BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Agenda / Ar Rijal / Reportase Ar Rijal / Pembimbing Kalam UPI Ajak Bangun Ketakwaan

Pembimbing Kalam UPI Ajak Bangun Ketakwaan

Dr. Arim Nasim, M.Si.Ak.

Kalamedia, Bandung –  “Pada kondisi masyarakat yang sekuler di zaman kita ini, ketakwaan terwujud terikat dengan waktu. Kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat mempunyai semangat yang begitu luar biasa di Bulan Ramadhan. Membaca Alquran saja, bisa sampai tiga kali khatam atau minimalnya satu kali khatam. Orang-orang yang tidak mampu semakin diperhatikan dengan pengumpulan zakat dan sedekah. Hanya saja, setelah ramadhan berlalu, ketakwaan pun hilang,” ujar Dr. Arim Nasim, M.Si.Ak., pembimbing Kalam UPI,  pada acara Silaturahmi Keluarga Besar Kalam UPI di Aula Masjid Al Furqan UPI Lt. 1, kamis (13/8).

Beliau menyampaikan bahwa esensi takwa sesungguhnya ada empat hal, yaitu pertama, Landasan ketakwaan adalah keimanan. Tidak akan pernah terwujud ketakwaan jika tidak keimanan. Karena itu, yang diseru oleh Allah Swt. pada surat Al Baqarah ayat 183 adalah orang-orang beriman.

Di Indonesia, alhamdulillah muslim masih menjadi mayoritas. Namun, sayangnya mereka masih belum mengerti konsekuensi atas keimanan mereka. Disinilah salah satu peran Kalam, yakni memberikan pemahaman atas konsekuensi keimanan kepada Allah Swt.

Kedua, Pemahaman terhadap syariat Allah. Takwa tidak akan terealisasi jika kita tidak memahami syariat Allah. Tetapi, musibah besar telah menimpa umat Islam ketika Islam dicabut dari kehidupan dengan ditandai runtuhnya Khilafah Utsmani pada 1924. Pemahaman Islam hanya sebatas ritual. Ketika berpolitik hanya tersisa musyawarah dan adil tanpa standar yang jelas. Karena ghazul fikr yang begitu keras, sesuatu ide yang bukan Islam pun bila ‘dibungkus’ dengan musyawarah, bisa diterima oleh umat Islam. Semisal demokrasi.

Masyarakat juga memahami sistem ekonomi hanya zakat. Sistem pergaulan yang tersisa hanyalah NTCR (Nikah, Talak, Cerai, Rujuk). Benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa Islam akan kembali asing. Begitu banyak pemahaman Islam yang hilang di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat kebingungan dalam memahami Islam yang Kaffah. Diantara mereka ada yang menganggap ide yang bukan dari Islam sebagai ide Islam Maka, tugas kita adalah mengungkapkan pemahaman-pemahaman yang bukan berasal dari Islam dan menunjukkan pemahaman Islam yang benar. Dengan pemahaman Islam yang benar, niscaya akan muncul ketakwaan pada masyarakat.

Ketiga, mengamalkan Islam. Islam dipelajari dan dipahami bukan hanya untuk memuaskan dahaga intelektual, namun untuk diamalkan.

Dalam Islam, ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh individu, masyarakat (jamaah) dan negara. Kewajiban individu mungkin masih bisa dilaksanakan oleh individu. Namun, saat ini kewajiban yang seharusnya dilaksanakan oleh negara tidak berjalan. Hal ini disebabkan tidak diterapkannya Islam oleh negara.

Bila tidak menjalankan kewajiban, tentu saja berdosa. Dalam hal ini, saya menyebutnya sebagai dosa pasif. Dosa yang selalu terus bertambah karena ada kewajiban yang tidak dijalankan oleh Negara. Semisal hukum potong tangan bagi yang mencuri dengan syarat-syarat tertentu. Maka tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghadirkan kembali negara yang menerapkan syariat Islam.

Keempat, Bersabar. Karena menuju ketakwaan itu memang penuh dengan tantangan. Pun dalam melaksanakan syariat Islam akan ada banyak tantangan yang menanti. Bersabar adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang muslim menuju ketakwaan. Pun bagi kita yang sedang berusaha mewujudkan ketakwaan di tegah-tengah kehidupan mahasiswa, selayaknya kita bersabar. [] ra/kalamedia

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

KALAM UPI Sambut Mahasiswa Baru UPI 2016 Selama PMB UPI SNMPTN – SBMPTN – SM UPI

KALAM UPI Sambut Mahasiswa Baru UPI 2016 Selama PMB UPI SNMPTN – SBMPTN – SM ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *