BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 10 : Orang Yang Tidak Memperdulikan Alquran

Tausiyah 10 : Orang Yang Tidak Memperdulikan Alquran

Kali ini, pada hari ke-10 bulan suci Ramadhan ini, mari kita renungkan firman Allah Swt. berikut,

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

Berkatalah Rasul,“Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang tidak diperdulikan.  (QS. al-Furqan: 30).

Menurut Qasimi dalam kitab Mahâsin at-Ta’wîl, juz 7 hlm. 426, ayat di atas menceritakan pengaduan Rasulullah saw. kepada Allah Swt. tentang sikap dan perilaku kaumnya terhadap al-Quran. Kendati ayat ini berkenaan dengan orang-orang musyrik dan ketidakimanan mereka terhadap al-Quran, susunan ayat ini juga mengancam orang yang berpaling darinya secara umum, baik yang tidak mengamalkannya maupun yang tidak mengambil adabnya.

Rasulullah Saw. mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan al-Quran sebagai mahjûr[an]. Mahjûr[an] merupakan bentuk maf‘ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap al-Quran, seperti tuduhan al-Quran adalah sihir, syair, atau dongengan orang-orang terdahulu (Lihat QS. al-Anfal: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak mempedulikan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dipedulikan). Begitulah pendapat Abu Thayyib al-Qinuji, al-Finuji, dalam kitab Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, juz 9 hlm. 305.

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur’ân (meninggalkan atau mengabaikan al-Quran). Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak mentadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau menyimak dan mendengarkan al-Quran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar al-Quran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan Allah Swt.:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ

Orang-orang kafir berkata, “Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya.” (QS. Fushshilat: 26).

Beberapa sikap dan perilaku yang dapat dikategorikan sebagai tidak memperdulikan dan meninggalkan al-Quran, adalah:

  • menolak untuk mengimani dan membenarkannya;
  • tidak mau mendengarkan dan membacanya;
  • tidak berusaha men-tadabburi, mengkaji, dan memahami kandungannya;
  • tidak mau mengamalkan isinya, termasuk enggan menerapkan hukum-hukumnya; baik dalam kehidupan individu, masyarakat, maupun negara.

Semua tindakan termasuk perbuatan yang diharamkan, dengan indikasi ayat berikutnya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ

Seperti itulah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (QS. al-Furqan: 31).

Dalam ayat ini, tampak jelas bahwa orang-orang yang meninggalkan al-Quran disejajarkan dengan musuh para nabi dari kalangan orang-orang yang berdosa.

Saudaraku, al-Quran al-Karim adalah kitab yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantaraan Malaikat Jibril as. Tidak mengimani fakta tersebut termasuk mengabaikan al-Quran, bahkan yang paling besar dan serius. Sebab, siapa pun yang mengingkari al-Quran sebagai kalam Allah berarti telah mengingkari sebagian besar bangunan akidah Islam. Sebab, keimanan terhadap sifat dan asmâ’ Allah Swt, keberadaan para malaikat, kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya, para nabi dan rasul yang diutus-Nya, dan Hari Kiamat dengan berbagai peristiwa yang menyertainya didasarkan pada al-Quran. Apabila al-Quran ditolak maka perkara-perkara itu juga pasti ditolak.

Keimanan pada al-Quran haruslah total, menyeluruh, serta mencakup bagian perbagiannya dan ayat perayat yang ada di dalamnya. Mengingkari satu ayat al-Quran telah cukup menjerumuskan seseorang dalam kekafiran (lihat QS. an-Nisa’: 150-151).

Saat ini, akibat dahsyatnya gempuran pemikiran Barat dan rendahnya pemahaman umat, tidak sedikit yang bersikap ‘diskriminatif’ terhadap al-Quran. Mereka bisa menerima hukum-hukum ibadah atau akhlak, tetapi menolak hukum-hukum al-Quran tentang kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, pidana, atau hubungan internasional.

Contoh, terhadap ayat-ayat al-Quran yang sama-sama menggunakan kata kutiba yang bermakna furidha (diwajibkan atau difardhukan) sikap yang muncul berbeda. Ayat Kutiba ‘alaykum al-shiyâm (diwajibkan atas kalian berpuasa) dalam QS. al-Baqarah: 183 diterima dan dilaksanakan. Namun, terhadap ayat Kutiba ‘alaykum al-qishâsh (diwajibkan atas kalian qishash) dalam QS. al-Baqarah: 178, atau Kutiba ‘alaykum al-qitâl (diwajibkan atas kalian berperang) dalam QS. al-Baqarah: 216, muncul sikap keberatan, penolakan, bahkan penentangan dengan beragam alasan; apalagi ketika diserukan untuk diterapkan secara praktis. Sikap ini berujung pada terabaikannya sebagian ayat al-Quran. Sikap ini jelas terkategori ke dalam sikap meninggalkan dan mengabaikan al-Quran.

Al-Quran berisi sistem kehidupan yang harus diterapkan. Di dalamnya terdapat hukum yang mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan (Lihat QS. an-Nahl: 89). Berbagai interaksi yang dilakukan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, semua berada dalam wilayah hukum al-Quran. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *