BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Negeri Impian yang Didambakan

Negeri Impian yang Didambakan

6c134-human-ecology

Oleh Sahreva, Ketua Departemen Pembinaan dan Pengkaderan

            Sudah menjadi rahasia umum setiap manusia ingin merasakan hidup dalam kondisi sejahtera. Itulah manusia secara fitrahnya memang akan mendambakan kehidupan tersebut. Memang seperti lagu lama ketika seseorang mengharapkan kesejahteraan saat ini. Sangat jauh ketika melihat realita yang masih harus kita pertanyakan, mengapa sulit bagi kita untuk sejahtera?

            Menturut KBBI arti kata sejahtera adalah aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Jika dievaluasi, sulit untuk negeri ini mendapatkan kesejahteraan ditinjau dari dua aspek:

Pertama, dominannya penguasaan asing terhadap sumberdaya alam Indonesia. Dengan sumberdaya alam yang melimpah ruah seperti tambang, emas, gas dan lain-lain, namun ironisnya penguasaan asing terhadap sektor migas mencapai 84%. Pertamina hanya mendapatkan 16%. Kedua, Indonesia bergantung dalam kebutuhan pangan pada impor. Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan Indonesia mengimpor garam 923 ribu ton pada januari-Juni 2013 senilai 43,1 juta dolar AS. Selanjutnya, impor tembakau, kentang, cabai, singkong, kakao, kopi, beras, jagung, kedelai, tepung terigu, biji gandum, gula pasir, minyak goreng dan susu (Detik.com,7/8/2013).

            Dua aspek di atas menunjukkan memang negeri ini belum mandiri karena masih bergantung dengan pihak asing. Jika kita merefleksikan sumberdaya alam negeri ini yang melimpah ruah dengan mengoptimalkan dengan pengelolaan secara mandiri, pasti akan mampu untuk mendapatkan hasil yang optimal juga yaitu “sejahtera”.

Negeri Impian yang Didambakan

            Ketika mengingat saat kejayaan Islam, saat Khilafah memimpin dunia, masih terekam jelas di benak kita sosok yang heroik yaitu Umar bin Abdul Aziz. Siapa yang tak kenal beliau? Namanya begitu terkenal dikarenakan kemampuan beliau dalam mengayomi dan mengurusi rakyat. Sampai tidak ada satu orang yang mau untuk menerima zakat, karena sudah merasa “sejahtera”. Pertanyaannya, apa latar belakang keberhasilan Umar bin Abdul Aziz? Ternyata, karena ia menerapkan sistem ekonomi Islam dimana aturan tersebut adalah seruan dari sang Pencipta yaitu Allah Swt.

            Harus dipahami dengan benar, bahwa tidak boleh bagi kita untuk menerapkan sistem ekonomi Islam hanya dikarenakan dorongan ingin sejahtera. Namun lebih jauh dari itu, dilandasi atas dasar Iman kepada Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, “Umat Islam berserikat pada 3 hal: air, api, dan padang rumput” (HR.At-Tirmidzi). Maka tidak aneh jika seorang Khalifah (pemimpin) akan mengoptimalkan SDA untuk akhirnya dikelola secara mandiri dan hasilnya akan didistribusikan secara merata kepada seluruh masyarakat, baik itu kaya-miskin, muslim dan non-muslim. Semua warga negara berhak mendapat hasil dari sumber SDA. Haram hukumnya bagi negara Khilafah untuk memberikan pengelolaan SDA kepada asing karena terikat dengan hadits di atas. Maka kita akan mampu menyaksikan kondisi ideal yang dikarenakan penerapan hukum Islam dalam naungan negara Khilafah, yang semua ini tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya semangat dan dorongan aqidah Islamiyah.

Wallahu a’laam.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *