BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Merenungi Hari Kebangkitan Nasional

Merenungi Hari Kebangkitan Nasional

Oleh : Tatang Hidayat (Ketua Umum UKM KALAM UPI / Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI 2013)

20 Mei selalu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, meskipun masih ada kerancuan terkait penetapan hari kebangkitan nasional tersebut. sebagaimana dijelaskan Prof. Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah 1 dan 2. Budi Utomo selain sebagai kumpulan elit bangsawan, juga sebagai penganut Kedjawen yang tidak sejalan dengan agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarkaat Jawa. Budi Utomo terlahir dari siswa School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). STOVIA baru didirikan pada 1902, sebagai perubahan dari Sekolah DOkter Djawa dan lama studinya tiga tahun. Siswanya berasal dari sekolah dasar Bumiputera-Inlandsche school yang  lama sekolahnya lima tahun. Demikian penjelasan Soemarsono Mestoko,1986, dalam Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman.

Sejarah mencatat bahwa Budi Utomo yang didirikan pada 20 Mei 1908, padahal dalam realitas sejarahnya, justru keputusan Kongres Budi Utomo di Surakarta, menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia, 1928 M. Ketika kabinet Hatta (1948-1949 M) mendapat serangan balik dari pelaku kudeta tanggal 3 Juli oleh Tan Malaka dari Marxist Moerba dan M. Yamin. Kabinet Hatta mencoba mengadakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Hal ini diakibatkan pembelaan Tan Malaka dan Muhammad Yamin yang diangkat di media massa cetak maupun radio, dinilai oleh kabinet Hatta akan menimbulkan perpecahan yang sedang menghadapi Perang Kemerdekaan (1364-1369 H/1945-1950 M). Diputuskan Budi Utomo yang tanggal berdirinya 20 Mei dijadikan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Bukan Sjarikat Dagang Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Persatoean Islam atau Nahdlatoel Oelama. Walaupun organisasi – organisasi Islam ini mengakar dan mempunyai pengaruh besar pada rakyat Indonesia hingga sekarang. (Kompasiana.com, 25/6/2015)

Disamping masih pro kontra akan penetapan hari kebangkitan nasional, karena sejarah yang ada telah mengalami Deislamisasi sejarah, seolah-olah meniadakan peran umat Islam dalam memimpin pergerakan nasional. Padahal jika kita melihat realitasnya justru Ulama dan Santrilah yang selalu memimpin pergerakan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Seharusnya kita merenungi setiap diperingatinya hari kebangkitan nasional, bukan hanya diperingati tiap tahun tetapi tidak memberikan kesan yang berarti. Indonesia sudah melewai 70 tahun sejak kemerdekaannya, tetapi pertanyaannya sudah bangkitkah Indonesia?

Jika kita melihat realitasnya Indonesia saat ini, tentu kita akan melihat berbagai peristiwa mewarnai Indonesia saat ini. mulai dari tingginya angka kemiskinan, kerusuhan, criminal, pembunuhah, kenakalan remaja, perzinahan, prostitusi, bahkan ternyata Indonesia masih di jajah, salah satunya dari segi ekonomi, Indonesia sudah dijajah oleh Kapitalisme Global.

Dijelaskan oleh anggota MPR, Ahmad Basarah, di depan peserta Training of Trainers 4 Pilar di lingkungan TNI dan Polri di Bandung, mengatakan bahwa bangsa ini secara ekonomi sudah dijajah oleh kapitalisme global. ia mengatakan bahwa tak hanya dalam soal kepemimpinan yang sudah terkontaminasi unsur kapitalisme namun saat ini juga ada sekitar 173 undang-undang yang berpihak pada asing dan tak sesuai dengan Pancasila. (reportaseindonesia.com, 29/8/2015)

Ahmad Basarah mengutip apa yang pernah disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa sekarang kita sedang melakukan peperangan namun bukan peperangan konvensional tapi perang modern. Perang modern, menurutnya, lebih canggih dibandingkan perang konvensional karena dampaknya lebih dahsyat. Dalam perang modern tak ada pangkalan dan tentara asing di Indonesia namun yang ada adalah pangkalan mental asing.”Pangkalan mental asing itulah yang akan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya. (reportaseindonesia.com, 29/8/2015)

Saat ini Indonesia sudah dikurung oleh 13 pangkalan militer Amerika Serikat, Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia. Jakarta (Garuda Militer 14/12/2012)

Belum lagi masalah yang ada di sebelah timur Indonesia, Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus merongrong ingin memisahkan diri dari Indonesia. rangkaian kejadian pada 1 Desember yang selalu diperingati sebagian orang asli Papua sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Papua disikapi legislator Papua, Lawrenzus kadepa. Katanya, ia kesal momen 1 Desember tahun ini ada nyawa yang melayang. (Tabloidjibu.com (2/12/2015)

“Dari kelompok manapun mereka, baik dari pihak yang diklaim aparat keamanan anggota kelompok bersenjata atau anggota TNI di Mamberamo, dari sisi kemanusiaan saya prihatain kenapa nyawa mereka harus dihabisi. Saya khawatir kepentingan NKRI dan Papua Merdeka menyebabkan rakyat sipil di Papua selalu korban.” Kata Kadepa. (tabloidjibu.com, 2/12/2015)

Tingkat korupsi di Indonesiapun masih tinggi, korupsi di Indonesia semakin merajalela. Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, ada beberapa faktor yang membuat korupsi di Indonesia terasa malah semakin banyak hingga ke berbagai pejabat lintas tingkatan. Pertama, objek korupsi yang biasa dilakukan di Indonesia adalah anggaran, baik APBN maupun APBD. Kemudian, nilai anggaran setiap tahunnya pun semakin besar. (liputan6.com 12/5/2016)

“Korupsi itu sebagian besar yang dikorupsi itu anggaran negara, di samping kebijakan. Kebijakan juga ada korupsi, tapi sebagian besar anggaran. Anggaran kita naik 100% setiap 5 tahun, pasti yang dikorupsi juga makin besar. Anggaran kabupaten bukan lagi puluhan, sudah triliunan, pasti,” kata pria yang kerap disapa JK itu di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/5/2016). (liputan6.com)

Berbagai peristiwa yang mewarnai Indonesia saat ini tentunya akan membuat kita miris melihatnya, saat ini ibu pertiwi sedang menangis, hari kebangkitan nasional yang selalu diperingati setiap tahun tidak memberikan kesan yang sangat berarti untuk kebangkitan Indonesia. jelas kita masih dijajah, kebijakan ekonomi masih merujuk pada Kapitalisme, tragisnya, hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi “penyakit” umum rakyat. Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. bukan hanya tak aman dari sesama. Rakyat pun tak aman dari penguasa mereka.

Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan antar musuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur disana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para aktivis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam, mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas.

Karena itu, kunci agar kita benar-benar bangkit dari penjajahan non-fisik saat ini adalah dengan melepaskan diri dari : (1) Sistem Kapitalisme-Sekuler dalam segala bidang; (2) para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis.

Selanjutnya kita harus segera menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh kehidupan kita, karena hanya dengan Syariah Islamlah kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan. Hanya dengan Syariah Islam pula kita bisa meraih kebangkitan yang hakiki. sehingga ketika Islam diterapkan akan terwujudlah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Mahabenar Allah Yang berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad saw.) melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

2 comments

  1. Tulisannya sangat mengena. Terimakasih artikelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *