BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Peran Pesantren Dalam Mengusir Segala Bentuk Penjajahan

Peran Pesantren Dalam Mengusir Segala Bentuk Penjajahan

Peran Pesantren Dalam Mengusir Segala Bentuk Penjajahan

kalam.ukm.upi.edu, Oleh : Tatang Hidayat *)

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah ada di negeri ini, bahkan sebelum negeri ini berdiri. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pada umumnya terus menyelenggarakan pendidikan yang memiliki misi mengkader umat untuk menjadi tafaqquh fiddin dan memotivasi kader ulama dalam misi dan fungsinya sebagai warasat al-anbiya.

Keberadaan para ulama merupakan bagaikan bintang-bintang di langit :
«إِنَّ مَثَلَ اْلعُلَمَاءِ فِى اْلأَرْضِ كَالنُّجُوْمِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى الظُّلُمَاتِ اْلبَرِّ وَاْلبَحْرِ»
Perumpamaan para ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan di daratan maupun di lautan. (HR Ahmad).

Ulama juga adalah pewaris para Nabi :
«إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَاراً وَلاَ دِرْهَامًا، وَرَّثُوْا الْعِلْمَ»
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sementara para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Tentu keutamaan tersebut diperuntukkan kepada para ulama yang selalu mengamalkan ilmunya, yang selalu membela kebenaran, yang selalu cinta kepada kebaikan dan yang gemar melakukan amr ma’ruf nahi munkar. Maka dalam sejarahnya, tidak heran bahwa dunia pesantren disamping lembaga pendidikan yang mencetak kader sebagai Ulama, dunia pesantren juga terkenal dengan peranannya dalam menyebarkan agama Islam dengan Dakwah dan Jihad.

Ketika imperialisme dan kolonialisme menjajah negeri ini, maka umat Islam sebagai mayoritas yang ada di negeri ini tidak tinggal diam. Bahkan dalam sejarahnya, ulama dan santri selalu menjadi garda terdepan dalam memimpin pergerakan nasional, dalam rangka mengusir segala bentuk penjajahan yang ada di negeri ini.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang usianya sudah tua, telah banyak melahirkan generasi yang tidak hanya menolak segala bentuk penjajahan, melainkan selalu menjadi motor penggerak dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah.

Menurut Awwas (2015: 97) di zaman pergerakan pra kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. Hadji Oeumar Said (HOS) Tjokroaminoto, pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumnus pesantren, KH. Mas Mansyur, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Kahar Muzakkir, dan masih banyak lagi alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh.

Setelah penjajahan kolonial Belanda bercokol di negeri ini selama 350 tahun, maka tiba giliran pasukan Jepang yang ingin turut serta mengisap karunia ilahi di bumi pertiwi ini. Lagi-lagi kalangan pesantren menjadi garda terdepan dalam melawan segala bentuk penjajahan. Menurut Awwas (2015: 111) kebijakan-kebijakan yang tidak berperikemanusiaan dan diperparah lagi dengan adanya penyembahan terhadap sesama manusia melalui kewajiban seikeirei. Kebijakan fasis Jepang ini amat menyakiti hati umat Islam. Sementara, situasi politik, ekonomi maupun peperangan kian hari kian bertambah kacau. Di beberapa tempat rakyat sudah berani melakukan sabotase dan perlawanan, termasuk sekian banyak perlawanan itu datang dari para santri Pondok Pesantren Sukamanah di bawah asuhan asy-syahid KH. Zainal Musthafa.

Maka, jika kita menelusuri sejarah lebih mendalam ke belakang, kita tidak perlu mempertanyakan kembali bagaimana peran pesantren dalam mengusir segala bentuk penjajahan. Pesantren selalu menjadi garda terdepan dalam membela kebenaran dan menolak segala bentuk kezhaliman. Lantas pertanyaannya, setelah besarnya peran pesantren dalam mengusir penjajah di negeri ini apakah negeri ini sudah merdeka ?

Secara penjajahan fisik mungkin saja Indonesia sudah merdeka. Tetapi, secara ideologi, tentu saja negeri ini belum merdeka. Kafir barat penjajah tetap berupaya melanggengkan dominasi mereka di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Neoimperialisme dan neoliberalisme mereka lancarakan untuk mengontrol politik pemerintahan dan menghisap sumber daya ekonomi Negara lain.

Neoimperialisme adalah penjajahan model baru yang ditempuh oleh negara-negara kapitalis untuk tetap menguasai dan menghisap negara lain. Dalam penjajahan model lama dikenal semangat gold (kepentingan penguasaan sumberdaya ekonomi), glory (kepentingan kekuasaan politik) dan gospel (kepentingan misi Kristiani). Sedangkan, neoliberalisme adalah paham yang menghendaki pengurangan peran negara di bidang ekonomi.

Dijelaskan oleh anggota MPR, Ahmad Basarah, di depan peserta Training of Trainers 4 Pilar di lingkungan TNI dan Polri di Bandung, bahwa bangsa ini secara ekonomi sudah dijajah oleh kapitalisme global. Ia mengatakan, bahwa tak hanya dalam soal kepemimpinan yang sudah terkontaminasi unsur kapitalisme namun saat ini juga ada sekitar 173 undang-undang yang berpihak pada asing dan tak sesuai dengan Pancasila. (reportaseindonesia.com, 29/8/2015)

Ahmad Basarah mengutip apa yang pernah disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa sekarang kita sedang melakukan peperangan, namun bukan peperangan konvensional tapi perang modern. Perang modern, menurutnya, lebih canggih dibandingkan perang konvensional karena dampaknya lebih dahsyat. Dalam perang modern tak ada pangkalan dan tentara asing di Indonesia namun yang ada adalah pangkalan mental asing. “Pangkalan mental asing itulah yang akan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya. (reportaseindonesia.com, 29/8/2015)

Kekayaan alam negeri ini banyak dikuasai pihak asing. dibidang minyak dan gas (migas), misalnya, ada 60 kontraktor asing. Mereka telah menguasai hampir 90 persen migas. Semua itu terjadi lantaran kebijakan liberalisasi di sektor tambang dan migas oleh pemerintah. (inilahREVIEW, 05/II/10/2012)

Pemerintah juga membiarkan sejumlah pulau di Indonesia dikuasai asing. tak kurang dari enam pulau di Indonesia sudah dikuasai oleh pihak asing, di antaranya : Anambas, Wakatobi, Raja Ampat, Pulau Cubadak, Tanjung Keramat dan Karimun Jaya. (Travelisia.co, 11/2014)

“Saat ini, Indonesia sudah dikurung oleh 13 pangkalan militer Amerika Serikat, Indonesia sama juga ‘sudah terkurung’ seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia. Jakarta (Garuda Militer 14/12/2012)

Tingkat korupsi di Indonesia pun masih tinggi, korupsi di Indonesia semakin merajalela. Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, ada beberapa faktor yang membuat korupsi di Indonesia terasa malah semakin banyak hingga ke berbagai pejabat lintas tingkatan. Pertama, objek korupsi yang biasa dilakukan di Indonesia adalah anggaran, baik APBN maupun APBD. Kemudian, nilai anggaran setiap tahunnya pun semakin besar. (liputan6.com 12/5/2016)

Intinya, negeri ini hampir di semua bidang sudah dikuasai asing. Maka, negeri ini harus segera diselamatkan. Dan ini tanggung jawab kita, umat Islam. Sangat dinantikan kembali peran Ulama dan Santri dari kalangan pesantren untuk menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan negeri ini dari segala bentuk penjajahan. Jauh sebelum merdeka, kaum Muslim tak pernah berhenti mengobarkan perang jihad melawan penjajah. Pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol, Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien dll adalah di antara para pahlawan Islam yang berjihad fi sabilillah melawan kafir penjajah.

Setelah merdeka pun, alumus pesantren menjadi garda terdepan dalam berjihad, KH. Hasyim Asy’ari dalam resolusi jihad-nya (22 Oktober 1945) menyatakan bahwa membela Indonesia sebagai negeri Muslim dari kaum penjajah adalah kewajiban syar’i.

Bung Tomo ikut menggelorakan semangat jihad itu, dengan cara memekikkan ‘Allahu Akbar’ dalam membuka dan menutup pidatonya. Resolusi ini lahir ketika Rais Akbar NU, KH Hasyim Asyari memanggil konsul NU se-Jawa dan Madura untuk rapat besar gedung itu pada 21 dan 22 Oktober 1945. (Tempo.co, 11/10/2015)

Maka, umat saat ini, sangat menantikan peran pesantren khususnya Ulama dan santri untuk kembali menorehkan sejarahnya menjadi garda terdepan dalam membela negeri ini dari cengkraman neoimperialisme dan neoliberalisme. Ulama dan santri dalam sejarahnya senantiasa mengemban risalah Allah sekaligus membumikan dan menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Mereka senantiasa berusaha membebaskan umat manusia dari kesewenang-wenangan politik, kezhaliman sosial, kerusakan moral dan keburukan hawa nafsu manusia. Mereka senantiasa mengajak umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah. Dari kesesatan agama kepada keadilan Islam. Dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat. Wallahualam.

*) Ketua Umum Kajian Islam Mahasiswa (KALAM) Universitas Pendidikan Indonesia

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *