BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Setitik Cahaya di Bulan Suci

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi

Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak menari-nari diatas gumpalan awan yang sedikit kumal karena pagi ini birunya langit nampak mendung. Suara burung pipit tak selantang biasanya, kicaunya yang menemani perjalanan aku menuju kampus tercinta membuatku semakin bersemangat.

Di pagi hari ini aku memutuskan untuk mengenakan kemeja bercorak batik berwarna merah marun, peninggalan almarhumah ibu tercinta. Aku pasangkan batik ini dengan celana levis dan kerudung yang tak jauh berbeda dengan warna kemejaku ini. Tak terasa sudah satu pekan melewati bulan suci Ramadhan. Dipersimpangan jalan aku bertemu dengan sahabatku, yang sama melaksanakan perkuliahan semester padat.

“Assalamua’laikum, ukh.” Aku menyapanya dengan senyum manis.

“Wa’alaikumsalam. Ayo barengan yuk ke kelasnya.” Dita menjawab salamku sambil berjabat tangan dengan semangat, semoga menjadi penggugur dosa.

“Hari ini kita kuliah sampai pukul 12.00 kan?” Dita memulai percakapan.

“Iya, kenapa Dit?” Aku terkekeh keheranan.

“Aha, kalau begitu mau gak kamu ikut kajian di Mesjid Al-Furqon? Sambil mengisi waktu ngabuburit dengan hal yang bermanfaat.” Dita mengajak aku dengan penuh semangat.

“Emmmm…..Ayo kalau begitu, kebetulan memang gak ada kerjaan nih.” Aku meng-iya kan ajakan Dita.

“Cha, untuk melakukan kebaikan itu jangan menunggu waktu senggang, tapi kita lah yang harus meluangkan waktu untuk melakukan hal tersebut.” Dita menepuk bahu sebelah kananku, terlihat jelas lesung pipinya yang manis membuatku malu.

“Ah, iya Dit. Maaf, aku belum bisa seperti kamu.” Aku tersipu malu dan melanjutkan perjalanan menuju fakultas.

Jalanan tampak lenggang, aku dan Dita terus berjalan sebari bercengkrama berbagai macam hal. Dialah Dita, sahabat yang aku temukan saat MOKAKU dulu. Kini, yang akan beranjak pada semester lima, aku dan dia masih menjadi sahabat terbaik. Dita orangnya bisa ku bilang alim, sangat taat. Berbeda dengan diriku yang masih seperti ini, tak kunjung jua ada perubahan.

***

Mentari tepat berada diatas kepalaku, aku berjalan menuju Mesjid Al-Furqon untuk mengikuti kajian. Setibanya disana, sudah ada Dita dan beberapa temannya yang tidak aku kenal. Mungkin teman yang se-organisasi dengannya, karena aku tahu Dita anak yang sangat aktif di bidang organisasi keislaman dan akademisinya sangat bagus juga. Ku lihat beberapa temannya mengenakan gamis dan kerudung yang begitu panjang, jujur aku begitu malu.

“Icha, sini.” Dita memanggilku tepat di selasar akhwat.

“Iya Dit, sebentar aku menaruh sepatu dulu.” Aku berjalan dan menaruh sepatu pada rak yang tersedia, dekat WC akhwat.

Aku datang dengan tergopoh-gopoh dan seketika teman-temannya menyambutku dengan ramah dan penuh dengan senyuman. Satu persatu mereka memperkenalkan dirinya, sama sekali mereka tidak memberikan komentar apapun terhadap penampilan diriku.

“Ukh, ini namanya mentoring. Jangan sekali saja ya, pekan depan ikut laagi.” Salah satu temannya Dita yang disapa Teh Amel mengajakku untuk gabung.

“Iya, Teh. Insya Allah, tapi saya malu sebenarnya.” Aku menundukkan kepala.

“Malu kenapa de?” Teh Amel menatapku dengan lembut.

“Penampilan saya tidak seperti teteh-teteh yang ada disini.” Aku menggaruk kepala yang tak gatal.

“Aduh Cha, kamu jangan canggung seperti itu. Kami disini juga sama-sama belajar dan saling mengingatkan. Justru aku mengajak kamu untuk gabung disini supaya kita bisa saling mengingatkan. Soal penampilan, seiring berjalan waktu kamu akan mengerti.” Dita meyakinkanku.

“Nah benar seperti yang dikatakan Dita, de. Semoga ramadhan tahun ini berkah dan kita semua mendapatkan hikmah.” Teh Sherly, menimpal jawaban dari Dita.

Siang itu aku, Dita dan beberapa teman baruku menghabiskan waktu untuk belajar dan mengkaji beberapa kondisi umat muslim saat ini. Aku merasa ada hal yang berbeda, sebelumnya aku hanya mengikuti kajian ini pada saat Tutorial PAI semester satu dulu dan saat ini ternyata stigma negatif terhadap orang-orang yang berkerudung panjang yang menjuntai di jilbabnya itu salah. Disini mereka menerimaku apa adanya, hingga timbul benih untuk terus memperbaiki diri.

***

Alhamdulillah, tak terasa perkuliahan semester padat telah berlalu. Aku bergegas membereskan pakaian dan beberapa buah tangan yang akan kubawa ke kampung halaman sore ini. Ramadhan terus berjalan dan akan usai, kedatangannya yang selalu disambut gembira oleh sejumlah umat muslim kini dia akan segera meninggalkan kita semua.

Aku memandang diriku pada cermin, luar biasa. Dampak dari ikut kajian, sekarang aku mulai meninggalkan untuk memakai celana levis dan pakaian yang ketat, meski kerudungku masih apa adanya. Rasanya ada yang berbeda dengan ramadhan tahun ini.

“Assalamu’alaikum, Chaaa…” Dita memanggilku dari luar.

“Wa’alaikumsalam. Iya sebentar Dit, aku segera keluar.” Aku segera membereskan kostan yang akan aku tinggalkan beberapa pekan lamanya.

“Cieee kamu terlihat cantik sekali, Cha.” Mata Dita berbinar melihat penampilanku.

“Ah Dit, kamu bisa saja. Biasa aja lagi ah.” Wajahku merah merona, malu disanjung Dita.

“Alhamdulillah, aku senang jika kamu ada perubahan.” Dita merapihkan kerudungku.

“Iya Dit, ramadhan tahun ini berbeda. Pasti semua keluargaku di kampung heran.” Aku berjalan menyusuri jalanan kawasan terminal.

“Semua proses Cha dan aku harap kamu bisa istiqomah dengan proses itu, hasil tidak akan mengkhianati proses.” Dita tersenyum, dan lagi lesung pipinya merekah sempurna.

Aku dan Dita berjalan menuju terminal Ledeng, saat naik si biru Damri jagoannya Bandung juara. Tak hanya juara soal harga, kini fasilitasnya yang nyaman membuatku betah berlama-lama di bis ini. Cianjur, tancaaap mang….

***

Beberapa hari aku di kampung, sekian lama aku tak mendengar kabar dari Dita. Selain itu penampilanku yang drastis sontak membuat beberapa anggota keluargaku keheranan, mereka menyangka aku ikut aliran sesat. Aku mulai mengenakan gamis dan kerudung panjang. Terasa sejuk sekali, namun dibalik kesejukan itu beberapa saudara menggunjing dan berprasangka negatif. Sampai pada akhirnya, ayahku lantas menyuruhku untuk mencopot jilbabku ini karena khawatir aku menyimpang. Lantas, dadaku berdegup kencang dan aku merasakan beberapa belati menusuk ke dalam dadaku. Itu ayahku ….

Ayah memang boleh ku bilang belum bisa menjadi ayah panutan, pekerjaannya yang sehari-hari berjudi sabung ayam kadang membuatku malu. Semenjak kematian ibu, ayah merasa merana dan akhirnya terbawa oleh tetangga yang suka berjudi. Beberapa kali aku memperingatkan ayah dengan tegur dan sapaan yang halus, namun tetap saja. Ayah yang tidak menyetujuiku memakai kerudung saja, apalagi dengan penampilanku seperti ini membuat ayah semakin marah.

“Ayah, tapi ini adalah syariat untuk menutup aurat sebagaimana seorang muslim yang lainnya.” Aku menundukkan kepala, duduk manis menghadap ayah.

“Cha, sudah beberapa kali ayah bilang lepaskan jilbabmu itu! Kamu tahu, pekerjaan ayah disini adalah judi, dengan penampilanmu seperti itu akan melecehkan harga diri ayah!” Ayah melemparkan rokok yang dihisapnya.

Sontak aku menangis melihat ayah yang tidak menjalankan kewajibannya untuk shaum di bulan Ramadhan dan terus menjalankan bisnis kotornya.

“Ayah, ku mohon. Aku ingin terus memperbaiki diri dan aku ingin mencoba taat kepada-Nya. “ Aku menyeka air mata yang hampir jatuh ke pipi.

“Terserahlah. Ayah kecewa padamu!.” Ayah meninggalkanku dengan lautan emosi.

***

Allah, ajari aku memberi sebelum menuntut, berpikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang dikala gundah, diam ketika emosi melanda dan selalu bersahaja diatas kebenaran serta bersabar dalam setiap ujian.

Allah, jadikan aku selembut Abu Bakar, sepintar Ali, sebijaksana Umar, sedermawan Utsman, sesederhana Bilal, setegar Khalid, sesejuk embun di pagi hari, sejernih air mata ‘Ainun Mardhiyah, sehening malam dalam sujud Qiyamullail, dan selayaknya mentari yang tak pernah bosan menyinari bumi.

Dalam sujudku, aku menangis dan memohon pada-Nya agar keputusanku untuk tetap mengenakan jilbab tetap istiqomah, sontak beberapa hari kemudian ayah tiba-tiba saja mengetuk pintu kamarku dan memelukku dengan erat.

“Nak, maafkan ayah selama ini sudah berbuat yang tidak baik dan menjadi ayah yang tidak bertanggungjawab. Ayah berjanji tidak akan berjudi lagi.” Ayah meneteskan air mata ketulusan.

“Alhamdulillah. Maafkan Icha juga yah, Icha rindu ibu. Semoga kita selalu dilindungi-Nya.” Aku terseyum teramat bahagia.

Malam ini tepatnya malam beberapa hari menuju kemenangan, aku merasakan Allah telah memberikan malam Lailatul Qodar-Nya. Nikmatnya beribadah dan ayah yang sekarang telah berubah membuat aku merasa begitu bahagia. Andai ibu masih ada disini, mungkin akan begitu lengkap kebahagiaaku. Tapi tak mengapa, Allah memang Maha Baik dan Maha Pemberi yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang mau berusaha.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka ” QS Ar-Rad:11

-SEKIAN-

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD             Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *