BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Sekolah dan Kampus / Sentuhan Bimbingan dan Konseling Islam Menangani Problematika Remaja

Sentuhan Bimbingan dan Konseling Islam Menangani Problematika Remaja

konselingDi era-postmodernisme ini manusia di muka bumi semakin hari kian memiliki problematika tersendiri yang nampak di permukaan peradaban. Media masa yang semakin hilang independensinya, penyimpangan pergaulan dan kriminalitas yang membabi buta, politik yang semakin licik, ribut sana-sini untuk memperdebatkan soalan kebenaran, sisi-sisi jahiliyah yang dahulu sejak zaman Rasulullah SAW muncul kembali di abad ke-21 seperti kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender), pergaulan bebas yang hadir mulai dari kalangan remaja hingga dewasa. Berbagai permasalahan kiranya dapat dilihat menggunakan kacamata yang jelas sesuai dengan temuan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mari kita sama-sama menelisik lebih jauh mengapa persoalan seperti demikian mampu menerobos dinding kekuatan bangsa kita khususnya, dalam konteks manusia dan budaya didalamnya. Dalam model pembangunan bangsa, dalam tulisan ini saya ingin berfokus kepada bagaimana sudut pandang problematika remaja dan solusi yang ditawarkan dalam setting pendidikan. Terlepas dari formal, informal, atau non-formal, itu hanya batasan saja, yang jelas pendidikan sepanjang hayat.

Remaja Hari Ini

Televisi, surat kabar, dan berita lainnya seringkali memunculkan profil-profil remaja hari ini. Kita soroti kriminalitas dan penyimpangan-penyimpangan remaja. Tentang pergaulan bebas, berdasarkan data yang dilansir dari BKKBN tahun 2013 bahwa jumlah seks bebas dikalangan remaja usia 10-14 tahun mencapai 4,38 %, sedangkan pada usia 14-19 seks bebas mencapai 41,8%. Berdasarkan data yang dikeluarkan BKKBN juga, tak kurang dari 800.000 remaja melakukan aborsi setiap tahunnya. Data yang dilansir BNN terkait Narkoba bahwa 53% penduduk Indonesia terjerat kasus Narkoba, diperkirakan sekitar 104.000 orang yang berusia 15 tahun mengalami kematian disebabkan narkoba. Terkait internet, data yang didapatkan dari penelitian lembaga PBB, UNICEF, bersama para mitra bahwa sebanyak 98 persen dari anak-anak hingga remaja tahun tentang internet dan 79,5% diantaranya pengguna internat, hampir semuanya pernah mengakses konten-konten pornografi.

Artinya, dalam konteks perkembangan individu, permasalahan seks bebas sangat banyak dialami oleh remaja usia 14-19 (remaja awal, madya, dan akhir). Remaja hari ini, boleh jadi cerminan masa depan bangsa kita. Lingkungan yang belum mendukung proses perkembangannya, mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat memang kompleks. Terlebih hari ini kasus-kasus remaja seringkali muncul dari bangku sekolah, namun tak terlepas dari integrasinya dengan keluarga dan masyarakat.

Mengapa Demikian ?

Doktrin dari Teori Psikoanalisa Sigmund Freud kiranya menjadi salah satu referensi mengapa terjadi problematika remaja demikan. Manusia tidak luput dari masa lalunya, dan manusia hidup didominasi oleh unconscious mind. Jika seks bebas yang terjadi oleh remaja karena masa kecilnya remaja tersebut mengalami sexual abuse maka adalah tidak heran jika ketika remaja menjadi pelakunya. Belum lagi Teori Psikologi Sosial Albert Bandura mengatkan bahwa anak-remaja akan melakukan imitasi terhadap orang dewasa.

Walaupun terdapat di anak-anak yang lebih muda, dalam masa remajalah Orientasi Seksual (sexual orientation) seseorang biasanya menjadi isu yang penting apakah orang tersebut secara konsisten tertarik pada lawan jenis (heteroseksual), pada sesama jenis (homoseksual), atau kedua jenis kelamin (biseksual). (Papalia, Olds, Feldman, 2009 : 74)

Lebih jelasnya lagi, dalam Teori Psikososial Erik H. Erikson bahwa tahap adolescent (remaja 12-20 tahun) merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya, karena pada akhir tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik walaupun pencarian identitas ego itu tidak dimulai dan tidak berakhir pada usia remaja, krisis antara identitas dengan kekacauan identitas mencapai puncaknya pada tahap adolesen ini. (Alwisol, 2012 : 98). Karena kekacauan identitas maka dampak yang muncul dapat positif juga negatif. Khususnya dalam permasalahan yang diangkat, maka kekacauan identitas adalah wajar di usia remaja. Maka dari itu, secara intrapersonal remaja bahwa problematika yang dihadapinnya berasal dari masa identitasnya yang sedang bingung dan lingkungan yang belum mendukung.

Mengapa Bimbingan dan Konseling Islam Sebagai Solusinya ?

Pendidikan adalah solusi yang sangat tepat untuk merubah moral individu. Khususnya remaja, isu-isu yang berkaitan selalu ditilik dalam sudut pandang pendidikannya. Jika dalam pandangan sempit bahwa pendidikan adalah persekolahan, maka disini saya pula akan menyampaikan bahwa ada terminologi pendidikan informal-formal-nonformal yang memiliki peranan strategis.

Bimbingan dan konseling hadir dengan keunikan konteks tugas dan layanannya. Pandangan tentang “polisi sekolah” atau “guru makan gaji buta” dan “mengajar” haruslah segera diganti dengan sebuah pandangan baru. Paradigma yang seharusnya muncul kini adalah tentang perkembangan dan kebudayaan berlandaskan kasih sayang. Merujuk kepada Q.S Ar-Rahman Ayat 1-4 yang menegaskan tentang kasih sayang-Nya, pemahaman terhadap makhluk ciptaan-Nya yang perlu menjadi bahan perenungan konselor. Lantas kemudian mengapa bimbingan dan konseling islam menjadi jawaban dari persoalan remaja ?

Layanan Pendidikan Terintegrasi

Persoalan remaja kiranya dapat teratasi dengan layanan bimbingan dan konseling yang komprehensif tak terlepas dari esensi kulturalnya terdiri atas layanan dasar, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan sistem. Dalam layanan dasar, remaja mampu diberikan layanan informasi mengenai dunia remaja secara global hingga lokal dengan gaya penyampaian bukan pengajaran namun lebih dikemas kearah penyampaian informasi yang kreatif. Lain hal dengan layanan responsif lebih kepada upaya kuratif, sehingga konseling menjadi salah satu bentuk layanannya. Terkait layanan perencanaan individual lebih mengarahkan kepada karir kedepannya. Diperkuat dengan dukungan sistem dari berbagai elemen. Namun sayangnya, layanan tersebut baru kuat, legal-formal dalam pendidikan formal. Terlepas dari itu, sedikit-demi sedikit dibangun di lingkungan pendidikan informal dan non-formal. Intinya, layanan yang dibangun tidak hanya bersifat responsif, namun preventif dan tetap developmental. Karena berdasarkan kepada prinsip guidance for all.

Sosok Konselor Berakhlak Baik dan Rasulullah Menjadi Teladannya

Dalam konteks kerja bimbingan dan konseling, Konselor adalah pemeran utama sebagai eksekutor, inspirator, motivator, sekaligus pembelajar sejati yang memiliki peranan penting. Menekankan aspek kepribadian konselor maka sudah semestinya konselor memiliki akhlak yang baik dan kuat. Literatur-literatur barat yang muncul sangat minim memperkenalkan sosok konselor seumur hidup, dan tak tergantikan, Rasulullah SAW. Teori-teori barat yang menjadi rujukan utama keilmuan psikologi lebih dominan ketimbang ilmu psikologi yang sudah dicontohkan perilaku-perilakunya oleh Rasulullah SAW. Nyatanya, teori-teori barat seperti psikoanalisa yang dipatahkan oleh behavioristik, kemudian muncul lagi teori humanistik yang mematahkan asumsi kedua teori tersebut, muncul lagi teori realitas, dan teori-teori lainnya. Sehingga sulit sekali mencari kebenaran absolut jika kita hanya merujuk kepada literatur-literatur barat.

Dengan mempelajari kepribadian Nabi Muhammad SAW, maka role model profil pribadi konselor sudah seharusnya memiliki karakteristik Shidiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh. Sekalipun hadir teori Carl R. Rogers tentang Profil Konselor yang menegaskan bahwa konselor harus memiliki karakteristik empathy, genuine, warmth, unconditional positive regard, psychological strength, namun karakteristik tersebut sudah tercermin dalam kepribadian Nabi Muhammad SAW yang terlihat kesehariannya mampu berempati kepada seorang pengemis yang selalu mengolok-oloknya, asli tak ada manipulasi kepribadian, hangat terhadap banyak orang, tak pandang bulu, dan juga memiliki kekuatan psikologis yang tercermin dalam sikap-sikap dan keputusannya dalam berperang. Lengkap sudah jika konselor-konselor hari ini memiliki kepribadian terbaik.

Kesimpulan

Dari banyaknya problematika remaja yang hadir, tentu Allah memberikan ujian, ada pula jawabannya. Masalah pasti ada solusinya. Pendidikan adalah solusi terbaiknya. Solusi yang ditawarkan adalah bimbingan dan konseling Islam dengan segala keunikan konteks tugasnya sehingga mampu menjadikan pribadi remaja-remaja di Indonesia menjadi remaja yang berprestasi dan berakhlak mulia demi tercapainya khilafah. Waulohualam..

Fikri Faturrahman

Mahasiswa Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, 2012

Menteri Pendidikan BEM REMA UPI 2015

Daftar Rujukan

Papalia, Olds, Feldman. 2009. Human Development. Jakarta : Salemba Humanika

Alwisol. 2012. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press

Abdulwahab, Sofyan. 2014. Ayo Remaja Indonesia Musnahkan Seks Bebas. [online] tersedia :http://legendaqori3.blogdetik.com/2014/05/10/ayo-remaja-indonesia-musnahkan-seks-bebas/

ZK. 2015. Tahun 2015 Jumlah Pengguna Narkoba di Indonesia Capai 5 Juta Orang. [online] tersedia : http://portalindonesianews.com/posts/view/1 626 /tahun_2015_ jumlah_pengguna_narkoba_di_indonesia_capai_5_juta_orang

Panji, Aditya, 2014. Hasil Survei Pemakaian Internet Remaja. [online] tersedia : http://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/1623250/hasil.survei.pemakaian.internet.remaja.indonesia

Yuk Komentar!

Komentarmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *