BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Pendidikan ala Sekulerisme, Masalah atau Solusi?

Pendidikan ala Sekulerisme, Masalah atau Solusi?

ngajak pacaranGambar gadis berhijab dan anak laki-laki berkopeah menghiasi tips-tips Pacaran Sehat dalam buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud, segera menuai kontroversi. Banyak pihak yang menolak, mengecam bahkan ada yang sampai membakar buku yang berisi artikel “ganjil” tersebut. Lewat pem-blow up-an berita ini, tak ayal mayoritas masyarakat pun menilai bahwa kejatuhan mental kawula muda kini disebabkan karena kurikulum pendidikan dari pemerintahnya sendiri telah jauh dari paradigma Islam. Benarkah?

Output Pendidikan Indonesia

Sebagai civitas akademika Universitas Pendidikan, tak asing bagi kita untuk mengupas permasalahan pendidikan. Baik itu dalam kelas perkuliahan, diskusi-diskusi, organisasi bahkan dalam forum-forum seminar. Kita pun sudah mengenal apa makna dari pendidikan. Menurut  UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Kemudian, apakah output pendidikan di Indonesia sudah sesuai dengan tujuannya?

Patut kita bangga dengan sederet prestasi yang telah diraih anak-anak emas bangsa, yang berhasil membanggakan negeri bahkan sampai pada tingkat internasional. Namun di sisi lain, prestasi “luar biasa” pun terangkum dalam sudut pandang yang berbeda. Masih segar dalam benak kita, pada 12 Oktober 2014 di media sosial kian diramaikan dengan tayangan sebuah video yang melibatkan pelajar sekolah dasar Bukittinggi Sumatera Barat yang melakukan aksi kekerasan terhadap teman sebayanya di dalam ruangan kelas (detik.com). Tak luput juga berbagai kasus tawuran pelajar yang menelan korban jiwa.

Selain itu, berdasarkan penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 menyimpulkan empat hal. Pertama, 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan. Dan yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Itulah beberapa bentuk output pendidikan Indonesia. Di satu sisi kita bangga dengan segelintir prestasi emas anak bangsa negeri ini. Namun, di sisi lain miris kita mengindra deretan panjang daftar tingkah laku anak bangsa yang tidak mencerminkan dirinya sebagai peserta didik yang berpendidikan. Output pendidikan yang diharapkan, ternyata belumlah sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Apa yang melatarbelakangi bertolak belakangnya ouput dan tujuan pendidikan Indonesia ini?

Asas Pendidikan Menjadi Akar Masalah

Pendidikan adalah kebutuhan mendasar yang berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian (syakhsiyah) masyarakat. Kepribadian yang dimaksud mencangkup pola pikir dan pola sikap. Buruknya kondisi kepribadian masyarakat menunjukkan adanya kesalahan dalam pendidikan yang diterimanya. Baik itu pendidikan dalam keluarga, sekolah atau masyarakat (negara). Ketiganya harus berjalan sinergis untuk membentuk kepribadian yang benar. Keluarga bisa saja mendidik anaknya dengan baik, tetapi tidak bisa menjamin kelayakan pendidikan yang diterima dari sekolah dan masyarakat. Pendidikan sekolah sangat bergantung dengan kurikulum pendidikan yang ditentukan oleh negara. Begitu pula masyarakat memiliki pemikiran dan perasaan yang dikondisikan oleh negara.

Misalnya, buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah dan menambah ruwetnya persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan sebagainya. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

Lalu bagaimana kondisi pendidikan Indonesia sekarang? Meskipun kurikulum di Indonesia telah silih berganti, namun tetap saja belum menunjukkan hasil yang berarti. Bagaimana mungkin bisa membentuk kepribadian yang baik ketika pacaran yang dilarang dalam Islam, justru dianjurkan? Sedangkan dalam waktu yang bersamaan, pendidikan agama hanya diajarkan selama dua jam pelajaran tiap minggunya. Sekolah formal dan sekolah agama pun dipisahkan, padahal sebagai manusia muslim, Islam adalah petunjuk hidup kita selama 24 jam penuh. Pendidikan Indonesia baru mampu menorehkan prestasi pada pola pikir (aqliyah) masyarakat, tetapi pola sikap (nafsiyah)nya hancur lebur. Inilah buah dari diambilnya sekulerisme sebagai asas pendidikan. Sekulerisme meniscayakan terpisahnya materi dengan ruh, atau dengan kata lain, terpisahnya agama dari kehidupan. Kurikulum yang menomorduakan agama inilah biang kehancuran kepribadian generasi.

Itulah mengapa meskipun keluarga menanamkan nilai-nilai ke-Islam-an sejak dini, tetap tidak akan mampu memberikan efek yang signifikan. Karena ada unsur lain yang akan menghancurkan nilai-nilai yang  telah ditanam yakni pendidikan yang diterima anak di sekolah dan masyarakat. Permasalahan pendidikan ini adalah permasalahan sistemik. Karenanya, untuk mengentaskan permasalahan ini harus dengan solusi yang sistemik pula. Yakni dengan menyatukan kembali agama dengan kehidupan, meninggalkan sekulerisme dan kembali pada Islam. Sudah seharusnya kita mendengarkan seruan Allah berikut:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ

“Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (QS Yusuf [12]: 40)

Selain itu, kaidah hukum syara’ menyatakan bahwa setiap perbuatan manusia terikat pada hukum syara’. Karena kehidupan harus terikat dengan hukum Allah maka keberadaan agama tidak boleh terpisah dari kehidupan.

Paradigma Pendidikan Islam

Kenyataan yang kita hadapi sekarang sungguhlah jauh berbeda dengan goresan tinta emas sejarah umat Islam yang pernah tercatat. Sebut saja al-Biruni, yang berkonstribusi penting dalam Geodesi dan Geografi karena telah memperkenalkan teknik mengukur jarak di bumi menggunakan metode triangulasi untuk pertama kalinya. Bahkan, 1000 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori Relativitas, al-Kindi telah meletakkan dasar-dasar teori Relativitas tersebut dalam kitabnnya Al-Falsafah al-Ula. Selain beliau, tersebut pula Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Imam Syafi’i, Imam Bukhari, dan lainnya.

Bahkan para sejarahwan pun berdecak kagum akan kegemilangan Islam. Jacques C. Reister, sejarahwan Perancis berkata, “Saya mengakui secara objektif, bahwa selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuannya dan peradabannya yang tinggi.” Jika dahulu umat Islam pernah gemilang, lalu apakah yang menghilang dari umat Islam kini? Padahal Tuhannya masih Allah, kitabnya masih al-Qur’an dan Rasulnya masih Muhammad?

Sesungguhnya umat kini sedang kehilangan peri’ayah dan pelindungnya. Dia adalah seorang imam yang memiliki peran layaknya sosok ibu untuk umat. Rasulullah bersabda: “Seorang Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Keberadaan seorang imam bagi umat ini hanyalah ada dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Bukan dalam sistem pemerintahan demokrasi parlementer, presidensil, apalagi monarki. Dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, juz2 hlm 6, Khilafah didefinisikan sebagai Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, guna menerapkan hukum-hukum syara’, dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh alam.

Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi, gaji guru, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. (Bunga Rampai Syari’at Islam.hal 73)

Sejarah mencatat bahwa dengan Islam yang diembannya, Khilafah mampu mengentaskan semua permasalahan. Tidak hanya pendidikan, tetapi juga permasalahan ekonomi, sosial, politik, kesehatan, pergaulan, hankam, dan sebagainya.  Selama 13 abad lamanya, Islam telah menjadi mercusuar dunia yang menyilaukan peradaban, imperium bahkan negara lainnya.

Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil muslimin. Karenanya, wajar jika penerapan Islam dalam sebuah negara pun menjadi rahmat seluruh alam dan didamba-dambakan bahkan oleh non muslim. Angela Merkel (Konselir Jerman) menyatakan, “Kita butuh sistem alternatif untuk menyelamatkan negri kita dan dunia kita. Sistem itu memiliki dua ciri yakni tahan goncangan dan mampu menciptakan stabilitas negara.” Walaupun dia tidak menunjuk Islam namun 2 kreteria tersebuthanya ada dalam Islam. Paus Binechtitus Xll pun, setelah menghina Islam dia menarik ucapannya dengan mengatakan, “Kita harus belajar kepada Islam dalam menyelesaikan krisis ekonomi kita.”

 Wahai Pembaca Budiman!

Jelaslah, akar masalah yang membelit pendidikan dan seluruh ranah kehidupan saat ini adalah karena ditinggalkannya syariah Islam dan diterapkannya asas sekulerisme dalam sistem kapitalisme-demokrasi yang menempatkan manusia sebagai pengganti Allah Swt. Untuk menuntaskannya tidak ada cara lain selain mencampakkan Demokrasi beserta dengan asasnya, kemudian menegakkan syariah dalam Khilafah Islamiyah.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Asas, Tujuan dan Hakikat Pendidikan Islam

Asas Pendidikan Islam Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan perbaikan akhlaq. ...

2 comments

  1. Pendidikan dan kesehatan adalah aset vital seseorang, makanya jaga dan perhatikan agar dapatkan solusi akhir yang menyenangkan untuk semu orang, suwun

  2. masalah atau solusi ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *