BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Dari Pakar Pendidikan / Problematika Pendidikan Dasar

Problematika Pendidikan Dasar

4

Oleh: Dr. Diding Nurdin., M.Pd. (Dosen Administrasi Pendidikan FIP UPI)

Pada saat ini bangsa Indonesia menghadapi persoalan dan krisis yang amat menadasar yakni lemahnya pendidikan dasar. Pendidikan dasar dari mulai SD sampai SMP tercerabut dari akarnya baik secara substansi maupun metodologi lemah dalam menanamkan nilai-nilai moral, akhlak, etika, estetika, sikap, dan keagamaan yang sejatinya tertanam secara mendalam dalam diri anak sejak dini. Selama ini pendidikan dasar lebih berorientasi pada aspek pengetahuan saja (kognitif/knowledge) yang mengukur dan menilai keberhasilan anak dalam belajar dengan nilai angka yang tinggi.

                Pendidikan dasar merupakan fondasi yang amat menentukan perkembangan  anak bangsa dalam kehidupan berikutnya. Apabila sejak dini anak sudah memperoleh pendidikan yang berkualitas, masa depan anak akan lebih baik dalam mengarungi kehidupannya. Sebaliknya, apabila pendidikan dasar ini rapuh, lemah, dan tidak berkualitas, bisa dipastikan masa depan mereka akan sulit mengarungi kehidupan yang serba cepat, kompleks, dan kompetitif yang mensyaratkan setiap orang memiliki kekuatan imtak dan iptek. Dengan demikian, pendidikan dasar merupakan pendidikan yang seyogyanya memperoleh perhatian yang sungguh-sungguh dari orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

5

                Pendidikan dasar di Indonesia masih mengalami masalah dalam berbagai aspeknya. Berbagai upaya perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi belum menyentuh akar masalah yang melingkupnya. Selama ini, upaya mengatasi masalah pendiddikan yang lebih mengemuka adalah masalah kurikulum dan ujian nasional. Sepertinya masalah ini selalu mengemuka ke hadapan masyarakat, padahal kurikulum dan ujian nasional merupakan salah satu komponen saja dalam sistem pendidikan. Sementara itu, kmponen pendidikan lainnya seringkali dikesampingkan.

                Sesungguhnya masalah yang amat mendasar dalam pendidikan dasar di Indonesia, menurut penulis adalah lemahnya pendidikan akhlak, moral, sikap, etika, estetika, dan keagamaan. Sejatinya, pendidikan akhlak, moral, sikap, etika, estetika, dan keagamaan ini menjadi fondasi yang kuat bagi anak untuk kehidupan di masa depannya. Dengan demikian, lulusan pendiddikan dasar memiliki karakter yang baik dan kuat.

Paradigma Baru

                Pendidikan dasar merupakan fondasi pendidikan yang amat mendasar untuk membangun anak bangsa yang berkualitas. Bangunan yang kokoh  adalah bangunan yang fondasinya kuat berkualitas. Sebaliknya, bangunan yang fondasinya jelek, akan mudah rusak, bahkan akan cepat roboh pula. Sebagai ilustrasi paradigma pendidikan dasar ini, pembinaan karakter, akhlak, moral, sikap, etika, estetika, dan keagamaan harus lebih besar porsinya di SD/SMP 60% sedangkan pengetahuan/kognitif/knowledge (20%), dan keterampilan/skill (20%). Peran guru dan orang tua dalam pembinaan serta penanaman nilai-nilai pendidikan akhlak, moral, sikap, etika, estetika, dan keagamaan  ini dengan metode bervariasi melalui pembiasaan, keteladanan, memaknai cerita/kisah para pahlawan dengan media audio visual yang menarik bagi siswa. Pendekatan pembelajaran tematik terpadu dalam pendidikan dasar dan menengah menuntut guru agar berubah dalam pola pikir dan kebiasaan yang selama ini masih monoton dan rutinitas.

Untuk di SMA, pendidikan akhlak, moral, sikap, etika, estetika, dan keagamaan porsinya 40% pengetahuan/kognitif/knowledge (30%), dan keterampilan/skill (30%). Metode bervariasi seperti diskusinya, bermain peran, simulasi, juga didukung dengan media pembelajaran yang menarik akan menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan.

                Berbeda dengan bangunan pendidikan di perguruan tinggi melalui pembinaan karakter, akhlak, moral, etika, dan estetika, dan keagamaan porsinya 20%, pengetahuan/knowladge/kognitif (40%), serta keterampilam dan softskill (40%). Dosen berperan sebagai fasilitator, motivator, dan mediator agar proses belajar dan mengajar berkualitas. Pemahaman dan penguasaan teori konsep pengetahuan, metodologi dan keterampilan agar lebih besar sehingga terus berkembang.

                Pandangan Bruner (1960) dan Marzano (1985) yang mengemukakan bahwa pendidikan hendaknya mengembangkan keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membangun keterangan halus (softskill) dan keterampilan (hardskill) anak agar dapat berperan sesuai dengan zamannya. Keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan harus mempertimbangkan perkembangan anak baik ditinjau dari segi usia, akses, dan kesempatan yang luas bagi terciptanya pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan sebaliknya, pendidikan dasar yang lemah dan rendah kualitas penanaman nilai-nilai karakter yang sejatinya menjadi fondasi bagi perkembangan hidup anak di masa depannya. Sudah saatnya kebijakan pemerintah memperhatikan kualitas  anak bangsa yang sedang belajar di pendidikan dasar ini. Mereka yang sedang menempuh pendididkan dasar adalah generasi yang akan hidup produktif dan menjadi pemimpin peradaban dunia pada tahun 2035, Indonesia Emas, Semoga. []

Tulisan ini pernah dimuat di kolom opini koran Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2013.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Jangan Ngaku Pemimpin Jika Gengsi Bawa Anak

JIKA mendengar pembahasan tentang Rasulullah bawaannya suka sedih, karena tak sedikit orang yang hapal sejarah baginda ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *