BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Syukurku Karena Mereka

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD

            Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat 3 yang sedang menikmati masa liburan panjang dari aktivitas perkuliahan, menjalani bulan puasa penuh di rumah bersama keluarga merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswi perantauan seperti aku. Aku memiliki anggota keluarga yang sangat kritis terhadap hal bersangkutan dengan agama dan ibadah, dan di bulan Ramadhan nan suci ini aku banyak menerima pelajaran serta makna hidup dari hal terkecil sekalipun. Terutama ayahku yang selalu menjadi tempatku untuk mengadu pertanyaan bahkan mengundang perdebatan kecil, semua itu karena aku terbilang anak perempuan yang malas dan seing mengeluh. Seringkali karena aktivitasku yang tidak diisi dengan tadarus, sholat duha dsb membuat Ayahku terus-terusan mengingatkan apa yang harus dilakukan ketika meraih pahala di bulan Suci Ramadhan ini, kadang cerewetannya itu membuatku jengkel dan sebal. Walau begitu, aku tentu sangat mengagumi sosok Ayah yang bagiku sudah seperti para ustadz yang tau segala hal.

Ayah mengetuk pintu kamar seraya masuk.

“Al, setiap hari Ayah perhatikan kamu terus-terusan memutas musik dan menonton film Korea saja. Tadarusnya sudah sampai berapa juz? Sekarang sudah sholat Duha belum?” tanya Ayah.

Aku langsung mematikan musik dari laptop yang tengah aku play dan tak sedikitpun mempedulikan pertanyaan Ayah.

“Al, kamu tidak dengar Ayah bertanya?!” tanya Ayah dengan nada yang lebih tegas. “Yah, aku setiap habis sholat Shubuh suka tadarus ko! Cuma ga pernah ditarget sehari harus dapet berapa juz aja! Yang penting kan tadarusnya ikhlas kan?jawabku dengan nada sebal.

“Astaghfirullah, kamu.. jawab Ayah sambil menggeleng kepalanya lalu meninggalkan aku di kamar.

Bukan tanpa alasan aku menjawab pertanyaan Ayah seperti itu, aku hanya tak ingin urusanku dicampuri bahkan diatur oleh Ayah sekalipun. Bagiku, bukankah urusan Agama itu hanya ada pada hati hamba dengan Tuhannya kan? Mungkin saja saat Ayah menyuruhku ini itu aku berada dalam keadaan yang malas, dan terang saja jika aku menuruti perintah Ayah itu malah hanya demi Ayah bukan Tuhan.

Akan tetapi, terkadang aku memikirkan berulang kali apakah tindakan dan pendapatku seperti itu akan diterima Tuhan? Apa itu benar? Padahal mungkin saja Ayah hanya sekedar mengingatkan dan aku terlalu bersikap arrogant. Ahh, entahlah.

***

            Siang hari pada Ramadhan ke 22 aku pergi dengan Ayah untuk membeli titipan Ibu yang pada saat itu Ibu tengah sakit dirumah, jadi akulah yang harus mengantar Ayah. Ditengah perjalanan aku mengamati sekeliling kota dengan restoran dan rumah makan yang berjajaran sepanjang jalan, akan tetapi kini terlihat sepi dan toko tertutup rapat. Aku mulai berpikir dan bertanya pada Ayah..

“Ayah, bulan Ramadhan kaya gini kasian ya sama para pedagang makanan. Yang biasanya dari pagi sampai siang melayani pembeli dan dapet uang banyak, ini malah harus tutup karena puasa. Bener ga yah?” tanyaku.

“Realita yang kita lihat memang begitu, Al. Tapi kan pedagang tetap tak kehilangan pembeli sewaktu buka puasa, kamu ingat kan waktu kita sekeluarga buka puasa di luar? Bahkan dari hari-hari sebelumnya kita harus blocking tempat dulu. Kalau sudah seperti itu bahkan mungkin saja para pedagang lebih banyak meraup untung di bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Begitu, Al.” jawab Ayah dengan tenang. “Ada satu hal yang harus kamu tau juga, Al.” sambung Ayah. “Apa itu?”. “Kamu harus lebih bersyukur karena Ayah bisa mencukupi keluarga walau hanya dengan pekerjaan Guru, Ayah bisa punya waktu banyak untuk berkumpul dirumah. Coba kamu bayangkan para penjual itu, mereka harus melayani banyak pelanggan sewaktu berbuka puasa sehingga mereka tidak bisa menikmati berbuka puasa bersama keluarga dirumah dengan tenan”. Aku pun hanya tersenyum kagum pada Ayah.

***

            Pada waktu tarawih, aku dan keluargaku berangkat ke mushola yang lumayan berjarak jauh dari rumah. Sebenarnya ada mesjid yang jaraknya lebih dekat, akan tetapi karena Ayahku memiliki perbedaan soal prinsip dan mazhab jadi Ayahku memilih tempat dan jama’ah yang sepaham. Di mushola itu Ayah yang menjadi imam setiap harinya.

            Di awal bulan puasa, aku tampak senang dan semangat untuk berangkat sholat tarawih. Tapi semakin hari aku semakin malas dan bosan karena harus menempuh jarak yang jauh, apalagi harus ditempuh dengan berjalan kaki saja. Ahh rasanya itu..

Akan tetapi, aku yang tak pernah melupakan perkataan sederhana Ayah yang menggugah. Saat perjalanan menuju mushola, aku terdengar mengeluh oleh Ayah.

“Cape duhh..” keluhku.

Seketika itu ada pedagang cilok berjalan memanggul dagangannya seraya membunyikan bel khasnya.

“Al, liat tuh ada tukang cilok.” kata Ayah.

“Asyik, beli dong Yah!” jawabku semangat.

“Haha, bukan itu maksud Ayah. Kamu harus bersyukur masih bisa pergi untuk sholat tarawih. Sudah dapat pahala, kamu juga ngejalaninnya dengan waktu yang santai tanpa beban apapun. Iya kan?” tanya Ayah

Aku hanya terdiam seraya berpikir.

“Coba bandingkan dengan tukang cilok itu, harus merelakan untuk tidak sholat sunnah di bulan penuh pahala ini demi kewajiban keluarga agar besok sahur ada yang bisa untuk dimakan oleh keluarganya. Mengerti kan maksud Ayah?”

Aku pun malu. Dan aku pun sangat semakin bersyukur. Alhamdulillah..

Ramadhan tahun ini banyak hal sepele yang memberikan pelajaran untuk hidupku. Aku mulai memahami bahwa masalah kehidupan tak selalu harus disadarkan dengan kejadian besar. Allah, aku ingin semakin menjadi sosok yang selalu bersyukur. Bukankah Engkau akan menambah nikmat hidupku saat aku semakin bersyukur? Aku percaya itu..

***

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

One comment

  1. bagus ahaha berasa ngingetin aku juga *slap*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *