebih hebat dari perubahan yang terjadi pada diri mereka?

Walhasil, bagaimana Rasulullah mengubah masyarakat itulah yang kemudian kita jadikan tuntunan dalam melakukan perubahan masyarakat. Tidak boleh tidak.

Memang benar, bahwa perubahan haruslah mendapat dukungan dari masyarakat. Tidak logis jika kita menginginkan perubahan di dalam masyarakat namun masyarakat sendiri tidak mendukungnya. Oleh karena itu, masyarakat harus dilibatkan secara aktif, bahkan harus menjadi pelaku utama perubahan; tak terkecuali perubahan kea rah masyarakat yang islami.

Banyak contoh perubahan masyarakat tanpa dukungan masyarakat akan menemui kegagalan di tengah jalan. Tengok saja apa yang terjadi di Afganistan. Walau Taliban sudah berhasil memegang tampuk pemerintahan dan berusaha menerapkan syariat Islam—terlepas sempurna atau tidak—namun karena masyarakatnya tidak dipersiapkan dan tidak mendukung , ditambah hantaman AS maka perjalanan pemerintahannya pun tidak lama.

Demikian juga yang terjadi di Aljazair. Walau sudah menang dalam pemilihan umum secara mutlak pada putaran pertama, namun karena militer (sebagai pemilik kekuatan/ ahlul quwwah ) masih berpihak pada rezim yang ada, maka kemenangan tersebut akhirnya dibatalkan. Bahkan yang terjadi adalah mereka (para aktivis Islam) justru dipenjarakan. Hal yang sama juga terjadi di Palestina dan Mesir. Artinya, bukan hanya masyarakat saja, namun kalangan militer dan tokoh-tokoh pejabat negara yang ikut menentukan nasib suatu negeri pun harus ikut mendukung bagi penerapan dan pelaksanaan syariat Islam.

Walhasil, seluruh komponen masyarakat baik dia petani, pedagang, tukang becak, guru, pegawai negeri, pegawai swasta, pengacara, hakim, jaksa, tentara, polisi, menteri, kepala suku dan unsur-unsur lainnya harus dipersiapkan agar mendukung perubahan masyarakat ke arah Islam. Disinilah pembinaan masyarakat, menjadi sangat penting.

Jika kita menelaah perjalanan dakwah Rasulullah saw. secara mendalam dan jernih maka akan kita dapati bahwa beliau—dalam mengubah dan menata umat—menempuh tiga tahapan.

Apa yang dilakukan oleh Rasul di rumah Arqam bin Abi al-Arqam adalah tahapan pertama -nya. Di rumah tersebut dilakukan penempaan dan pembinaan secara intensif para kader dakwah. Pembinaan intensif ini dilakukan melalui halqah-halqah (kelompok pembinaan kecil di bawah bimbingan pembina halqah yang waktu itu dipimpin secara langsung oleh Rasulullah) untuk menanamkan fikrah Islam kepada kader yang memang telah secara ikhlas ingin terlibat dalam dakwah. Tujuannya adalah untuk membentuk kader yang berkepribadian Islam, yakni yang berpola pikir dan berperilaku sesuai dengan ajaran Islam, serta bersedia terlibat dalam dakwah Islam. Kader-kader dakwah ini selanjutnya diharapkan mau dan mampu mengemban pemahaman Islam yang telah mereka pahami ke tengah-tengah masyarakat.

Tahapan kedua adalah membentuk kesadaran dan opini umum di tengah umat (tafâ‘ul ma‘a al-ummah). Perjuangan untuk menerapkan hukum Islam memerlukan kekuatan, yakni dukungan umat. Masalahnya, umat yang bagaimana yang akan mendukung dakwah? Tentu adalah umat yang sadar dan memiliki kesadaran politik Islam, yaitu mereka yang merasa diri dan masyarakatnya harus diatur hanya dengan syariat Islam saja. Jika kesadaran seperti ini telah terbentuk di tengah-tengah masyarakat, ditambah dengan adanya dukungan dari para ahlul quwwah (pemilik kekuatan ril di masyarakat) maka berarti dakwah telah memiliki kekuatan pendukung besar untuk menuntut perubahan ke arah Islam. Inilah pentingnya tahap interaksi dengan masyarakat. Perubahan mendasar berlandaskan Islam tidak akan mungkin bisa dicapai jika tidak ada kesadaran umum masyarakat tentang Islam. Kesadaran ini tidak akan tercapai jika tidak ada interaksi para pengemban dakwah dengan masyarakat.

Keterlibatan Rasul saw. dalam benturan pemikiran dengan cara mematahkan argumentasi-argumentasi yang dilakukan oleh masyarakat Arab Jahiliah ketika menyembah Latta dan Uzza serta bentuk-bentuk kemusyrikan dan kekufuran yang lainnya adalah upaya nyata untuk menyadarkan umat bahwa apa yang telah dilakukan mereka selama ini adalah bentuk kebodohan dan kesalahan yang besar. Keyakinan, standar perbuatan, dan aktivitas yang sudah menjadi perilaku hidup masyarakat yang bertentangan dengan seruan Allah, oleh Rasul dirombak dan diganti sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Sementara itu, lobi-lobi yang dilakukan oleh Rasul tatkala musim haji dengan kabilah-kabilah yang datang ke Makkah adalah upaya Rasul untuk memperoleh dukungan dari ahlul quwwah (pemilik kekuatan).

Tahapan ketiga adalah penyerahan kekuasaan dari umat kepada para pengemban dakwah yang selama ini menyerukan penerapan syariat Islam. Tatkala dakwah di Makkah semakin menemui hambatan, namun di sisi lain perkembangan dakwah dan penerimaan masyarakat Madinah untuk diatur sesuai dengan syariat Islam semakin mengkristal, maka Rasul kemudian hijrah ke Madinah. Hijrahnya Rasul bukanlah lari dari ancaman siksaan yang akan dilakukan oleh orang-orang Quraisy, namun lebih disebabkan oleh adanya masyarakat Madinah yang mau menyerahkan kekuasaan kepada Rasul untuk mengatur mereka berlandaskan syariat Islam. Di Madinahlah institusi Negara Islam pengayom umat berdiri. Dengan negara inilah kesejahteraan dan kenikmatan hidup umat terjaga.

Dengan demikian, perubahan mendasar itu adalah menegakkan kehidupan Islam dengan jalan menerapkan syariat Islam secara kâffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terakhir, marilah kita sambut seruan Allah Swt. yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (TQS. al-Anfâl: 24). []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *