BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Miris, Indonesia Membunuh Lagi

Miris, Indonesia Membunuh Lagi

Indonesia Membunuh Lagi

Oleh: Tia Miftahul Khoiriyah (Ketua Divisi Annisaa KALAM UPI)

Lagi-lagi motif himpitan ekonomi menjadi penyebab bunuh diri. Parahnya, kasus ini terjadi pada satu keluarga, termasuk anak-anak. Hal ini terjadi, karena pelaku merasa khawatir terhadap masa depan keluarganya. Warga Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat malam (3/4), digegerkan dengan ditemukanya tiga orang tewas dalam kamar. Satu keluarga ini masing-masing Yudi Santoso, Pajar Retno, dan anaknya, Ola (7). (web.rcti.we.id, 04/04/2015).

Kasus Yudi Santoso dan keluarga bukanlah kasus pertama kali yang terjadi di Indonesia. Beberapa waktu lalu, Kota Bogor pun digegerkan dengan kasus Markiah yang membawa anaknya berumur tiga tahun melompat dari sebuah jembatan di Pulo Empang kota Bogor untuk mengakhiri hidupnya. Pun kasus seorang ibu yang membunuh anaknya akibat himpitan ekonomi, Ibu Herawati dengan lebih dahulu menenggelamkan anaknya ke selokan, lalu ia menyayat lengannya sendiri hingga akhirnya tewas.

Indonesia Tak Sejahtera

Kondisi ekonomi Indonesia yang buruk telah menghilangkan rasa optimisme hidup. Berbagai ketakutan masa depan pun menghantui masyarakat. Tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup. Gambaran tersebut menunjukan bahwa Indonesia tak mampu mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat. Kemerdekaan yang telah lama diraih pun, tak terasa.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan. Mulai dari pengadaan Bantuan Langsung Tunai hingga Meminjam ke IMF. Tapi sampai saat ini kesejahteraan tak terasa. Sialnya, terkadang upaya-upaya yang dilakukan pemerintah  justru memberikan penderitaan yang baru, semisal utang Indonesia yang mencapai lebih dari Rp3.700 triliun. (tempo.co, 19/02/2015)

Mengurai Benang Kapitalisme

Ketidakberhasilan negara mengurusi rakyat seharusnya menjadi refleksi bagi pemerintah. Apalagi ketidakberhasilan ini sudah lebih dari 70 tahun. Selama itu pula, rezim dan gaya kepemimpinan berganti, namun keberhasilan memberikan kesejahteraan terhadap masyarakat tak kunjung tiba.

Usut punya usut, sistem kapitalisme telah mengakar di Indonesia. Sistem kapitalisme yang bertumpu pada para kapital telah menghancurkan kehidupan manusia. Sistem kapitalisme juga mengubah keberadaan negara yang seharusnya bertujuan menjaga harta, kehormatan, akidah, jiwa, keamanan, dan akal menjadi diminimalisir, terlihat dari berbagai kebijakan yang ada seperti bidang pendidikan dengan UKT, bidang kesehatan dengan BPJS, dan  bidang energi dengan pencabutan Subsidi BBM. Maka peran negara dalam urusan kesejahteraan rakyat seolah ‘lepas tangan’, dan menyerahkan semua upaya mewujudkan kesejahteraan pada rakyat sendiri.

Kekayaan negeri zamrud khatulistiwa pun tidak terdistribusi secara merata dan adil pada seluruh rakyat. Sebab, kapitalisme menjadikan kekayaan bergerak pada individu-individu tertentu yaitu para kapital (pemilik modal). Prinsip yang digunakan adalah prinsip‘survival of the fittest’, siapa yang kuat dialah yang menang. Siapapun bisa menguasai apapun asal ada modal. Jika mau gunung, air, laut, hutan, gurun, tambang minyak, gas, batu bara silakan asal ada uang. Inilah yang menjadikan Si miskin makin miskin dan Si kaya makin kaya.

Membuka Mata Indonesia

Kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi, bukanlah yang pertama. Artinya setiap upaya yang dilakukan pemerintah memang tidak membuahkan hasil sehingga berbagai kasus pun seringkali terulang. Hal ini terjadi karena memang yang menjadi sistem kita pun sudah bermasalah, yakni sistem kapitalisme sebagaimana uraian diatas. Karenanya, perlu ada sebuah sistem yang bisa mejadi solusi bagi permasalah ini.

Dalam hal ini, Islam sebagai agama yang sempurna, mampu mengatur dan memberi solusi atas apapun yang terjadi baik dalam urusan kehidupan individu, masyarakat maupun negara. Negara yang berasaskan Islam akan mengoptimalkan perannya untuk meraih tujuan dalam menjaga harta, kehormatan, akidah, jiwa, keamanan, dan akal. Berikut upaya penjagaan negara terhadap rakyatnya. Yaitu Pertama, negara wajib menyediakan lapangan kerja untuk rakyat, baik dengan pendekatan langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dengan membuka lapangan kerja melalui proyek pembangunan. Sedangkan secara tak langsung, negara harus menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif diantaranya dengan sistem administrasi dan birokrasi yang mudah, sederhana, cepat, dan tanpa pungutan

Kedua, jika individu itu tetap tidak mampu, maka beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya.  Ketiga, Apabila kerabat tidak ada atau tidak mampu, maka beban itu beralih ke baitul mal yakni kepada negara. Nabi saw. bersabda : “Aku lebih utama dibandingkan orang-orang beriman daripada diri mereka, siapa yang meninggalkan harta maka bagi keluarganya, dan siapa yang meninggalkan hutang atau tanggungan keluarga, maka datanglah kepadaku, dan menjadi kewajibanku.” (HR. Ibnu Hibban)

Jelaslah bahwa negara berasaskan Islam akan menjamin dan turut serta dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan, negara diwajibkan memenuhinya secara langsung dan menyediakan untuk rakyat secara gratis atau minim biaya. Biaya pemenuhan tersebut berasal dari harta milik negara, hasil pengelolaan harta milik umum seperti migas, tambang, laut, danau, sungai, dan hutan. Hal ini berdasarkan hadits, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.(HR. Abu Dawud).

Keberadaan negara sebagai pelindung umat pun didorong dengan keberadaan khalifah yang akan menjadi perisai bagi umat. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) adalah laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya)”(HR. Muslim)

Kita bisa menyaksikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau selalu berkeliling malam hari untuk memastikan rakyat dalam kondisi terpenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan beliau rela membawa sekarung gandum sebagai bentuk penembus kelalaiannya ketika ada seorang perempuan beserta anaknya yang tidak bisa makan karena tidak memiliki bahan makanan.

Wahai Mahasiswa

Masihkah kita menutup mata untuk realita yang ada? Ataukah kita akan membiarkan banyak kasus terjadi terus menerus? Atau mungkin kita rela dengan kondisi yang ada? Sungguh, tak layak bagi seorang mahasiswa bersikap acuh tak acuh dengan permasalahan negeri ini.

Sudah saatnya kita menyadari ada yang salah pada negeri ini. Bukan hanya terletak pada kesalahan rezim, tapi sistem yang diterapkan di Indonesia telah terbukti tidak mampu memberikan kesejahteraan. Hal ini wajar, karena memang bukan sistem Islam yang diterapkan. Maka adalah suatu kewajaran pula, jika sistem ini bukan hanya tidak mampu memberikan kesejahteraan, melainkan membawa penderitaan.

Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Jalan terbaik satu-satunya adalah kembali ke jalan Islam. Karena hanya Islam lah yang mampu memberikan kesejahteraan bagi manusia. Selain itu, Islam pun mampu menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan. Maka sudah saatnya bagi kita untuk memperjuangkan Islam hingga tegak dalam sebuah naungan negara dan menebarkan kesejahteraan ke seluruh dunia.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu(QS Al-Anfal: 24)

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *