BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Negeri Merdeka yang Masih Terjajah

Negeri Merdeka yang Masih Terjajah

Merah putih

Oleh: Hafizhah S. Rabbani (Dosen STIS Surabaya)

Indonesia. Siapa sih yang tak kenal dengan negeri surga ini? Negeri yang dijuluki sebagai Zambrud Kaltulistiwa ini memiliki hamparan sawah yang begitu luas, kekayaan laut yang melimpah ruah, tambang emas yang begitu banyak dan berbagai kekayaan lainnya.

Sialnya, di negeri yang bagaikan surga ini justru rakyatnya tak sedikit yang sengsara. Tak sedikit diantara rakyatnya yang meninggal karena kelaparan. Tak sedikit yang menjadi penjahat karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak. Lebih sial lagi ketika harga berbagai bahan makanan pokok yang terus melambung naik semakin mencekik, semakin sengsaralah rakyat.

Bagi sebagian kecil rakyat Indonesia yang sudah hidup di zona nyaman, mungkin tidak mengenal lagi apa itu derita. Apalagi jika hidupnya sudah dikelilingi oleh kemewahan, yang dirasakan adalah kesenangan dan akan sulit merasakan penderitaan masyarakat sekitarnya.

Bila pembaca budiman pernah mendengar penjajahan pemikiran, maka saya ingin mengatakan bahwa inilah keberhasilan penjajahan pemikiran. Manusia sudah tak bisa berpikir sehat dan peduli kepada sesama. Mereka lebih berpikir tentang diri sendiri, yang terpenting hidup aman dan selamat. Sekalipun tanpa sadar mereka sedang digiring untuk semakin jauh dari Islam.

Sadarilah, kita hanya mendengar dari sejarah bahwa umat muslim adalah umat yang adidaya. Sepanjang sejarah sejak Islam di terapkan oleh Rosulullah secara totalitas di Madinah, hingga dilanjutkan oleh para Khalifah yang pertama yaitu Abu Bakar as Siddiq dan kekhalifahan yang terakhir yaitu Sultan Hamid II. Islam mampu menjadi negara adidaya dan pernah menguasai 2/3 belahan dunia. Seluruh rakyat dari berbagai suku, agama dan ras mereka hidup aman dan sejahtera.

Sayang beribu sayang, Kekhilafahan telah runtuh. Bukan karena penjajahan fisik, melainkan penjajahan pemikiran yang sangat halus hingga kita tidak menyadari siapa lawan dan siapa kawan yang sebenarnya saat itu. Ditambah ada para pengkhianat dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Demikianlah yang terjadi pada negeri kita sekarang, kita tidak sadar bahwa sebenarnya Indonesia belum pernah merdeka, penjajahan hanya berubah dari penjajahan secara fisik menjadi penjajahan secara pemikiran.

Sebuah pernyataan dari orang-orang penting di AS mengatakan bahwa “Asia akan menjadi masa depan AS, karena itu semua elemen kekuatan AS akan dikerahkan mengembangkan upaya militer, politik, perdagangan dan investasi serta nilai-nilai AS di Asia Pasifik.” (TOM Donilon-US National Security Advisor). Juga pernyataan dari Politikus AS yang mengatakan bahwa Asia (Indonesia) adalah masa depan AS, dia mengatakan bahwa “Ada upaya untuk beralih ke sistem Asia non-cina yang independen” (Noam Chomaky, penulis/ kritikus kebijakan AS, 19/03/2014). Pernyataan itu bukan tanpa makna, melainkan menunjukkan bahwa Indonesia menjadi sasaran empuk untuk melanggengkan penjajahan AS dan sekutu.

Dalam upaya dominasi penjajahan militer misalnya; kita sebagai kaum muslim dibuat berkawan dengan penjajah AS dengan melakukan kerjasama, sehingga tidak merasa marah ketika militer kita dilemahkan. Bahkan ketika penjajah menghibahkan pesawat perangnya, kita merasa senang. Padahal pesawat yang dihibahkan adalah pesawat bekas yang tak berkualitas. Karena, tidak mungkin penjajah memberi fasilitas militer yang kekuatannya sama dengan mereka.

Selain itu, politik memecah belah antar kaum muslimin pun terus dilanggengkan. Bagaimana tidak, ketika isu terorisme diarahkan pada umat muslim, hal ini ditelan mentah-mentah tanpa adanya klarifikasi lagi terhadap tertuduh. Lahirnya densus 88 yang notabene untuk mengatasi teroris, justru membunuhi umat muslim tanpa adanya bukti yang jelas. Sering sekali mereka memperlakukan tertuduh dengan tidak manusiawi, tanpa memberi kesempatan untuk membuktikan kebenarannya mereka langsung menghabisi nyawa tanpa ampun. Isu terorisme justru menimbulkan konflik antar umat muslim, menimbulkan kecurigaan-kecurigaan terhadap saudaranya sendiri, bahkan merasa resah terhadap mereka yang ingin mendakwahkan Islam secara keseluruhan. Peran media untuk menggencarkan Isu terorisme berhasil melucuti syariah Islam dari tubuh umat.

Dalam masalah politik ekonomi dan investasi, kita dilemahkan sedemikian rupa sehingga ekonomi kita menjadi sangat miskin. Seperti yang saya katakan di awal, bahwa sebenarnya Indonesia adalah negeri surga, Allah memberi kekayaan yang sangat luar biasa pada negeri kita, dan hal itu tidak dimiliki oleh negeri yang lain. SDA yang besar dan SDM yang sangat potensial harusnya mampu menjadikan Indonesia menjadi negara yang adidaya. Kita memiliki 3 gunung emas dan perak di papua setinggi 5000 meter, tapi sekarang gunung yang menjulang itu menjadi jurang sebab digali oleh Freeport selama puluhan tahun hingga sekarang. Dari hasil tambang itu Indonesia hanya mendapatkan bagian sebesar 1% banding 230 juta jiwa penduduk Indonesia dan 99% di kuasai AS.

Selain itu, kita mempunyai cadangan minyak sebesar 4,4 miliar barrel. Kita punya tambang gas di Telaga Tiga dan Telaga Said dekat pangkalan Brandan, Sumut, tapi dikuasai perusahaan minyak asal Belanda yaitu Shell. Belum lagi tambang minyak di beberapa wilayah seperti di Cepu. Penemuan Riam kiwa di daerah Sanga-sanga, tambang minyak di Kalimantan, penemuan minyak hitam di Sumatra Selatan (dekat Muara Enim) Riau, kepulauan Natuna, di Papua Barat dll yang semua itu dikuasai oleh asing. Menurut SKK Migas yang dilansir liputan 6, eksplorasi minyak terbesar di Indonesia masih berada di tangan PT. Chevron dan PT. pertamina hanya mendapat urutan ke dua. Kekayaan perkebunan yang melimpah seperti; coklat, kelapa sawit, kopi, karet yang juga dikuasai asing. Indonesia juga mempunyai kekayaan laut, hutan yang sangat besar dan semua itu seharusnya cukup untuk mensejahterakan umat tapi faktanya kita menjadi pengemis di negeri sendiri. APBN yang terus dipenuhi dengan memalak rakyat dari iuran pajak, dan hutang negara yang bunganya pun di bebankan kepada rakyat.

Dengan sistem ekonomi kapitalis, kita dibuat menjadi umat yang konsumtif, dan SDM kita diposisikan sebagai kaum buruh. Bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang memaksakan diri mengikuti pasar bebas, jelas melumpuhkan perekonomian kelas menengah ke bawah. Sedangkan perusahaan-perusahaan besar jelas menjadi penguasa baik sektor hulu maupun sektor hilir. Selain itu, asing terus menjejalkan berbagai UU kepada pemerintah, agar UU yang diinginkan mendapat payung hukum. Bisa kita lihat seperti; UU migas, UU listrik, UU sumber daya air, UU tenaga kerja, UU BPJS dan yang terbaru UU jaminan hari tua. Semua itu UU yang mendapat payung hukum dari pemerintah dan tidak ada satupun dari UU yang buat untuk menyejahterakan dan melindungi umat. Semua UU itu dibuat untuk kepentingan penjajah. Alih-alih menyejahterakan rakyat melalui BLT dan subsidi hanyalah pemanis saja. Ibaratnya membuang uang recehan tetapi mengamankan uang ratusan ribu.

Masih adakah yang mengatakan bahwa kita sudah merdeka? Ingat itu baru dari segi militer, politik dan ekonomi belum membahas masalah sosbud, hukum, dll. Demikian penjajahan pemikiran ‘sakti’ sehingga tanpa terasa kita sudah terbiasa sehingga hampir tidak bisa melihat meski hal itu terjadi di depan mata kita. Sebagai muslim tentu kita mempunyai aturan hidup yang ideal sehingga tidak perlu lagi mempercayai dan mengadopsi segala sesuatu yang di luar Islam. Selama ini kita dikaburkan bahwa Islam hanyalah agama yang mengatur urusan ibadah semata. Kita lupa bahwa Islam merupakan sebuah pandangan hidup dan Allah menciptakan aturan yang sempurna di dalam Al Quran. Demokrasi kapitalisme jelas harus ditinggalkan dari diri kita dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bagaimana Islam mengatur masalah militer, politik ekonomi dll agar kita terbebas dari penjajahan? Tunggu pembahasan selanjutnya di Negeri Merdeka yang Masih Terjajah bagian II.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *