BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Pesona Islam Memuliakan Perempuan

Pesona Islam Memuliakan Perempuan

11139001_883874211670714_2135689460435489249_n

Perempuan adalah makhluk yang penuh dengan keindahan. Siapa yang tak setuju dengan hal ini? Namun, Sebelum Islam datang, posisi perempuan sangatlah memprihatinkan. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang sangat rendah, hina, dan tak berharga. Pada masa Arab jahiliyah misalnya, perempuan dianggap sebagai aib keluarga. Sehingga ketika lahir bayi perempuan, mereka tega menguburnya hidup-hidup. Demikian pula pada masa peradaban Romawi, Cina, Hindu kuno, Yahudi kuno, dan Nasrani kuno. Perempuan dipandang sebagai makhluk yang lemah, kotor, dan menjadi sumber laknat. Bahkan, ketika perempuan sedang haid, ia harus dibuang ke luar wilayah. Ketika pembagian harta waris pun, perempuan tidak berhak mendapatkan bagian waris, baik dari suami, ayah, atau anggota keluarganya yang lain. Perempuan juga diposisikan sama dengan pembantu, sehingga berhak dijual, sekalipun oleh ayahnya sendiri.

Islam mendudukan perempuan sebagai makhluk yang mulia sejak dari kelahirannya. Ketika manusia menganggap kelahiran perempuan sebagai akar dari kehinaan, Islam justru mengikis anggapan itu dengan mengecam siapa saja yang bergembira dengan kelahiran anak laki-laki dan bersedih dengan kelahiran perempuan (QS. An-Nahl: 58-59).

Allah yang Maha Pengasih pun jelas sangat Mengetahui indahnya sosok perempuan yang diciptakannya, karena itulah Dia Menetapkan kewajiban bagi perempuan untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh (QS. Al-Ahzab: 59) dan memakai kerudung hingga ke dadanya (QS. An-Nur: 31). Aturan ini semata-mata untuk melindungi kecantikan dan keindahan perempuan sehingga tak semua orang boleh menatapnya dengan bebas apalagi dijadikan sebagai “alat” untukpihak yang ingin meraup keuntungan.

Islam mengatur perempuan untuk keluar rumah bersama dengan mahramnya pada jarak dan waktu tertentu (HR. Muslim). Aturan ini membuat perempuan diperlakukan layaknya putri raja yang selau dikawal ketika bepergian demi menjamin keamanannya dan memastikannya bahwa ia tidak diganggu.

Islam juga tidak membedakan perempuan untuk mendapatkan hak belajar yang sama dengan laki-laki. Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban belajar ini. SebutsajaMariam Al-Astrulabiseorang muslimahshalehah nan cerdas yang dijuluki “al-Asturlabi” karena memiliki kontribusi luar biasa dalam pengembangan Astrolab (sebuah alat penting dalam navigasi astronomiscikal bakal GPS saatini )dan juga Syifa binti Abdullah yang dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum datangnya Islam sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah dgn mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karen itulah beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam, demikianlah contoh kecil dari perempuan Islam yang cerdas. kecerdasannya pun tidak digunakan hanya untuk kepentingan pribadi, namun mereka berkontribusi demi kemajuan Islam dan kehidupan masyarakat.

Perempuan dalam Islam ditetapkan untuk menjadi Ummu Warabbatul Bait atau ibu pengatur rumah tangga yang mengelola rumah suaminya. Ia menjadi tonggak bagi pendidikan yang pertama dan utama bagi putra-putrinya. Perempuanlah yang di tangannya ditentukan kualitas generasi. Tanggung jawabnya itu didukung dengan aturan Islam lain yang tidak mengharuskannya bekerja di luar rumah dan melupakan fitrahnya sebagai ibu. Islam memperbolehkan perempuan bekerja ketika kewajibannya sebagai Ummu Warabbatul Bait telah dijalaninya dengan baik. Ia tidak perlu mencari nafkah untuk dirinya sendiri, karena Islam telah menetapkan perempuan sebagai penerima nafkah dari suaminya, atau dari ayahnya, atau dari saudara laki-lakinya, atau dari negara apabila taka ada lagi yang sanggup menanggung nafkahnya.

Hanya Islam yang mengerti dan memahami bagaimana fitrah seorang perempuan. Ia dimulliakan dan dijunjung tinggi, bahkan syurga pun ada di tepak kakinya. Begitulah pesona Islam memuliakan perempuan. Namun, pesona Islam ini takkan nampak jika tidak diterapkan. Untuk itulah, sudah saatnya kini perempuan pun turut mengembalikan kehidupan dalam naungan Islam, agar perempuan kembali kepada kedudukannya yang sesuai dengan fitrahnya, agar nampak betapa indahnya pesona Islam memuliakan perempuan.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *