BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Ilmu dan Sains / Penyebab Ilmu Tidak Bermanfaat

Penyebab Ilmu Tidak Bermanfaat

Pohon KeringMencari ilmu tentunya hal yang wajib bagi setiap muslim dimanapun ia berada. Dalam islam, ilmu adalah hak setiap warga negara baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi sedikit pun. Malah negara diwajibkan menyediakan sarana pendidikan agar masyarakat mudah untuk mengakses ilmu, tanpa dibebankan membayar biaya tinggi seperti sekarang ini, karena Islam memahami bangkitnya peradaban manusia salah satu indikatornya adalah masyarakat yang berilmu: berpikir mendalam dan cemerlang dalam menyikapi fakta.

Kita sebagai muslim seharusnya semakin semangat dalam mencari ilmu. Berapa jauh pun jarak sekolah, kampus, atau majlis dari tempat kita berada harusnya tak menghalangi. Hal ini pula diartikan bahwa mencari ilmu itu memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Tak hanya ilmu saja sebenarnya, tapi hal lain juga membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, yang menjadi pertanyaannya adalah pengorbanan dan perjuangan yang kita lakukan besar atau sedikit.

Kawan, kita sekolah dari kecil (PAUD/TK) sampai sekarang menginjak dewasa (Kuliah), apakah pernah merasa, sebenarnya apa sih yang sudah kita dapatkan? Apa sih manfaat yang diberikan kepada orang lain lewat ilmu-ilmu yang telah pelajari dan kuasai? Atau mungkin kita semakin tinggi sekolah, semakin banyak lupa pelajaran (ilmu) yang dulu kita peroleh?

Sedikitnya itulah kebingungan yang pernah saya alami, dan pada suatu kajian di Kalam UPI, kawan saya yang waktu itu menjadi pemateri menyinggung-nyinggung mengenai masalah saya. Saya tentunya memperhatikan dan bila dia membuka termin pertanyaan, tentu dengan sigap saya akan mengangkat tangan, tapi entah apa yang Allah skenariokan, penejalasannya menjawab satu persatu masalah saya itu. Padahal saya tak pernah memberi tahunya. Diantara perkatannya itu, ada satu perkataannya yang membuat saya tertegun. Merenung.

“Mungkin gak bermanfaat dan barokah ilmunya karena adab-adab ilmunya tidak dipakai”

Kata-kata itu yang membuat saya bercermin: mengkoreksi perbuatan yang telah dilakukan dalam mencari ilmu. Jika kita andaikan, Ilmu itu seperti halnya air. Ketika air diberikan kata-kata baik maka kristal dalam air pun akan menjadi baik dan indah, sedangkan ketika diberi ucapan dengan kata-kata kotor maka kristal dalam air pun akan buruk dan rusak. Nah jadi, bila kita menghargai ilmu: memperhatikan dengan seksama ketika guru, dosen, pemateri menjelaskan atau berdoa terlebih dahulu sebelum proses pembelajaran. Maka Insya Allah ilmu pun akan menghargai kita, apalagi sampai ilmu itu diamalkan dan didakwahkan kepada orang lain.

Penyikapan kita terhadap ilmu dibahasakan dengan adab. Tentunya adab yang baik itu punya indikator, nah indikatornya apa-apa saja. Yuk kita simak dibawah ini:

  1. Ikhlas

Mencari ilmu sambil ogah-ogahan, datang ke kelas, duduk, nengok jam tangan berulang kali sambil bertanya-tanya dalam hati, “kapan nih keluar kelas?”, karena bosan, perlahan-lahan tidur, atau gangguan teman di sebelah, ada juga yang main HP. Menurut kawa, apakah itu termasuk ikhlas?

Nah, jika kawan masih ogah-ogahan berangkat kuliah berarti belum ikhlas. Kalau ogah-ogahan-nya satu dua kali mungkin wajar-wajar saja, tapi kalau setiap hari itu berarti pemalas. Keikhlasan ini juga berkaitan dengan niat. Kalau niat kita mantap mencari ilmu maka Insya Allah ilmu pun akan mudah kita dapatkan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi:

 “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan memperolah pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.”

  1. Bersungguh-Sungguh

Kalau mahasiswa yang kurang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu biasanya kelihatan: suka tidur di kelas, selalu abai ketika dosen menjelaskan, suka mengganggu temannya, dan banyak lagi yang lain. Nah, yang jadi pertanyaan apakah kawan sering berlaku seperti itu? Kalau sering, hati-hati, bisa-bisa ilmunya tidak bermanfaat alias tidak barokah.

Kesungguhan dalam mencari ilmu tentunya menjadi penting, karena tanpa bersungguh-sungguh ilmu pun akan memperlakukan kita alakadar-nya. Kesungguhan boleh juga diartikan sebagai keseriusan bahwa kita benar-benar perlu dan butuh dengan ilmu. Kadang dengan kenyaman yang kita miliki—tempat, waktu, dan sedikitnya cobaan hidup—membuat kita terlena dan statis untuk bergerak.

Dulu, ketika saya kelas satu SMP, saya harus berjalan 6 km untuk sampai ke sekolah. Mungkin akan terasa lebih ringan bila jalannya itu diaspal dan datar, tapi ini sebaliknya. Pagi-pagi buta saya harus melintasi sawah yang berembun hingga baju, celana, dan sepatu saya basah. Bila musim hujan, dengan ikhlas sepatu saya tenteng karena lumpur sawah menguap atau saat musim tanam tiba—pematang sawah dilumpuri agar tidak aus terkena erosi. Setelah melewati itu, sampailah pada jalan yang beraspal rusak; batu-batunya sebesar kepalan tangan bahkan ada juga yang sebesar kepala, disamping jalan tersebut terdapat sungai kecil. Di sanalah saya dan kawan-kawan saya itu membersihkan kaki dan memakai sepatu.

Tak sampai di situ rintangan yang saya hadapi. Jika saya menyusuri jalan beraspal rusak, waktu tempuh akan menjadi dua kali lipat, bisa dua jam, maka saya dan kawan-kawan saya itu harus memotong jalan setapak melewati perkebunan karet milik PTPN (Perusahaan Negara). Jalan setapak itu adalah tanah merah dan juga kering, bila musim hujan maka akan berubah menjadi lumpur hampir seperti lumpur sawah, dan memaksa saya untuk membuka sepatu lagi. Bayangkan sejauh 3-4 km saya harus telanjang kaki melewati perkebunan karet. Sampai di sekolah, apa yang saya rasa, badan saya bau keringat dan yang membuat hati saya sakit adalah ketika teman sebangku atau  sekelas menyindir saya, “Emmm… bau banget tuh badan” sambil menyumpal hidung.

Itulah yang saya hadapi ketika berangkat sekolah menengah pertama dan sekarang pun masih banyak yang seperti itu bahkan lebih parah keadaannya, bisa kita lihat di media. Dilema memang pendidikan kita, ah salah siapa? Apakah benar salah orang (baca: pejabat) saja?

Demikianlah kesungguhan, apapun rintangan di depan mata akan dilewati dengan niat dan tekad yang kuat. Tak lemah atau loyo. Maka insya Allah akan memudahkan kita, hambaNya.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami nisacaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” [Al Ankabut : 69]

  1. Berhias Dengan Akhlak Mulia

Saya rasa kawan-kawan sudah tahu akhlak mulia itu seperti apa, namun sayangnya kita selalu lupa berprilaku mulia, sebagai contoh kecilnya, kita akan cuek-cuek saja ketika bertemu dengan dosen; kayaknya untuk senyum itu sulit banget, lewat aja tanpa ekspresi.

Mungkin dari hal-hal kecil itu yang membuat ilmu kita tak barokah dan manfaat. Kita juga sering merasa hal-hal kecil itu tak ada pengaruhnya dalam mengarungi lautan ilmu. Padahal berpengaruh pada psikologis kita dalam menyikapi ilmu. Maka mulai dari sekarang se-killer apapun Dosen, kita harus menghormatinya, siapa tahu dia akan menolong kita di masa depan kelak. Bukankah masa depan adalah misteri?

  1. Mimanta Pertolongan Allah S.W.T.

Kalau kata Rhoma Irama, “Perjuangan harus jua disertai doa”. Memang betul, kita belajar, belajar, dan belajar tapi kita jarang meminta kepadaNya agar ilmu kita bermanfaat bagi yang lain, maka hasilnya akan pinter sendiri atau malah lupa dengan apa yang dipelajari. Bukankah kita memahami bahwa sebaik-baiknya  orang adalah yang bermanfaat bagi yang lain?

Allah S.W.T berfirman dalam Al-Quran:

“Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ya Rabb tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 11]

Jadi, ketika kita menemukan kesulitan dalam memahami suatu materi—ilmu. jangan lupa untuk meminta kepadaNya dengan cara berdoa, karena toh mencari ilmu adalah ibadah dan Allah tidak akan mempersulit orang untuk beribadah. Tapi kalau masih sulit mungkin kita terlalu banyak bermaksiat, karena ilmu akan sulit dipahami oleh orang-orang yang bermaksiat.

  1. Mengamalkan dan Mendakwahkan Ilmu

Bagian ini merupakan peroses yang memuliakan manusia; saling memuliakan. Kita mendapatkan ilmu, kemudian kita juga menyebarkan ilmu tersebut dengan mengajarkannya. Apalagi kita selaku calon pendidik—bagi yang merasa kuliah di Kependidikan, bisa dibayangkan apa yang kita sampaikan bernilai ibadah, tapi harus diingat kita harus ikhlas dan bukan ilmu hitam—sesat.

Maka  tak heran dalam Al-Quran dan Hadits banyak ditemukan kemulian dalam menyampaikan ilmu, salah satunya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”  [Al-Ashr :1-3]

Dalam ayat tersebut bahwa memberikan nasehat—berdakwah—harus menggunakan ilmu. Jangan sampai semangat kita tinggi dalam beramal karena ingin menjadi orang yang bermanfaat tapi tak mempunyai ilmu. Hal itu bisa berbahaya karena dapat menyesatkan orang lain. Jadi bermanfaat bagi orang lain harus berilmu dan dengan berilmu kita bisa bermanfaat bagi orang lain, salah satu caranya dengan menyebarkan ilmu yang kita miliki, tentunya ilmu yang sesuai dengan tuntutan sya’ra.

Demikian lima adab yang dapat disampaikan, sebenarnya masih banyak bila kawan mencarinya. Jadi kita harus ikhlas, bersungguh-sungguh, berhias dengan akhlak mulia, berdoa kepada Allah, dan mendakwakannya. Hal ini juga perlu dipahami, saya sebagai penulis masih berproses melasanakan hal tersebut. Kita sama-sama belajar saja, karena belajar adalah kunci dari kebaikan. Maka tunggu apalagi, kita lakukan hal tersebut sekarang, jangan ragu dan takut, karena keraguan biasanya datang dari syaitan dan takut hanyalah kepada Allah semata. Wallahualam bi shawab.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Anda Ingin Istri yang Penuh Berkah? Inilah 3 Cirinya

Anda seorang laki-laki yang shalih yang sedang mencari istri yang penuh keberkahan? Rasulullah memberikan tiga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *