BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 11 : Membumikan Alquran

Tausiyah 11 : Membumikan Alquran

Puji syukur hanya milik Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu dicurahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, shahabat, dan orang-orang yang selalu istiqamah di atas jalannya. Sesungguhnya, tidak ada jalan yang bisa membawa manusia menuju keselamatan dan keridhoan Allah swt, kecuali jalan yang telah ditunjukkan Allah Swt. dan RasulNya. Barangsiapa berjalan di atas jalan itu, niscaya ia mendapatkan petunjuk dan meraih keselamatan dunia dan akhirat. Namun, siapa saja yang menyimpang dari jalan itu, niscaya ia tersesat dan tidak akan selamat.

Dalam bahasa Arab, qa-ra-’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, atau membaca. Pada mulanya qur’an digunakan dalam arti bahasanya, sehingga bermakna seperti qirâ’ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qarâ’a, qirâ’atan, qur’ânan; yang berarti bacaan.

Secara istilah terdapat beberapa definisi yang berbeda tentang al-Quran yang diberikan oleh para ulama.  Di antara definisi yang sangat baik adalah apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ali al-Hasan dalam Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân, yang menyatakan bahwa al-Quran adalah kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi saw. yang ditransfer secara tawâtur dan membacanya tergolong ibadah.

Kalamullah berarti firman Allah Swt. Allah Swt. tersebut Mahatahu apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Dia tidak terikat dengan waktu dan tempat. Oleh karena itu, secara ‘aqlî, al-Quran pun tidaklah terikat dengan waktu dan tempat. Akidah dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya bukanlah diperuntukkan Allah Pencipta manusia hanya untuk kurun tertentu saja, melainkan untuk semua manusia hingga Hari Kiamat.

Kenyataan bahwa al-Quran tidak terikat dengan ruang dan waktu dijelaskan sendiri oleh Allah Swt. di dalamnya. Pertama, Allah Swt. menegaskan bahwa al-Quran tidak mengandung di dalamnya kebatilan, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, لاَ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Quran ketika al-Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Quran itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji. (QS. Fushshilat: 41-42).

Allah Swt. sendiri menyatakan bahwa Dialah yang akan langsung menjaga al-Quran seperti dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran (adz-Dzikra) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr: 9).

Adanya ‘penjagaan Allah’ terhadap al-Quran ini menunjukkan ketidakterikatan al-Quran dengan ruang dan waktu.

Kedua, al-Quran tidak dapat dipisahkan dari Hadits Nabi. Sebab, keduanya merupakan wahyu dari Allah Swt. Allah Swt., di samping memerintah kaum muslim untuk mengikuti al-Quran, juga memerintahkan mereka untuk mengikuti apapun yang dibawa Rasulullah saw., yaitu hadits. Allah Yang Mahaperkasa berfirman,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian, yaitu Al Kitab (al-Quran) dan al-Hikmah/as-Sunnah. (QS. al-Baqarah: 231).

Melalui as-Sunnah/al-Hadits, al-Quran dapat dipahami dengan utuh. Sebab, as-Sunnah merupakan penjelas dan perinci apa yang terdapat dalam al-Quran.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kami menurunkan kepadamu al-Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. an-Nahl:  44).

Ketiga, cakupannya yang menyeluruh, baik urusan akidah dengan segala macam turunannya maupun syariat dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Kenyataan ini tampak terang dalam al-Quran itu sendiri.  Dari segi akidah, mua’amala-syariah, dan masalah kepemimpinan; semuanya di jelaskan dalam al-Quran.

Saudaraku, al-Quran bukanlah merupakan kumpulan pengetahuan, melainkan merupakan petunjuk hidup; tidak sekadar dibaca dan dipahami melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, Nabi saw. dalam berbagai hadisnya menegaskan bahwa siapapun yang berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya.  Jadi, setiap ajaran yang terdapat dalam al-Quran mutlak dilakukan (Lihat QS. al-Hasyr: 7).

Menerapkan al-Quran berarti mengamalkan seluruh isi al-Quran tersebut.  Artinya, akidah dan syariat Islam harus diterapkan.  Semua itu terkandung dalam al-Quran  dan telah dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan demikian, orang yang beriman, sebagai konsekuensi keimanannya, diperintahkan untuk menerapkan al-Quran secara kâffah, yaitu al-Quran dijadikan sebagai dustûr; dijadikan sebagai rujukan dan problem solving yang up to date dan sempurna, serta dijadikan rujukan dalam perilaku individu/masyarakat.

Perbuatan sahabat mencerminkan keimanan utuh terhadap al-Quran. Mereka betul-betul mengimplementasikan keimanan ini dalam kehidupan. Sejarah banyak mencatat hal ini, di antaranya:

  1. Membaca, menghafal, dan mengamalkan al-Quran

Para sahabat saling berlomba dalam membaca dan mempelajari al-Quran. Segala kemampuannya mereka curahkan untuk menguasai dan menghapal al-Quran. Mereka mengajarkan ke­pada keluarganya, istri, dan anak-anaknya di rumah masing-masing. Kalau ada orang yang melewati rumah mereka pada waktu malam yang gelap gulita, ia akan mendengar alunan al-Quran.

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Musa al-Asy‘arî bahwa Rasul saw. pernah bersabda kepadanya (yang artinya), “Andaikan engkau melihat aku tadi malam ketika aku mendengar bacaanmu, sungguh kau telah menghiasi pende­ngaranku dengan sebuah tiupan suara seruling pengikut Dawud.” Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya), “Saya mengetahui kelembutan alunan suara keturun­an Asy‘ari tentang bacaan al-Quran adalah pada malam hari dan saya mengetahui rumah tinggal mereka di waktu malam sewaktu me­reka membaca al-Quran padahal di siang hari saya belum mengeta­hui di mana rumah mereka” (HR. al-Bukhari dan Mus­lim).

  1. Sami‘nâ wa athâ‘nâ (Kami mendengar dan kami taat)

Ibn Katsir dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, juz 2, hlm. 113-121 memaparkan, para sahabat betul-betul menjadikan al-Quran sebagai pegangan hidup. Begitu perintah atau larangan turun segera mereka melaksanakannya tanpa perlu lagi banyak berpikir.  Sebagai contoh, saat turunnya surat Al Maidah  ayat 90 tentang haramnya minuman keras (khamer). Ketika ayat itu turun, para sahabat seketika membuang cadangan khamer yang dimilikinya. Bahkan, halaman dan jalan becek akibat tumpahan khamer.  Banyak hadis bercerita tentang hal ini.  Imam Ahmad menceritakan dari Yahya bin Said dari Hamid dari Anas bahwa Anas menyuguhkan khamer kepada Abu Ubaidah bin al-Jarah, Ubai bin Ka’ab, dan Suhail bin Baidha.  Tiba-tiba ada yang mengabarkan khamer telah diharamkan dengan trunnya ayat tersebut.  Mereka saat itu juga tidak jadi meminumnya.

  1. Perhatian negara terhadap al-Quran

Pada masa pemerintahan Islam, al-Quran mendapatkan perhatian luar biasa.  Setelah Rasulullah wafat kekuasaan di­pegang oleh Abu Bakar Siddik r.a.  Pada masa beliau terjadilah Perang Yamamah. Imam al-Bukhari meriwayatkan, banyak kalangan sahabat yang hapal al-Quran dan ahli baca­nya mati syahid,  jumlahnya lebih dari 70 orang. Kaum Muslim, termasuk Umar, menjadi bingung dan khawatir. Umar segera menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaan sedih dan sakit.  Umar mengajukan usul supaya rnengumpulkan al-Quran karena khawatir lenyap dengan banyaknya huffâzh yang gugur. Abu Bakar pertama kali merasa ragu. Setelah dijelaskan oleh Umar tentang kepentingannya, akhirnya beliau memandang baik usul Umar. Allah pun melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut. Mulailah al-Quran yang telah ditulis pada masa Nabi saw. hidup dikumpulkan.

  1. Pemerintah menerapkan al-Quran.

Tanggung jawab pemerintah bukan sekadar itu.  Pemerintah menjaga penerapan al-Quran. Bahkan, bila ada satu hukum saja yang dilanggar, bersegeralah pemerintah menindaknya.

Pada masa Abu Bakar, misalnya, terdapat sekelompok orang yang menolak mengeluarkan zakat yang diperintahkan Allah swt. dalam al-Quran. Mereka menyatakan bahwa yang berhak mengambil zakat dari mereka hanyalah Rasulullah saw. Padahal, di dalam al-Quran disebutkan (yang artinya), “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS at-Taubah: 103). Abu Bakar memahami hal ini sebagai perintah bagi penguasa, bukan sebatas bagi Rasulullah. Karenanya, penolakan mengeluarkan zakat berarti menentang al-Quran. Beliaupun memutuskan untuk memerangi mereka.  Begitu juga dalam hukum-hukum lainnya. Hal ini menegaskan perhatian negara terhadap pengabaian al-Quran. Negara menyikapinya dengan tegas dalam rangka menjaga penerapan secara menyeluruh isi al-Quran.

Pada saat ini al-Quran tidak lagi diterapkan. Negara alih-alih menerapkan al-Quran, justru malah mengabaikannya. Kalaupun diterapkan sebatas pada acara seremonial seperti dalam Musabaqah.  Secara individual pun harus diakui, masih sedikit kaum Muslim yang secara konsisten membaca, menghapal, memahami, melaksanakan, dan memperjuangkan tegaknya al-Quran. Padahal, al-Quran merupakan pelita yang diturunkan Allah Swt. untuk menerangi manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya. Untuk itu, kaum Muslim perlu mencurahkan segenap kemampuan untuk menegakkan al-Quran, baik dalam individu, keluarga,masyarakat, maupun negara. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *