BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Muslimah / Seruan Mahasiswi Muslim : Saatnya Perempuan Bangkit dan Membangkitkan!

Seruan Mahasiswi Muslim : Saatnya Perempuan Bangkit dan Membangkitkan!

Pentingnya-Pendidikan-Bagi-Musli

Oleh Tia Miftahul Khoiriyah (Ketua Divisi Annisaa Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia)

OKTOBER merupakan bulan yang identik dengan kebangkitan. Teringat kembali sejarah pergerakan Mahasiswa yang memperjuangkan kebebasan negeri ini dari mulai Budi Utomo hingga Mahasiswa 1998. Nyatalah, perubahan wajah Indonesia ini tidak terlepas dari peran Mahasiswa sebagai agent of change, sosial control, guardian of value, dan iron stock. Hal ini menunjukan bahwa Mahasiswa memiliki peranan penting sebagai katalistor perubahan bahkan mereka lah yang akan membangun sebuah peradaban.

Realita saat ini, negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah kaum muslim sedang mengalami kemerosotan bahkan kehancuran dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem perpolitikan yang berbasis Korupsi, Nepotisme, dan Kolusi. Kemudian kasus kriminalitas yang senantiasa mewarnai dalam hitungan detik dari mulai kasus si Emon yang mencabuli puluhan bocah hingga kasus seorang anak kelas 5 SD di Meulaboh, Aceh yang melahirkan setelah menjadi korban asusila dari tetangganya sendiri. Komersialisasi dunia pendidikan, harga rupiah yang terus naik, hingga meningkatnya jumlah karyawan yang di PHK. Maka kondisi ini menuntut adanya kebangkitan baik itu kebangkitan ummat maupun kebangkitan di kalangan muda (Mahasiswa).

Namun di era peradaban kapitalis ini, kebangkitan ummat atau negeri kaum muslim termasuk kebangkitan Mahasiswa sebagai kalangan muda menjadi hal yang ditakuti oleh Barat. Karena kebangkitan ini akan mencabut hegemoni mereka terhadap dunia Islam. Oleh karena itu, Barat menggunakan berbagai cara untuk mencegah kebangkitan, termasuk menjadikan perempuan (muslimah) sebagai sasaran penghancuran. Mereka pun menggunakan kata ‘feminisme’ dan gerakan-gerakannya dalam rangka melanjutkan kepentingan kolonialis di seluruh negeri Islam termasuk Indonesia.

Adapun ide feminisme ini menyebar di kalangan mahasiswi muslim. Tanpa disadari sebagian dari mereka pun mempercayai janji manis feminisme bahwa perempuan harus berdaya secara ekonomi dan bersaing dengan laki-laki di ranah publik. Dengan menyebarnya ide ini, kaburlah standar perempuan sukses yaitu bukan lagi perempuan yang mampu mencetak generasi hebat dan mampu berkonstribusi untuk umat melainkan perempuan yang sukses karir dengan menunda pernikahan dan menunda punya anak. Status ibu rumah tangga pun dianggapnya tidak lebih bergengsi daripada wanita karir dengan gaji puluhan juta. Maka tidak mengherankan jika banyak mahasiswi yang menggunakan masa kuliah untuk mengejar berbagai kompetensi agar bisa bersaing di dunia kerja dan tidak banyak mahasiswi yang serius menimba ilmu untuk menjadi ibu yang baik sesuai tuntutan Islam.

Dalam jangka panjang, Mahasiswi akan menjadi Ibu. Kondisi ini akan menghancurkan generasi karena akan banyak anak yang kehilangan sosok orang tua dengan alasan keduanya sibuk bekerja. Negara pun harus bersiap kehilangan generasinya karena hamil dan melahirkan terjadi di usia yang tua sehingga menjadi sesuatu yang beresiko. Dampak lainnya, apabila perempuan sebagai sosok yang akan men-setting pemahaman generasi, pusat keluarga, dan jantung masyarakat membawa ide kufur (read: pemahaman bukan dari islam, feminisme) dalam mendidik generasi (bahkan acuh terhadap pendidikan generasinya) maka jauhlah kita dari ‘kebangkitan umat’ bahkan tunggulah sebuah kehancuran generasi. Maka kebangkitan ummat pun menjadi sebuah fatamorgana jika Mahasiswi muslim masih terjerat feminisme dan sistem sekuler kapitalis yang melahirkannya.

Berbeda halnya dengan Peradaban Islam yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, Khilafah Islamiyyah. Islam sebagai agama sempurna akan menempatkan perempuan pada posisi yang mulia sebagai ibu pencetak generasi dan al umm wa rabbatl bayt (manajer rumah tangga). Islam menghendaki perempuan berdaya, namun berdaya secara pemikiran. Karena perempuan tidak boleh lepas dari perannya sebagai anggota masyarakat yang harus cerdas politik dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Islam pun membolehkan perempuan bekerja dalam rangka mengamalkan keilmuannya untuk menyelesaikan permasalahan umat bukan untuk bersaing dengan laki-laki dari segi materi ataupun memenuhi ego bahwa perempuan juga kuat.

Tercatat juga dalam sejarah, Peradaban Islam ini mampu membangkitkan umat termasuk kaum perempuannya. Lihat saja, Fatimah binti Ubaidillah membuktikan peran strategisnya sebagai ibu generasi telah berhasil mendidik ulama besar dikenal dengan Imam Syafi’i serta Maryam Al-Astrolabe seorang Ilmuwan Muslim perempuan. Kasus kriminalitas pun hanya ada ±200 selama ±14 abad. Pemerintah pun menjamin kesejahteraan ekonomi rakyatnya hingga pemenuhan kesehatan dan pendidikan yang gratis. Nyatalah sistem ini sempurna karena datang dari Allah Yang Maha Sempurna.

Saudariku, Mahasiswi Muslim untuk mewujudkan kebangkitan umat harus ada langkah tegas dan keberanian sikap untuk bangkit berdasarkan ideologi Islam. Maka sudah saatnya perempuan bangkit dan membangkitkan dengan senantiasa melakukan pembinaan diri untuk menjadi sosok yang cerdas, serta berjuang untuk menghidupkan kembali peradaban Islam.

Nabi saw bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad, No. 8493)

Wallahu’alam bi ash-ashawab

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tunjukan Hasil Ramadhan mu

Ramadhan, bulan mulia nan berkah telah berlalu meninggalkan kita. Bulan dimana pahala dilipat gandakan, bulan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *