BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 18 : Kewajiban terhadap Pemimpin

Tausiyah 18 : Kewajiban terhadap Pemimpin

Al-Amr (perintah) adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan dalam bentuk yang tinggi.  Perintah itu kadang-kadang berasal dari Allah Swt.

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (QS. al-A’raf: 54).

Perintah kadang-kadang berasal dari Rasul saw. yang merupakan wahyu sebagaimana, sabdanya:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah ia dan jika aku memerintahkan sesuatu perintah kepada kalian maka ambillah darinya sesuai dengan kemampuan kalian.(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Perintah kadang-kadang berasal dari seorang suami kepada istrinya; kadang-kadang berasal dari orangtua kepada anaknya; kadang-kadang juga berasal dari amir (pemimpin) dan dialah yang memiliki (hak) memerintah.  Amir adalah seseorang yang menangani urusan jamaah yang diantara mereka terdapat urusan yang mengikat bersama. Ia adalah orang yang memiliki wewenang mengeluarkan permintaan untuk melakukan perbuatan dari jamaahnya yang di antara mereka terdapat urusan bersama.  Sosok itu mencakup Amîr al-Mu’minîn (Pemimpin kaum mukmin)  dimana terdapat urusan yang mengikat antara dia dengan umat, yaitu penerapan hukum-hukum syariat; mencakup pemimpin partai dan yang mengikat mereka adalah tujuan bersama yang menyebabkan mereka berkumpul di dalamnya; juga mencakup pemimpin perjalanan (amir safar) dan urusan bersama mereka adalah setiap urusan yang berkaitan dengan perjalanan. Jenis perintah inilah yang kita maksudkan dalam penjelasan kali ini.

Pembahasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan hak-hak pemimpin; baik Amirul Mukmin; orang yang diberi wewenang oleh Amirul Mukminin untuk mengeluarkan perintah seperti amîr al-jaysy (pemimpin pasukan), atau amîr as-sariyah (pemimpin ekspedisi), wali (gubernur/kepala wilayah), ‘âmil, wazîr tafwîdh (pembantu khalifah);  amîr al-hizb (pemimpin partai); ataupun pemimpin perjalanan. Hal itu karena nash-nash tentang ketaatan kepada amir (pemimpin) dan hak pemimpin atas orang yang ia pimpin adalah mencakup pemimpin yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Hak bagi pemimpin yang bersifat umum, seperti Amirul Mukminin, bersifat umum; mencakup semua urusan urusan pemerintahan dan pengaturan, karena yang mengikat antara dirinya dengan umat adalah penerapan hukum syariat seluruhnya.  Sebaliknya, pemimpin yang bersifat khusus, hak-haknya hanya dalam batas-batas urusan bersama mereka, tidak lebih. Ada sejumlah hak pemimpin atas orang-orang yang dipimpinnya. Kewajiban orang-orang yang dipimpin atas pemimpinnya antara lain:

  1. Percaya (tsiqah)

Tsiqah adalah al-i’timân (percaya), yakni mempercayai apa-apa yang diperintahkan oleh amir (pemimpinan) atas upaya untuk mencapai urusan bersama. Oleh karena itu, umat harus memilih orang yang benar-benar amanah dan terpercaya. Amanah itu tidak berlalu kecuali dengan adanya khianat. Contohnya adalah ketika amir mengubah urusan bersama yang mengikat mereka, menjauhkan dan meniadakan pencapaiannya, atau menggagalkannya.  Kesalahan bukan merupakan khianat dan tidak menafikan sifat amanah. Jadi, kesalahan tidak menjadi alasan yang benar untuk menanggalkan kepercayaan pada amir, kecuali jika kesalahan itu banyak dan merupakan kekejian.  Artinya, orang-orang yang diperintah hendaklah berprasangka baik kepada pemimpin yang telah mereka angkat. Demikianlah sikap para sahabat r.a.   Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Usayd bin Hudhayr:

اِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً

Sesungguhnya kalian akan menjumpai ketidaksenangan sesudahku. (Abu Ya’la dan ath-Thabrani).

  1. Memberikan nasihat

Tamim ad-Dari menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ: ِللهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَ ِلأَئِمَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَتِهِمْ

Agama itu nasihat/kesetiaan.” Kami bertanya, “Bagi siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum Muslim dan bagi mereka pada umumnya.” (HR. Muslim).

Abu Hurairah juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثاً وَيسَخْطُ لَكُمْ ثَلاَثاً: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلاَهُ اللهُ أَمْرَكُمْ…

Allah Swt. menyukai dari kalian tiga perkara dan Allah membenci atas kalian tiga perkara: kalian menyembahnya dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah; kalian berpegang teguh; kalian menasihati orang yang Allah jadikan sebagai orang yang mengatur urusan kalian…. (HR. Imam Malik).

  1. Menaatinya pada selain kemaksiatan kepada Allah

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. (QS. an-Nisa’: 59).

Dengan demikian, tidak ada ketaatan kepada pemimpin dalam kemaksiatan yang tidak diragukan dan diperselisihkan lagi bahwa hal itu adalah kemaksiatan. Seperti halnya pemimpin negeri-negeri Islam hari ini, mereka berhukum bukan dengan al-Quran dan as-Sunah.

  1. Melaksanakan keinginan pemimpin sekalipun bukan merupakan ‘azimah (perintah tegas)

Kadang-kadang pemimpin tidak menyuruh secara tegas, tetapi ia menjelaskan keinginannya dengan menguatkan satu perkara atas perkara yang lain. Karena itu,  sekalipun di sana terdapat ruang pilihan terhadap perkara yang tidak dikuatkan oleh pemimpin (amir) dan bahwa tidak ada keberatan atas orang yang menyalahi keinginan amir, lebih utama untuk melakukan perkara yang dikuatkan dan dikehendaki amir—jika keinginannya itu semata-mata karena ketamakannya terhadap balasan yang baik di sisi Allah. Ibn ‘Asakir menuturkan riwayat dari Sayf bin ‘Umar. Ia berkata:Pada saat perang ke Syam, Abu Bakar pernah menulis surat kepada Amr. Isinya demikian, “Sesungguhnya aku mengirimmu untuk suatu aktivitas yang telah Rasulullah saw. serahkan kepadamu suatu kali dan mengkhususkannya kepadamu pada saat yang lain .Sebenarnya aku lebih suka jika Abu ‘Abdullah menggantikanmu, karena itu lebih baik bagimu dalam kehidupan dan kedudukanmu; kecuali perkara itu lebih kamu sukai.”

‘Amr lalu membalas surat itu, “Sesungguhnya aku adalah salah satu di antara anak panah Islam dan sesungguhnya Anda adalah pelemparnya setelah Allah. Karena itu, lihatlah yang paling kuat dan paling afdhal…

  1. Memenuhi perintahnya dan tidak menyalahinya

Abu Sa‘id juga menuturkan bahwa  Rasulullah saw. pernah bersabda,

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرِهِ. أَلاَ وَلاَ غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْراً مِنْ أَمِيْرٍ عَامَةٍ

Setiap pengkhianat, pada Hari Kiamat kelak, akan diberi bendera sesuai dengan tingkat pengkhianatannya. Ingatlah pengkhianat yang paling besar adalah yang mengkhianati pemimpin umum (imam, khalifah). (HR. Muslim).

  1. Bersabar terhadap apa yang tidak disukai dari pemimpin

Ibn ‘Abbas menuturkan bahwa  Nabi saw. bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ قَيْدَ شِبْرٍ فَيَمُوْتُ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang melihat dari amirnya sesuatu yang ia benci, hendaklah ia bersabar atasnya, karena sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja lalu mati, kematiannya seperti mati jahiliyah. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

  1. Memuliakan Pemimpin dan Melindunginya baik ia ada atau sedang tidak ada (ditempat itu)

Abu Bakrah menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ تبَاَرَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة

Barangsiapa yang memuliakan sulthan (penguasa) Allah Swt. di dunia maka Allah memuliakannya pada Hari Kiamat; barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah Swt. di dunia maka Allah menghinakannya pada Hari Kiamat kelak. (HR. Ahmad).

  1. Menjaga rahasianya

Rasulullah saw. bersabda:

مِنْ أَسْرَقِ السُّرَاقِ مَنْ يَسْرِقُ لِسَانَ اْلأَمِيْرِ

Diantara pencurian yang paling besar adalah orang yang mencuri perkataan pemimpin. (HR ath-Thabrani).

Ahmad meriwayatkan dari Ath-Thabrani meriwayatkan dari jalan ‘Amir asy-Sya‘bi, dari Ibn ‘Abbas. Ia berkata, bahwa Ibn ‘Abbas pernah berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amir al-Mukminin menyerumu serta meminta kamu mendekat dan meminta pendapatmu bersama para shahabat Rasulullah saw. Karena itu, Jagalah dariku tiga perkara: bertaqwalah kepada Allah, jangan sampai kedustaan mencederaimu; janganlah kamu menyebarluaskan rahasia; dan jangan kamu menggibah seorang pun di sisinya.”

  1. Tidak menyebut-nyebut keburukan seseorang di hadapan pemimpin

Abdullah bin Mas‘ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda,

لاَ يَبْلُغُنِي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ شَيْئاً فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيْمُ الصَّدْرِ

Janganlah seseorang menyampaikan kepadaku tentang seseorang satu keburukannya. Aku lebih suka keluar menghampiri kalian, sementara dada (hati)-ku selamat. (HR Ahmad).

  1. Menghilangkan kesusahan hati pemimpin ketika dalam kesempitan

Jabir berkata: Abu Bakar pernah datang dan meminta izin kepada Nabi saw., sementara orang-orang duduk di depan pintu Nabi. Beliau tidak memberi izin kepada Abu Bakar.  Kemudian ‘Umar datang dan meminta izin. Beliau pun tidak memberikan izin kepada ‘Umar.  Kemudian beliau memberikan izin kepada keduanya, lalu keduanya masuk, sementara Nabi saw. sedang duduk-duduk bersama para istri beliau. Beliau diam saja.  Lalu ‘Umar berkata, “Sungguh, aku akan berbicara kepada Nabi hingga beliau tertawa.”

Lalu ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah saw., seandainya aku melihat binti Zayd—istri ‘Umar— meminta nafkah kepadaku barusan, maka aku pukul lehernya.

Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Beliau berkata, “Mereka di sekitarku, seperti yang engkau lihat, sedang meminta nafkah kepadaku.” (HR Ahmad)

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *