BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Sembilan Hal Yang Menghambat Seorang Pemuda Untuk Hijrah (3-Habis)

Sembilan Hal Yang Menghambat Seorang Pemuda Untuk Hijrah (3-Habis)

7. Negara dan Masyarakat Yang Sekuler

Seorang muslim yang ingin hijrah bisa tertahan dalam hijrahnya karena ia hidup dalam negara dan masyarakat yang sekuler. Dan tak dapat dipungkiri bahwa negara dan masyarakat Indonesia adalah negara dan masyarakat yang sekuler, walau tidak terlalu mengakar.

Kehidupan masyarakat yang sekuler yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam bisa membuat seorang muslim yang ingin berhijrah dilematis sehingga hijrahnya tertahan.

Dilema ini juga dirasakan bagi mereka seorang muslim yang taat. Ini terjadi karena masyarakat sekuler membuat kondisi yang dimana ketika seorang muslim ingin melaksanakan perintah Allah dengan sempurna maka ia akan menjauhi masyarakat. Namun bila ia ingin bergaul dengan masyarakat ia harus meninggalkan perintah-perintah Allah. Masyarakat sekuler membuat kondisi bahwa agama ibarat pakaian yang suatu saat bisa dilepas dan saat yang lain bisa dipakai. Hati umat Islam yg lurus jelas menolak hal hina tersebut.

Dilema seperti ini menyebabkan dua kubu ekstrim dalam umat Islam. Yaitu pertama mereka yang menyalah artikan uzlah sehingga mereka benar-benar menjauhi masyarakat yang rusak lalu mereka tinggal digunung-gunung bahkan di goa-goa yang jauh dari masyarakat, hidupnya benar-benar terasing dan mereka melepaskan kewajiban berdakwah kepada masyarakat yang rusak itu.

Dan yang kedua adalah mereka yang terjun kemasyarakat beserta kerusakan-kerusakannya. Mereka menghadiri hajatan-hajatan masyarakat yang penuh kemaksiatan bahkan kesyirikan tapi mereka juga menghadiri majelis-majelis keilmuan. Pergaulannya bebas / berikhtilath tapi ia juga sholat berjamaah. Mereka juga membuat hukum-hukum dan keputusan-keputusan positif yang bertentangan dengan ajaran Islam tapi mereka juga (merasa) berdakwah. Kehidupan sosialnya serba kontradiktif dengan ajaran Islam dan bila ia memiliki iman yang kuat pastilah hatinya penuh kebimbangan dan keresahan karena sering mengorbankan ajaran agamanya.

Seeorang yang ingin hijrah akan dilema dengan dua bayangan kehidupan diatas yang dimana keduanya akan membuat hidup sulit. Sebenarnya kita bisa memilih jalan yang bijaksana diantara kedua jalan tersebut. Kita bisa tetap mengamalkan agama kita di kehidupan masyarakat yang sekuler, dengan batasan-batasan yang jelas tentunya. Kita bisa menghadiri majelis-majelis di masyarakat, kita bisa berkontribusi kebaikan pada masyarakat, dan kita bisa berdakwah kepada masyarakat tanpa perlu melebur apalagi sambil bermanis muka dalam kehidupan masyarakat yang jauh dari agama seperti hajatan-hajatan yang banyak maksiatnya, pergaulan yang tak tahu batasan syariah, dan acara-acara yang hanya sekedar senang-senang saja tanpa makna dan biasanya di acara-acara tersebut banyak kemaksiatan seperti khalwat dan ikhtilath.

Dengan begitu kita bisa tetap mengamalkan perintah-perintah Allah dalam kehidupan pribadi dan masyarakat (walau tidak keseluruhan) tanpa mengorbankan perintah-perintah tersebut di satu sisi dan menjalankannya disisi yang lain. Dan kita akan terus dengan kesungguhan dan keyakinan tanpa kata menyerah dan penuh ketawakkalan menyeru dan mengajak pada negara dan masyarakat kepada jalan yang lurus yaitu jalan Islam, syariat Islam. Sehingga dengan izin Allah kita bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dalam setiap sendi kehidupan. Karena Allah berfirman :

Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah: 50)

 

8. Tidak Memiliki Jamaah atau Komunitas Keislaman dan Tidak Berteman Dengan Orang Sholeh

Hal ini biasanya menjadi hal yang paling krusial/menentukan pada diri seseorang ketika ingin berhijrah. Ia ingin segera hijrah tetapi tidak memiliki tempat untuk mengekspresikan dirinya sehingga hijrahnya tertahan. Biasanya mereka terlalu segan terhadap teman-temannya yang biasa melakukan maksiat, pada satu sisi mereka takut kehilangan teman-temannya itu dan disisi lain mereka juga enggan mengikuti atau bergabung dengan aktivitas teman-temannya yang terbiasa maksiat itu. Bisa juga ia masih terikat dengan kekasih tidak halalnya (pacarnya)

Ikatan-ikatan perasaan semacam itu sejatinya tidak akan bertahan lama karena ikatannya tidak didasarkan pada sesuatu yang kuat. Namun memang ini menjadi dilematis tersendiri yang cukup menyita pemikiran dan perasaan seseorang. Solusinya adalah bergabung dalam jammah atau komunitas keislaman dan berteman dengan orang-orang sholeh dan dengan penuh kesungguhan serta keberanian mengajak teman-temannya agar sama-sama berhijrah.

Saat berteman dengan orang-orang sholeh kita akan sadar bahwa teman kita sejatinya tidak itu-itu saja. Banyak orang diluar sana yang ternyata bisa menjadi teman kita bahkan mereka lebih peduli dengan kita, mereka ingin kita maju dan lebih baik setiap harinya dan mereka melakukan itu dengan ikhlas semata-mata karena Allah.

Inilah ikatan yang kuat, yaitu ikatan yang disambungkan kepada Allah yang berlandaskan iman dan Islam. Apalagi bila pertemanan itu diwadahi dalam suatu jamaah atau komunitas yang memiliki tujuan dan misi yang jelas sehingga dalam jamaah atau komunitas itu mereka bisa saling menasehati agar lebih baik lagi dan agar bisa bekerja sama untuk berbagi, berdakwah, serta berkontribusi pada umat dan lingkungan sekitar.

Percayalah, bila kamu tidak bergabung dalam jamaah atau komunitas keislaman atau tidak berteman dengan orang sholeh, maka bisa saja nasibmu sama seperti seseorang diakhirat nanti yang mengatakan :

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia (TQS al-Furqan: 27-29).

 

9. Tidak Mau Memulai dan Melangkah

Nah… inilah salah satu penghambat terbesar seseorang untuk hijrah, untuk lebih dekat lagi dengan Rabb-nya, dan untuk lebih mencintai lagi Rabb-nya. Ya… tidak mau memulai dan melangkah (sekecil apapun langkah itu) dengan berbagai alasan hanya akan menjadi penghambat turunnya hidayah taufiq Allah kepada kita.

Biasanya kita tidak mau memulai dengan alasan menunggu kesiapan. Padahal kesiapan itu muncul saat kita memulai, dan yakinlah Allah akan memudahkan kita setelah itu untuk ketaatan-ketaatan selanjutnya asal kita mau menerima dan mengamalkannya. Allah telah menjanjikan hal ini dalam firman-Nya :

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya. (TQS Muhammad : 17)

Dan bila kita memulai, banyaklah berdoa kepada Allah agar kita tidak kembali kebelakang lagi dan agar kita tetap istiqomah bersama-Nya dijalan-Nya dengan doa yang biasa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam panjatkan yaitu:

Ya Allah, yang kuasa membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu. (HR Tirmizi dan Al Hakim)

Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu. (HR. Muslim)

Dan teruslah dengan tidak bosan-bosannya minta ditambahkan petunjuk, ilmu, dan amal dengan doa :

Ya Allah, hiasilah aku dengan perhiasan iman, dan berikanlah aku hidayahnya orang-orang yang mendapat petunjuk (HR. An-Nasa’i)

Dan mantapkanlah hati saat membaca:

Tunjukilah kami jalan yang lurus (TQS al-Fatihah : 6)

 

 

 

Wa Allahu’alam Bishowab

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Sembilan Hal Yang Menghambat Seorang Pemuda Untuk Hijrah (2)

4. Merasa Umurnya Akan Panjang Orang-orang yang merasa umurnya akan panjang sehingga menunda-nunda hijrahnya adalah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *