BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / PRO KONTRA KEBIJAKAN FULL DAY SCHOOL

PRO KONTRA KEBIJAKAN FULL DAY SCHOOL

PRO-KONTRA KEBIJAKAN FULL DAY SCHOOL

Oleh : Tatang Hidayat – Ketua Umum UKM KALAM UPI 2016 / Mahasiswa Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam 2013

Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk menunjang suatu peradaban yang gemilang, karena dengan pendidikan yang baik akan membuat suatu bangsa tersebut memiliki peradaban yang gemilang. Tetapi dalam realitasnya pendidikan yang ada di negeri sungguh sangat ironi, permasalahan demi permasalahan di dunia pendidikan terus kita alami. Salah satunya bangsa ini mengalami krisis sosial budaya dan krisis moral.

Menurut Kominfo setelah dilakukan riset kepada 1200 pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar di Indonesia. Hasilnya mengejutkan, 97 persen pelajar Indonesia pernah dan suka membuka situs porno. Dan yang lebih mengerikan lagi, 61 persen diantaranya sudah melakukan hubungan intim diluar nikah. (Islampos.com 19/01/2015)

Dari berbagai permasalahan yang melanda dunia pendidikan di negeri ini, timbullah beberapa solusi yang di lakukan, diantaranya mengganti kurikulum, hingga mengganti menteri pendidikan dan kebudayaan. Salah satunya apa yang di sampaikan menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru yaitu Prof. Dr. Muhadjir Effendy menggagas sekolah sepanjang hari (full day school) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Tujuannya membuat anak memiliki kegiatan di sekolah dibandingkan berada sendirian di rumah ketika orang tua mereka masih bekerja. (CNNIndonesia.com, 8/8/2016)

Menyinggung penerapan full day school dalam pendidikan dasar tersebut, mantan Rektor UMM itu mengatakan bahwa hal itu saat ini masih terus disosialisasikan di sekolah-sekolah, mulai di pusat hingga di daerah. (Kompas.com, 8/8/2016)

Penerapan full day school menuai pro kontra di kalangan masyarakat, Wakil Ketua Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan saran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy agar sekolah negeri maupun swasta mulai melirik sistem belajar full day school harus dipikirkan dan dirancang dengan benar. Ia mengatakan mendukung rencana kebijakan ini tapi definisi full day school juga harus dipikirkan ulang. (Republika.co.id, 8/8/2016)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai menteri baru tidak harus membuat kebijakan baru, apalagi tanpa didahului kajian yang matang. Akibatnya justru akan merugikan anak. Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan kebijakan pendidikan apalagi yang bersifat nasional tidak bisa didasarkan pengalaman orang per orang. “Pengambilan kebijakan nasional tidak boleh parsial. Tidak boleh hanya berdasar kepada pengalaman pribadi,” ujarnya, Selasa (9/8). (Republika.co.id, 9/8/2016)

Sedangkan pandangan orangtua murid ada yang menentang, ada juga yang setuju. Mereka yang tak setuju seperti Iwan Sastra, seorang wali murid dari SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Menurut dia, sistem itu jangan dipaksakan sebab tidak semua fasilitas sekolah sama, swasta maupu negeri. (CNNIndonesia.com, 9/8/2016)

Tapi orangtua yang setuju, seperti Wanti Hartini, wali murid dari SDIT Al-Manar, Bekasi, mengatakan sistem itu membantunya sebagai wanita karier. Menurutnya, anak lebih aman diawasi guru ketimbang sudah di rumah tapi tak ada orangtua. (CNNIndonesia.com, 9/8/2016)

Setelah menuai pro kontra di kalangan masyarakat tentang ide full day school dari menteri pendidikan dan kebudayaan, beberapa hari kemudian ide penerapan full day school akan dibatalkan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan kementeriannya akan membatalkan rencana perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah jika masyarakat keberatan. Perpanjangan jam sekolah yang ramai disebut sebagai full day school itu bertujuan memperpendek waktu di luar sekolah. Dengan waktu panjang di sekolah, siswa mendapat tambahan jam untuk belajar pendidikan karakter budi pekerti dari para guru. (Tempo.com, (9/8/2016)

Karena sistem pendidikan yang ada di negeri ini adalah sistem pendidikan yang sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga pendidikan terbagi dua, ada pendidikan umum dan ada pendidikan agama. Penerapan full day school akan membuat anak-anak khususnya SD dan SMP, menjadi kehilangan waktu mereka. Waktu bersama keluarga, teman-teman, dan masyarakat, mereka akan disibukkan bekerja keras untuk menjadi “pintar” tanpa daya dukung agama di dalamnya. Waktu mereka akan disibukkan dengan pendidikan di sekolah dan mereka akan hilang waktu belajar ngaji utamanya pendidikan Islam.

Padahal saat ini juga, anak-anak sudah sangat disibukkan dengan tugas-tugas yang ada disekolah, belum mengikuti kursus/les di luar jam sekolah untuk persiapan Ujian Nasional (UN), apakah belum cukup dengan pelajaran yang ada di sekolah sehingga ada yang mengikuti kursus/les. Terkadang pulang dari sekolah ditambah kursus biasanya sampai sore bahkan sampai malam. Waktu mereka semua terfosir untuk sekolah dan kursus, kemudian ketika di rumah sudah dalam kondisi lelah seharian. Sedangkan untuk mengaji ilmu agama, mereka gunakan sisa-sisa tenaga dari lelahnya seharian, sehingga guru ngaji sepi peminat, hilanglah nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka.

Sistem pendidikan saat ini lebih menekankan pada nilai intelektualnya saja, tidak di imbangi dengan nilai spiritual, sehingga peserta didik sibuk dengan kepintaran dan mencari nilai, mereka lupa akan nilai spiritual untuk mengimbangi nilai intelektualnya. Timbullah berbagai macam krisis dari hasil sistem pendidikan saat ini. timbul berbagai macam permasalah yang melanda generasi muda di negeri ini, mulai dari krisis Aqidah, krisis sosial budaya, krisis moral, bahkan sampai krisis intelektual.

Kini generasi muda yang hanya mengejar kebahagian yang semu akibatnya mereka kehilangan semangat dalam menuntut ilmu yang di perintahkan oleh Sang Pencipta. ”Data yang didapat dari Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011 yang di keluarkan oleh UNESCO diluncurkan di New York indeks pembangunan pendidikan atau Education Development Index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara.” (kompasiana,com, 22/07/2014)

Kebijakan penerapan full day school tergantung dengan tujuan yang akan dituju, kebijakan tersebut bisa baik, bisa juga tidak baik, tergantung dengan tujuan yang akan dicapainya. Maka setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi kemudian semua dicari solusi yang bukan dari Islam, maka hakikatnya solusi tersebut akan menimbulkan masalah yang baru. Karena pemikiran tersebut lahir berasal dari sistem kehidupan yang tidak merujuk kepada Islam. Seharusnya akarnya dahulu harus dituntaskan kemudian baru cabang-cabangnya. Permasalahan yang melanda pendidikan kita saat ini merupakan tugas kita bersama untuk memperbaikinya, karena permasalahan yang ada di negeri ini hakikatnya merupakan permasalahan yang sistematik, dan solusinya juga haruslah solusi yang sistematik.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Inilah 6 Manfaat Menikah di Usia Muda

Rasulullah Saw. pernah bersabda yang memerintahkan para syabab untuk menikah. يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *