BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Penghijrahanku di Penghujung Romadlon

Penghijrahanku di Penghujung Romadlon

Oleh Pahrunnisa Fahmi | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi

Pagi menyebarkan aromanya, pun daun-daun yang masih basah dengan embun menari girang disambut mentari pagi, memanjakanku yang asyik duduk di kursi batu yang dingin ditepian kolam. Lekat ku pandangi bayangan diri yang terpantul di permukaan air yang tenang tak beriak. Gadis bermata bulat besar itu seperti mengawasiku, bibirnya yang kecil bersungut menghakimiku, dan raut wajahnya mengajakku menyelami diriku sendiri. Ya.. Aku sedang berdialog dengan diriku.

Pandanganku menembus sekat dari apa yang terlihat, tatapan yang jatuh di permukaan air itu berubah kosong. Tubuhku masih berada disana, namun diriku mengudara ke alam pikiran dan berhasil masuk ke ruang khayalan yang berisi begitu banyak memori. Aku tengah dihakimi diriku sendiri. Satu persatu pertanyaan menyerangku bergantian, dan jawaban malah tertahan di ujung lidahku. Apa yang terjadi dengan ego yang mengurungku selama ini, kemana alasan-alasan yang membentengiku itu ? sudahkah ia lebur bersama nafsu yang membuatku kukuh dengan cela ku ? ah, Aku dibuat malu oleh diriku.

“Assalamu’allaikum” suara lembut menutur salam dan tepukan halus di bahuku meruntuhkan lamunan yang menelanku.

“Udah lama nunggunya ?” Sambungnya sembari menyuguhkan senyuman manis

“Eh, Nazah. Waaaikumussalam. Aku juga baru sampai kok” Jawabku singkat

“Subhanallah, siapa gadis cantik yang ada di depanku sekarang ini ? Cantiknya kamu Cha dengan jilbab panjang dan baju gamis seperti ini. Pertahankan ya” Nazah menjatuhkan pandangannya pada pakaian yang kukenakan hari ini, senyuman di wajahnya yang kemerahan tak segera memudar.

Aku tertunduk malu. Bukan.. bukan tersipu, tapi kali ini Aku benar-benar malu. Malu karena ini adalah hari pertamaku berpenampilan syar’i yang mestinya kulakukan sejak dulu. Malu karena Aku baru mampu melawan ego dan nafsuku yang bertahta bertahun lamanya. Malu karena Aku baru menyadari cela diriku ketika romadlon hampir usai. Malu dengan diriku yang begitu akrab berkawan dengan dosa. Sungguh Aku malu pada Allah.

“Kenapa Cha ? Kok malah murung gitu?” Tanyanya seperti mengerti apa yang sedang menghantui pikiranku.

“Eh, nggak Zah. Oh iya Zah, apa nggak apa-apa Aku ikut-ikutan sama kamu ? Maksudku ikut kajian keislaman bareng kamu ? Aku malu Zah, disana pasti orang-orangnya shalih dan faham agama sama sepertimu, hafalanya banyak dan akhlaknya baik. Sedangkan Aku, baru saja mau belajar. Pemahamanku masih sederhana, ilmuku nol dan akhlakku sungguh tak cantik. Apa boleh Aku ikut bergabung ?” Aku malah balik bertanya tentang keraguanku.

“Memang yang ikut kajian itu harus orang-orang yang pintar saja ? Kalau sudah merasa pintar dengan pemahaman agamanya, kurasa mereka tak akan mau datang untuk mencari ilmu, toh sudah merasa pintar. Hehe”

“ Kita kan sama-sama tahu, bahwa mencari ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Terlepas apakah orang itu sudah banyak ilmunya, banyak hafalannya, atau justru masih di tahap awal untuk belajar. Kita sama-sama sedang belajar, sama-sama sedang mengharapkan ridho Allah dengan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Ayo cha, beranikan dirimu dalam penghijrahanmu. Syetan saat ini tengah berusaha keras menggodamu” Nazah mulai bertuah.

Ada kekuatan yang mampu meyihirku setiap kali ia menuturkan kalimatnya. Nazah, ku kira ia adalah bidadari yang Allah kirim untuk mengenalkanku dengan arti keimanan. Seketika teringat beberapa minggu lalu saat ia memberikan hadiah untukku sebuah baju gamis biru muda lengkap dengan kain tudung panjang juga sebaris kalimat indah didalamnya.“Percayalah, cantikmu takkan berkurang sedikitpun jika kamu menggunakan ini J tampil cantik di hadapan Allah jauh lebih mulia.” Sebuah pesan yang mulai menuntunku menemui jalanku.

Saat itu, Aku adalah gadis yang begitu kukuh dengan keakuaku, tepatnya kukuh dengan kesalahanku. Aku adalah orang yang pandai mencari alasan untuk memperkuat keyakinanku sekalipun kusadari itu salah. Aku membenarkan diriku yang tak berjilbab, membenarkan kelakuanku yang tak segan-segan bersentuhan dengan laki-laki, membenarkan sikapku yang senang kesana kemari menghabiskan waktu dengan sia-sia, bahkan dengan lancangnya kuhinakan mereka muslimah berjubah hanya karena kerudung panjang yang menutupi setengah tubuh mereka. Aku benar-benar pandai berdalih, sampai akhirnya Aku bertemu Nazah, teman satu jurusan dikampusku yang sebelumnya tak pernah kusapa sama sekali. Aku berdebat hebat dengannya, bahkan nyaris kupatahkkan arangku sendiri karena ia yang begitu hebat menjawab pertanyaan dan sanggahan-sanggahanku tentang aturan Allah yang Aku pertentangkan.

Aku menantanngnya untuk merubah pemahaman dalam diriku. Dengan yakinnya Aku merasa bahwa Nazah yang akan menyadari bahwa keyakinannya itulah yang terlalu berlebihan. Tapi dari hari ke hari, tak nampak sedikitpun perubahan dalam dirinya, tak juga ada raut kebencian di wajahnya terhadapku. Terang-terangan kuhinakan keyakinannya, tapi terang-terangan pula ia mendekatiku dengan berbagai cara lembutnya untuk mengajakku masuk ke dunianya. Mengajakku untuk berkenalan dengan Allah.

Bermula dari pesan-pesan hikmah yang selalu ia kirim setiap harinya ke ponselku, makanan santap sahur yang sengaja ia antar ke kamar kost ku padahal ia tahu Aku tak pernah sengaja bangun untuk sahur, hingga memberikan baju gamis pertama untukku. Katanya, ia hanya ingin Aku tahu, bahwa Allah sangat menyayangiku.

Perlahan aku mulai mencair, aku mulai ragu dengan diriku. Diam-diam Aku mencari jawaban atas keyakinanku, sampai akhirnya kutemukan semua jawaban itu dari bibir manis Nazah. Ia tak hanya bicara berdasarkan logikanya, tapi ia berbicara berdasarkan bukti, Al-qur’an dan hadist. Saat itulah Aku sering berbincang dengannya, lebih sering lagi Aku berdialog dengan diriku sendiri. Sulit bagiku meyakinkan diri bahwa Aku ingin berubah, Aku ingin berhijrah.

“Gimana Cha, masih malu ? hehe, sudah yuuk, lebih baik kita berangkat sekarang. Sayang kalau sampai kelewatan.” Tuturnya yang lagi-lagi meruntuhkan lamunanku.

Aku menganggukan kepalaku, mengikuti langkahnya yang membawaku pada arah yang benar. Tersimpan dalam hatiku bahwa ini adalah keputusan yang ku pilih. Romadlon memperkenalkanku dengannya, dan ia memperkenalkanku dengan Sang pencipta.

Kubenahi pemahamanku. Aku mengerti, bukan tentang seberapa lebar jilbab yang kukenakan. Pun bukan tentang seberapa lama aku mulai mengenakannya. Tapi adalah seberapa kuat keyakinan dan kepercayaan yang kutumpahkan saat aku menggunakannya. Allah Maha Baik, jangankan hanya dengan berbisik, tak bersuara pun Dia faham benar apa yang kusembunyikan disudut hatiku. Aku percaya akan janjinya.

Allah ada dalam kalimat yang kututurkan, sekalipun lidahku tak mengejanya. Allah ada dalam setiap hembusan angin yang menarik-narik jilbab yang terurai menutupi hampir setengah tubuhku saat ini. Allah ada dalam setiap aksara yang kugoresankan dalam lembaran kertasku. Allah ada bersamaku, dan Aku memeluknya erat dengan keyakinanku. Setidaknya mulai saat ini. Ya, mulai saat ini.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD             Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *