BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / SEBARKAN! Agar Tuan Jokowi Mendengarkan Jeritan Wong Cilik

SEBARKAN! Agar Tuan Jokowi Mendengarkan Jeritan Wong Cilik

Janji-Jokowi-tuk-dana-desaSumber gambar : pekanews.com

Bukan sebuah kebetulan, karena semua kejadian sudah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Pun dengan tulisan yang tertunda selama dua puluh empat jam ini, bukan kebetulan. Segala yang terjadi sudah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh, dan terjadi atas Mahakuasa Allah Ta’ala.

Saya hendak mengadu kepada Tuan. Sebab istana nampaknya amat jauh untuk dijangkau oleh kawula-kawula alit yang jumlahnya bertambah sejak setahun ini, setelah Tuan yang katanya berasal dari partai wong cilik menjadi Presiden di negeri kami.

Sebelum melanjutkan, saya tidak memiliki tendensi, kecuali berharap kebaikan. Harapannya, tulisan remeh ini dibaca oleh Tuan, entah bagaimana jalan sampainya. Di sini saya tegaskan, saya hanya ingin mengadukan keluhan-keluhan yang dialami oleh mayoritas warga negeri ini. Keluhan yang sejatinya bermakna jeritan hati yang nadanya perih.

Kemarin, atas takdir Allah Ta’ala, saya makan siang di sebuah warteg kawasan sekitar kabupaten Tangerang provinsi Banten. Wartegnya bersih. Letaknya di tengah-tengah lokasi perkampungan, sekaligus di pinggir jalan dan di dekat masjid. Masakan enak pun melengkapi alasan hingga-seharusnya-warteg ini diburu oleh sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Akan tetapi, tukang bakso yang (bukan) kebetulan makan siang di warteg itu berkata, “Coba lihat, Mas. Ini kan jam makan siang. Harusnya, warteg ini ramai. Tapi, kenapa sepi begini?”

Saya hanya memperhatikan ekspresi wajah, gerakan tangan, dan kerutan kulit laki-laki yang berjualan tak jauh dari lokasi warteg itu. “Sebab,” lanjutnya tanpa saya minta, “daya beli masyarakat menurun. Gaji gak naik-naik, tapi pengeluaran bertambah sebab semua barang mahal.”

Tak lama setelah itu, Mbak penjaga warteg keluar karena ada satu pembeli yang nampaknya seorang tukang becak. “Apalagi, Mas,” ujarnya melengkapi, “bagi penjual. Pusing. Semua barang mahal. Tapi, masih saja ada orang yang beli lauk dua ribu rupiah.”

Di sini, Tuan Jokowi, dan mungkin di banyak lokasi sekitar ibu kota lain, dua ribu rupiah hanya cukup untuk sekali parkir. Bahkan jika ditambah retribusi masuk pasar, dua ribu tak cukup untuk sekali masuk. “Emang dua ribu dapat apa, Mas?” retoris si Mbak, “buat parkir di pasar aja gak dapet.”

Keluhan-keluhan itu pun bertambah ketika ada seoorang wanita tambun dengan berat lebih dari 70 kilogram. Dia yang merupakan salah satu pelanggan bakso bertanya soalan harga beberapa bahan kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang ini, Bu,” kisah Abang tukang bakso, “harga ayam di tempat saya belanja naik 100 persen lebih.”

“Bener, Pak?” sahut si perempuan yang semalam lalu membeli 9 mangkok bakso untuk sekeluarga besarnya. “Jika demikian,” katanya sampaikan tanya, “harga telor ayam naik juga ya?”

“Iya, Bu,” jawab laki-laki bertas hitam tulisan Sosialiasai Empat Pilar MPR-RI yang makan siang di warteg tersebut. Jelasnya tanpa diminta, “Di tempat saya sudah dua puluh enam ribu rupiah per kilogram. Di lokasi lain, kabarnya sudah ada yang dua puluh delapan ribu rupiah.”

“Waduh!” spontan si perempuan yang tengah menunggu soto ayam pesanannya.

Obrolan pun mengalir. Santai. Hingga akhirnya, ada yang menyela, “Bukannya waktu kampanye Pak Jokowi bilang bahwa setahun setelah pemerintahannya ekonomi akan meroket ya?”

“Iya sih. Bilangnya begitu.” sahut Abang tukang bakso.

“Maksudnya meroket apaan?” tanya Mbak warteg. Jelasnya bernada tanya, “meroket yang artinya membaik atau semua harga meroket?”

Entahlah, Mbak. Saya tak kuasa menjelaskannya. Bahkan saya keluh untuk sekadar berkisah bahwa mereka yang memimpin kita ini, mungkin tak benar-benar mengetahui apa yang tengah mereka kerjakan.

Sumber : BersamaDakwah

Penulis : Pirman

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

4 comments

  1. Masihlah bersyukur, mbak warteg masih bisa brrjualan, tukang bakso masih bisa keliling dorong gerobaknya, tukang becak masih bisa makan di warteg, bagaimana dengan saya jg masih bersyukur meski semenjak kepemimpinan Jokowi Manusia setengah dewa saya harus kehilangan rumah utk biaya hidup sehari hari, belum lama sepeda motor harus melayang terjual untuk biaya spp anak saya satu2nya, dan sy harus bersabar Indonesia kembali mendapat berkah

  2. terkadang pemerintah hanya melihat dari media saja, apa yang sedang eksis maka itulah yang di kunjungi. seharusnya lihat kebelakang masih banyak tempat tempat yang seharusnya mendapat bantuan. untuk Tuan media itu klise cobalah telaah sedikit kebawah dan cermati. saya berharap agar kinerjanya lebih baik lagi dan buktikan semua visi dan misi Tuan saat sebelum anda menjadi seorang pemimpin. terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *