BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Download / Buletin / MENATA ULANG PENDIDIKAN INDONESIA

MENATA ULANG PENDIDIKAN INDONESIA

Pendidikan Indonesia hingga kini masih diiringi berbagai problematika, terlalu banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi baik pada aspek kurikulum, pendidik, dan peserta didik. Sebut saja kasus yang terjadi beberapa pekan lalu dan jelas telah mencoreng dunia pendidikan kita adalah bocornya soal Ujian Nasional di internet. Disisi peserta didik, gaul bebas telah sedemikian merebak dan pada kondisi yang memprihatinkan.

Saat ditanya siapakah yang bertanggungjawab atas berbagai problematika yang terjadi, maka jawabannya tak bisa hanya disematkan pada sekolah ataupun individu. Karena pendidikan, sejatinya bukan hanya perihal bagaimana peserta didik belajar di sekolah. Lebih luas dari itu, pendidikan mencakup beberapa aspek yakni aspek keluarga, masyarakat, serta negara.

mei dalam

Pendidikan saat ini

Problematika pendidikan di Indonesia sesungguhnya merupakan masalah sistemik yang melibatkan berbagai aspek secara kompleks, yakni Pertama,dari sisi kurikulum.Kurikulum merupakan alat yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat dalam kurikulum tersebut dan jelaslah, peran dan fungsi kurikulum sangat menentukan bagaimana pendidikan sebuah Negara akan dijalankan. Melihat kurikulum di Indonesia sendiri sudah sangat diracuni oleh sekularisme, ialah dipisahkannya antara ilmu pengetahuan dan agama. Terlebih, tidak adanya standar nilai yang kokoh dalam penilaian seseorang bisa jadi dikatakan cerdas apabila nilai pelajarannya tinggi, namun nol dalam akhlak. Disamping itu, ilmu pengetahuan yang mengikuti standar kebutuhan pasar sehingga saat ilmu tersebut dirasa bermanfaat maka akan dipelajarari dan disokong oleh Negara pun sebaliknya. Kemudian, Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap karena dasar pijakannya pun belum jelas. Dan dapat dipastikan, ketika mutu kurikulum kabur, maka output pendidikan itu sendiri akan ngawur.

Kedua,kondisi para pendidik yang kian melenceng dari ‘kodratnya’ untuk memberikan pelajaran yang terbaik, baik dalam segi ilmu pengetahuan maupun tentang bagaimana berperilaku. Kini, banyak bermunculan kasus tentang pendidik yang tidak semestinya, seperti asusila yang dilakukan guru terhadap muridnya, penganiayaan, serta perilaku lain yang tidak mencerminkan seseorang yang harusnya bisa digugu dan ditiru.

Ketiga, dari kondisi masyarakatnya sendiri yang acuh terhadap berbagai problematika yang terjadi, serta tidak adanya iklim amar maruf nahi munkar karena mengatasnamakan hak azasi yang menyebabkan semakin bebasnya masyarakat dalam bertindak.

Keempat, dari sisi keluarga dimana seharusnya keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi seseorang untuk mendapatkan pendidikan, kini fungsi tersebut tak dapat terpenuhi lagi. Setiap anggota keluarga sibuk akan pekerjaan dan kegiatan masing-masing sehingga, tak ada kasih sayang yang tercurah padahal sejatinya hal tersebut adalah hak bagi anak. Maka tak heran anak mencari pelampiasan di tempat lain yang justru seringkali adalah tempat yang salah seperti pada obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dsb.

Bagaimana Islam mengatur pendidikan?

Islam sebagai Dien yang sempurna yang memiliki pengaturan dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya Pendidikan. Pertama, Islam mendorong orang tua untuk peduli dan turut serta dalam proses pendidikan anak, dimana peran ibu adalah sebagai madrosatul ula bagi anak, dia lah yang pertama kali mendidik dan membimbing anak dalam seluruh aspek kehidupan.

Kedua,Kurikulum pendidikan dalam Islam yang fokus pada 3 aspek yaitu pembentukan kepribadian, tsaqafah islam serta ilmu pengetahuan kurikulum dalam Islam amatlah bertolak belakang dengan pragmatisme ataupun sekularisme. Maka pada satu aspek mampu melahirkan peserta didik berpribadian mulia, dan pada aspek lain di saat yang bersamaan mempersiapkan potensi intelektual dan kejiwaan peserta didik menjadi para pakar di berbagai bidang keilmuan dan keahlian.

Ketiga,Islam pun akan mengkondisikan lingkungan masyarakat yang membangkitkan ruhiyah, tentu dengan penerapan sempurna Islam dalam kehidupan sehingga akan turut mengkondisikan kualitas peserta didik.

Keempat, Islam mengharuskan kepada negara/pemimpin untuk menjamin akses pendidikan semua rakyatnya secara gratis dan berkualitas. Maka tentu dapat dipastikan, dari pengaturan yang sempurna tersebut lahir para ilmuwan yang menyinari dunia dengan penemuannya serta mempunyai syaksiyah (kepribadian) islam. Seperti Al-Khawarizmi sang bapak fisika dan juga seorang ulama, Ibnu Sina sang bapak kedokteran yang juga ahli ibadah, Maryam Al-Astrulabi sang penemu astrolube yang menjadi seorang ilmuwan atas dorongan akidah islam, serta banyak lagi.

mei depan

Pendidikan Islam pernah diterapkan dalam sebuah negara besar selama ±14 abad, disana peran negara sangatlah terlihat seperti pada masa khalifah Al-Muntanshim Billah didirikan Universitas al-Muntanshiriyah sebagai sekolah terbesar masa itu di kota Baghdad, dan jelas pendidikannya gratis. Kemudian, walaupun masa itu belum ada percetakan di madrasah al-fardhiliyah sudah ada koleksi 100.000 kitab. Contoh lain, adalah Khalifah Hakam bin Abdurrahman an-Nasir mendirikan Universitas Cordoba yang menampung mahasiswa Muslim dan Barat secara gratis.

Itulah beberapa contoh penerapan Islam yang menyejahterakan umat. Hanya saja, pendidikan Islam ini tidak akan mungkin bisa terwujud kecuali jika diaplikasikan dalam sistem yang menerapkan seluruh aturan Sang Pencipta dalam naungan Khilafah. Maka sudah saatnya kita sadar bahwa hanya aturan Islam lah yang benar dan satu-satunya solusi, mari bersama-sama memperjuangkan tegaknya kembali aturan Islam. Karena Allah pun sudah mengabarkan lewat bisyarah Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum (menuju kemuliaan) dengan Al Quran ini dan dengannya pula akan menjatuhkan kaum yang lain (menuju kehinaan).” (HR Muslim)

Wa Allahu a’lam bi ash-shawab.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *