BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / OSPEK, Menakutkan?

OSPEK, Menakutkan?

ospek1

Oleh: Musliadi

( Pengurus Komisariat Gema Pembebasan Universitas Ahmad Dahlan, DIY )

Bagi yang baru lulus SMA/setara tahun ini tentu menjadi tahun yang bahagia, dimana para siswa akan menginjak bangku kuliah di Universitas. Pada saat memulai aktivitas kuliah, mahasiswa akan menghadapi yang namanya ospek. Adapun tujuan ospek  itu sendiri adalah untuk membentuk karakter dan pengenalan lingkungan kampus pada mahasiswa baru. Namun apabila kita melihat fakta dilapangan aktivitas ospek yang dilakukan sangatlah jauh dari  tujuan ospek itu sendiri. Ospek yang diharapkan menjadi  tempat pembekalan mahasiswa malah dijadikan sebagai ajang peloncoan, ajang balas dendam  hingga  tidak heran jika terjadi akitivitas diluar moral seperti tindakan kekerasan, pelecehan sexual, yang bahkan berujung pada kematian seperti halnya yang dialami salah seorang siswa SMP di bekasi (Merdeka.com/03/8/15), serta aktivitas – aktivitas yang tidak berguna sama sekali, seperti harus menggunakan atribut kalung pete dan bertaskan karung beras.

Ospek sebagai Wadah Penyebaran Virus Liberal oleh Kelompok Liberal

Lain lagi di Kampus Islam, ospek malah dijadikan ajang penyebaran paham-paham liberalisme, sekuler dan pluralisme, kita tentu masih ingat ketika pada tahun 27 September 2004, di Fakultas Ushuluddin IAIN Bandung  pada masa ospek, seorang dari mahasiswa yang menjadi pembawa acara itu memulai dengan perkataan “Selamat bergabung di area bebas tuhan”, sedangkan jurusan Sosiologi salah satu diantara mereka mengatakan “kami tidak ingin punya tuhan yang takut pada akal manusia.” Dan yang lebih parah lagi adalah ketika seorang mahasiswa dari jurusan Aqidah Filsafat, mengepalkan tangan dan meneriakkan “Kita berdzikir bersama anjing hu akbar”, teriaknya lantang (Dr. Ardian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi,2009), tidak ingin kalah September 2014 mahasiswa dari Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya membententang spanduk dengan tulisan “Tuhan Membusuk”.

Menilik Sekilas Sejarah Ospek di Indonesia

Dari berbagai literatur, kegiatan mos atau ospek di Indonesia ternyata sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, yaitu di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kala itu, siswa baru harus menjadi “anak buah” bagi para senior untuk membersihkan ruangan kelas. Tradisi tersebut kemudian berlanjut pada era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Di GHS, kegiatan itu menjadi lebih formal namun bersifat sukarela. Kedua institusi tersebut kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). (Brilio.com)

Setelah Indonesia merdeka, tradisi tersebut masih berlanjut dan diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan, kegiatan itu semakin terasa wajib. Maka, muncullah istilah MOS dan Ospek yang diberlakukan di sekolah dan kampus di seluruh Indonesia.

Tulisan ini tidaklah bertujuan memberikan stigma negatif  atau menumbuhkan negativity bias dengan sengaja terhadap ospek itu sendiri melainkan bertujuan untuk memperbaiki serta mengajak merumuskan konsep ospek yang lebih baik karena memang tidak semua kampus terdapat kejadian seperti itu,  pengertian ospek tetaplah baik berdasarkan terminologinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa semua yang disebutkan diatas adalah fakta yang  terjadi akibat adanya pihak yang tidak bertanggung jawab serta tidak adanya perhatian dari pihak kampus. Hal tersebut  juga menunjukkan betapa lemahnya dan parahnya ospek di dalam sistem pendidikan Indonesia.   Dan jika hal tersebut tetap dibiarkan akan berpengaruh terhadap mental dan karakter mahasiswa, mahasiswa akan lebih cenderung keras, serta melahirkan jiwa individualis dan yang lebih parah terbentuknya karakter liberal, sekuler, pluralism, lemah iman dan tidak percaya akan tuhan dikalangan  mahasiswa tersebut.

Akibat di Terapkannya Sistem Pendidikan Sekuler

Apa itu sekulerisme? Menurut Muhammad Qutb ( ancaman sekulerisme,1986) diartikan sebagai, Iqomatu al-hayati ‘ala ghoyri asasina mina al-dini( membangun struktur kehidupan di atas landasan selain sistem Islam). Dan An-Nabhani mengartikan, “Pemisahan agama dengan kehidupan, ide ini menjadi aqidah(asas), sekaligus qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis) serta sebagai qaidah fikriyah ( landasan berfikir)” (Nizhamul Islam Al Quds,1953) atas dasar berfikir ini, mereka berpendapat bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat peraturan hidupnya, dan sesuai dengan hawa nafsu serta akalnya yang sangat terbatas itu.

Sangat ironis. Jelas kondisi ini menimpa sistem pendidikan itu sendiri, dan hampir di semua negara bahkan negeri-negeri kaum muslimin terhadap dunia pendidikan mereka ketika ini, akibat dari apa yang disebut westoxciation (Racun Pemikiran Barat) yakni: pluralisme, sinkretisme, nasionalisme, liberalisme, kapitalisme, sekulerisme dan seabrek isme lainnya dan mencoba untuk melakukan imitasi bahkan subtitusi secara total atau melakukan pemblasteran ( perkawinan) antara Sistem Barat (Sekuler-Liberal) dengan Sistem Islam yang suci, fitrah dan mulia itu.

Ospek dalam Islam

Agar calon mahasiswa nantinya memiliki semangat  belajar, aktif, berkarakter  dan bermotivasi tinggi. Tentu perlu adanya perumusan konsep ospek yang dapat menjawab itu semua karena kita mengetahui bahwa perubahan seseorang dipengaruhi oleh pandangan hidupnya. Dan Islam menjawab itu semua. Adapun konsepnya adalah :

  1. Mengenalkan arti makna hidup sebenarnya. Di usia mahasiswa yang beranjak dewasa ditandai oleh kesempurnaan akalnya, sejak saat itu ia mulai berpikir tentang “keberadaan”nya didunia ini. Aktivitas Ospek menjadi kesempatan untuk mengajak calon mahasiswa  berpikir tentang “apa arti hidup”nya, karena banyak diantara mereka tidak tahu dan tidak mencari tahu pertanyaan mendasar tersebut, padahal hal itu sangat penting karena akan menjadi way of live dan peta hidup bagi seorang muslim.  Adapun pertanyaan mendasar tersebut adalah, dari manakah manusia dan kehidupan ini ? untuk apa manusia dan kehidupan ini ada, serta akan kemana manusia dan kehidupan setelah ini, (Arief B. Iskandar, Materi Dasar Islam,2011). Dan jawaban atas pertanyaan tersebut haruslah memuaskan akal, sesuai dengan firah manusia dan melahirkan ketentraman. Dan tentu semua jawaban tersebut ada pada Islam.
  1. Membuat resolusi kepada mahasiswa, setelah mahasiswa sadar akan hidupnya, mahasiswa harus membentuk resolusi didalam dirinya, yaitu mahasiswa harus menjadikan Islam sebagai standar perbuatannya,ia akan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ia juga paham akan kewajiban  dakwah atas setiap individu tidak terkecuali mahasiswa dibidang iptek, tidak seperti saat ini yang terkotomi oleh jurusan seakan-akan kewajiban dakwah hanya di emban oleh mahasiswa yang mengambil jurusan agama.
  1. Mengenalkan kekuasaan Allah melalui setiap jurusan yang mahasiswa pilih, misalkan dibidang sains, tentang bagaimana alquran menjelaskan terbentuknya embrio, tentang astronomi dan lain-lain dengan begitu akan semakin kuat iman mereka terhadap Islam serta semakin cinta mereka dengan jurusan yang mereka pilih.

Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan (Goyah) pendidikan adalah melahirkan “Kepribadian Islam” dan membekali dengan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan (An-Nabhani. Nizhamul Islam, Al-Quds 1953), sehingga metode penyampaian pelajaran dirancang sedemikian rupa untuk menunjang tercapainya tujuan dan setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang [baca:haram]. Dengan demikian pendidikan Islam tidak hanya “Transfer of Knowledge“, tanpa memperhatikan ilmu pengetahuan yang diberikan itu, apakah dapat menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku yang Islami atau tidak. Olehnya itu harus selalu terikat dengan Ide tentang kehidupan dan nilai-nilai kehidupan Islam yang selalu berputar pada lingkaran peningkatan Iman.

Konsepsi ini terbukti dan rill pada masa pemerintahan Khilafah Islamiyah. Tatkala Eropa terbelenggu dan terpasung oleh kebodohan, kejumudan dan hal-hal yang berbau mistis, kaum Muslim telah menikmati kamajuan sains dan ilmu pengetahuan yang belum pernah dijumpai dalam sejarah kemanusian sebelumnya. Jadi dalam kondisi sekarang ini, harus ada perubahan mendasar yaitu : “Perubahan Paradigma Pendidikan” meliputi: kebijakan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran. Dan “Perubahan Konsepsi Ilmu” atau dengan istilah science Islamitation (Gerakan Islamisasi).

Dengan konsep tersebut diatas Insya Allah mahasiswa akan mempunyai karakter yang kuat karena mereka telah mempunyai pandangan hidup yang jelas. Wallahu alam bishawab. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *