BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / PERJUANGAN PENDAKWAH

PERJUANGAN PENDAKWAH

Oleh Vinaya | Mahasiswa PGSD Penjas

Ketika itu di sebuah desa terdapat keluarga yang sangat terkenal di masyarakat sekitar, keluarga itu sangat kaya raya, keluarga itu keluarganya Bapak Wahid dan Ibu Salimah.

Bapak Wahid memiliki satu orang anak yang bernama Muhamad Salman Wahidin, namun sangat disayangkan walaupun Bapak Wahid memiliki harta yang sangat banyak tetapi Bapak Wahid ini terkenal sangat kikir, lebih jelasnya kaya harta tetapi miskin hati, berbeda dengan anak dan istrinya, dimana anak dan istrinya sangat baik dan dermawan kepada orang-orang sekitar dan tidak sombong.

Ketika itu Salman ingin meminta ijin kepada Bapaknya untuk pergi mesantren di Kebon Jambu Ciwaringin atau yang lebih di kenal dengan pesantren Babakan Ciwaringin yang berada di Cirebon.

Salman            : Bapak Salman mau minta ijin, untuk pergi mesantren di Babakan                             Ciwaringin Cirebon ( sambil merasa ketakutan )

Bapak Wahid : Ngapain kamu mau pesantren, sudah Bapak bilang, Bapak tidak suka melihat kamu mesantren, nanti kalau kamu mesantren pulang-pulang pakaian kamu jadi aneh, kaya teroris ( sambil nada marah )

Salman            : Tapi Pa, Salman ingin mesantren supaya bisa memiliki ilmu agama yang luas dan juga Insya Allah kelak bisa menyelamatkan Bapak dan Ibu dari dunia dan akhirat, lagi pula tentang pakian yang seperti itu bukan aneh Pa, melainkan itu pakian wajib kita sebagi seorang muslim. ( dengan penuh berharap agar Bapaknya mengijinkan )

Bapak Waid : Alahh kamu banyak omong, turuti saja kata Bapak, kamu sekolah di sekolah yang formal saja, sok kamu tinggal pilih mau sekolah dimana? Sekolahan yang paling mahal silakan pilih, Bapak juga dulunya tidak  mesantren tetapi malah bisa menghasilkan harta yang banyak ( emosinya semakin melunjak )

Salaman           : Bukannya begitu pa, Salman hanya ingin mesantren bukan pergi kesekolahan formal yang sangat mahal, bukan itu pa bukan, lagi pula kenapa Bapak melarang Salman pergi untuk mesantren sih pa? Bapak orang Islam kan pa? lantas kenapa Bapak tidak mengijinkan Salama untuk pergi mencari ilmu agama

Bapak wahid : Jeeeeetttterrrrr ( dengan entengnya Pa wahid menampar anaknya ). Kamu tidak maunurut ke Bapak?

Dengan kecewa Salman pergi ke kamar dan air mata bercucuran, Salman menangis bukan karena sakit ditampar Bapaknya tetapi Salman sakit karena keinginan yang begitu mula tidak di ijinkan oleh Bapaknya. Memang Pak Wahid terkenal dengan orang yang jauh dari agama, tetapi anaknya Salman da Ibunya selalu taat kepada agamanya.

Setelah itu Salman pergi ke Ibunya untuk menanykan kenapa Bapaknya tidak mengijinkan Salman pergi mesanteran

Salman            : Ibu,  kenapa Bapak tidak pernah mengijinkan Salman untuk pergi mencari ilmu islam?

Ibu.Salimah     : Memang Bapak mu seperti itu nak, kamu jangan pernah hiraukan Bapak mu nak, silakan kamu pergi mesantren Ibu ijinkan kamu nak. ( sambil menyakinkan anaknya agar tetap mesantren )

Ternyata omongan Ibu, Salimah terdengar oleh Pak Wahid.

Bapak Wahid  : Wah wah wah !!!! sudah mengajarkan anaknya yang tidak baik rupanya, owh pantes Salman jadi berubah kaya begini karena asutan dari kamu ? ( sambil memukuli istrinya ).

Salman melihat itu langsung melindungi ibunya, sehinga Salman yang jadi sasaran pukulan bapaknya.

Malam harinya diam-diam Salman pergi dari rumah tanpa ijin dari kedua orang tuanya, Salman sudah lelah melihat Ibunya selalu dipukul oleh Bapaknya, Salman ingin pergi sejauh mungkin sehingga tidak bisa bertemu lagi dengan Bapaknya, Salman sudah benci sama tingkah Bapaknya.

Dari desa ke desa dari hutan kehutan sudah di lalui oleh Salman, Salman bingung mau pergi kemana, entah kemana tujuan utamanya dia  pergi, dia pun tidak membawa bekal apa-apa selain baju yang dia bawa dan Al-Quran yang diabawa. Salman sejenak beristirahat di bawah pohon yang besar dan sambi lmembaca ayat suci AL-Quraan, tiba-tiba datang seorang kakek tua, berbaju putuh, kepalanya di ikatdengan sorban dan sambil membawa tongkat, seorang kakek tua itu datang menghampiri Salman.

Kakek tua        : nak sedang ngapain disini?

Salman            : saya tidak tau kek, kemana tujuan utama saya, haya satu yang saya inginkan yaitu saya ingin mencari ilmu agama kek, saya ingin seperti teman-teman saya yang sudah menjadi santri dan ustad, saya ingin seperti mereka kek.

Kakektua         : kalau begitu ikutlah dengan kakek, tapi dengan syarat, ketika kamu melihat perempuan tundukanlah kepalamu, dan ketika kau mendengar suara-suara yang memanggil mu maka  jangan pernah kau  menengok atau menoleh sedikitpun, dan yang paling utama kau harus sertakan selalu sholawat serta dzikir kepada Allah dan Nabi Muhamad S.A.W

Salman tanpa ragu Salman menuruti syarat dari kakek tua tersebut.

Dalam perjalanan rintangan selalu datang, ada seorang wanita yang menghampiri Salman dan menggoda Salman, namun Salman teringat omongan kakek tua itu sehingga Salman pun menghindari dari godaan perempuan itu, dan setelah perempuan itu pergi dari belakang ada yang memanggil-manggil Salman, namun salman tidak hiraukan itu dan dalam hati Salman selalu bedzikir dan bersholawat.

Tidak terasa Salmanpun sampe di Pesantren yang dia ingin-inginkan dan ternyata kakek tua itu adalah kiyai atau pendiri pondok Pesantren Kebon Jambu Ciwaringin, SubhhanAllah Salmanpun mencium tangan kiyai sambil menangis.

Sudah beberapa tahun lamanya Salman dibina dan diasuh di pesantren dan salmanpun menjadi kepercayaan kiyai, sudah di tiga kota besar salman berdakwah dari mulanya kota itu awam tentang agama Islam tapi sekarang menjadi kota yang penduduknya mayoritas Islam, suka duka telah dilalui Salman saat berdakwah, lemparan kotoran domba, ayam, entog dan kotoran bintang  yang lain sudah dirasakan Salman tetapi karena Salman berdakwah dengan cinta, dengan kasih sayang, meniru dawkah yang RosullAllah laukukan dan mengharap Ridho Allah akirnya tiga kota itu menjadi kota Islam.

Saat mengingat kembali perjuangan Salaman, Salman teringat akan sosok orang yang begitu luar biasa, orang yang telah membesarkan dia, yaitu Bapak dan Ibunya, Salman menangis ingin sekali mengetahui bagimana kabar kedua orang tuanya, akhirnya Salman meminta ijin pada kiyai untuk menemui orang tuanya.

Sesampainya dirumah Salman tanpa ragu lagi mengetuk pintu rumahnya

Salman                        :  Assallamualikum, Bapak Ibu ini Salman

Ibu Salimah     : Walkumsallam, ya Allah, subhanAllah Salman pulang ( sambil memeluk    anaknya, penuh dengan rasa haru )

Dari dalam Bapaknya keluar, sambil menggenggam pisau

Bapak               : Ngapain kamu pulang, sudah sana pergi kamu bukan anak saya lagi, nama kamu sudah saya coret dari keluarga ini, dan dari hak waris.

Salman            :saya tidak mengingkan hak waris Pak, tapi saya masih memiliki kewajiban untuk membawa Bapak kejalan yang Allah Ridohi ( sambil menangis )

Bapak              : alllah omong kosong, hanya alasan saja kau ngomong seperti itu, sudah bu, hayu kita masuk tinggalkan anak ini, anggap anak ini sudah mati ( sambil menarik istrinya )

Ibu Salimah        : tidak Pa, Ibu tidak ingin pisah lagi sama Salman, Salman adalah anak   kita satu-satunya yang sangat penurut dan baik sekali kepada semua orang ( sambil menangis )

Bapaknyapun memaksa Ibu Salimah untuk masuk kedalam dan ternyata Ibu Salimah pun tidak mau tanpa di sadari tanganya sudah bergemetar memegang pisau erat sekali dan iblis pun berhasil menutupi hatinya, AllahuAkbbarr teriakan Salaman ternyata pisau sudah menancab di perutnya,  Ibu Salamah berteriak “ Ya Allah Salman “ sambil memangku Salman dipangkuan Ibu Salamah, seluruh tubuh Pa wahid bergetar, teringat semua masa-masa kecil bersama Salman, air mata pak wahid keluar dengan sendirinya, kini anak satu-satunya Salman tertusuk pisau oleh tingkahnya sendiri.

Akhirnya perjuangan Salman untuk berdakwah sudah selesai dan diakhir hidupnya Salman langsung diakhiri oleh Bapaknya sendiri, Salman menutup mata dengan tersenyum dan mengucapkan AllahuAkbar. Ibu Salman terus-terusan teriak dan menangis, Bapaknya menyesal karena telah membunuh anaknya sendiri.

Dari kejadian itu Bapaknya tersadarkan akhirnya Bapaknya bertaubat kepada Allah S.W.T dan meneruskan dakwah anaknya.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD             Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *