BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Hikmah Ramadhan / Tausiyah 1 : Memaknai Ramadhan

Tausiyah 1 : Memaknai Ramadhan

Ramadhan memang istimewa bagi kaum muslim. Pasalnya, Allah Swt. telah memenuhi bulan itu dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan yang melimpah. Jangan sampai kita melalui bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak memberikan pengaruh berarti bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan, pasti akan menuai penyesalan. Sebab, ia telah melalaikan ibadah di bulan Ramadhan. Akibatnya, puasanya hampa, dan hanya sekedar memperoleh haus dan dahaga. Ia juga tidak pernah mendapat keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah Swt.

Seyogyanya, seorang hamba yang shalih harus menyambut bulan Ramadhan dengan taubatan nashuha, dan disertai tekad yang bulat untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya di bulan suci ini. Sudah semestinya pula kita mengisi bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih; dan tidak lupa selalu memohon kepada Allah Swt. agar Dia menolong kita dalam menunaikan ibadah dengan baik.

Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim dan al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni dalam Fath al-Bârî, puasa secara bahasa mengandung pengertian al-imsak (menahan diri). Sedangkan menurut pengertian syari’at, puasa adalah menahan makan dan minum serta yang membatalkannya, pada waktu, dan dengan syarat-syarat yang bersifat khusus. Dalam kitab Subulus Salam, jld. 2, hal. 26, puasa secara syar’i adalah, “Menahan diri dari makan, minum, jima’ dan lain-lain yang kita diperintahkan untuk mendahan diri daripadanya sepanjang hari menurut cara yang telah disyari’atkan; disertai dengan menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang merangsang, perkataan yang diharamkan dimakruhkan menurut syarat-syarat dan waktu yang telah ditetapkan.”

Allah dan RasulNya telah memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa. Salah satunya adalah, seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhâri dan Muslim).

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim).

Bulan yang agung telah tiba, dari 12 bulan yang ada dalam kalender Islam, bulan Ramadhan disebut Sayyidus Syuhur. Karena pada bulan ini diturunkannya ayat pertama al-Qur`an, diturunkannya satu hari yang lebih baik dari satu bulan yaitu malam lailatul qadar, dan pada bulan ini setiap amalan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt., dan banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang diturunkan  Allah Swt. pada bulan ini.

Salah satu hal yang utama pada bulan Ramadhan ini adalah diwajibkannya shaum  yang dapat membentuk individu-individu bertakwa kepada Allah Swt. Allah Swt. telah berfirman yang artinya,

Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (TQS. al-Baqarah: 183).

Wujud  takwa kepada Allah Swt. adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara. Allah Swt. menuntut penyerahan jiwa dan raga orang-orang mukmin kepada Islam secara total, kaaffah.  Dia Swt. Berfirman yang artinya,

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (TQS. al-Baqarah: 208).

Shaum sesungguhnya, adalah saat kita melatih diri untuk senantiasa berhubungan dengan Allah Swt. Lapar dan haus yang kita rasakan seharusnya mengingatkan kita bahwa kita sedang menjalankan perintah Allah Swt. Seharusnya itu semua berimplikasi pada sisi kehidupan yang lainnya. Sayangnya itu belum terasa. Perhatikan saja, saat Ramadhan kaum muslim dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan shaumnya, namun, ketika berekonomi, kaum muslim tidak tunduk pada aturan Allah. Mereka menganggap memanfaatkan riba adalah hal yang biasa. Sebagian muslim-pun lebih memilih mempraktikkan ekonomi kapitalis dibanding diatur dengan syari’at Islam. Apalagi hukum dan perundangan yang diterapkan, adalah bersumber dari hukum buatan manusia. Padahal seharusnya hukum itu harusnya hanya merujuk kepada Allah Swt. []

Kolom Hikmah Ramadhan diasuh oleh Ustad Yuana Ryan Tresna, S.E., M.Ag.

Ketua Umum KALAM UPI 2006/2007, Penulis Buku Muhammad Saw on The Art of War dan Peserta Program Doktor Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tausiyah 23 : Zakat dan Realitas Kemiskinan

Secara bahasa, zakat (al-zakat) bermakna al-namaa` (tumbuh), dan al-thahaarah (suci). (Imam asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *