BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Tsaqofah / Fiqih / Membujang, bolehkah?

Membujang, bolehkah?

7

Yang dimaksudkan dengan kata tabattul (membujang) di sini adalah memutuskan diri untuk tidak menikah dan menjadi segala hal yang bersangkutan dengannya. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah “Wa Tabattal Ilaihi Tabtila”. Mujahid menafsirkan ayat ini dengan: “Penuh ketekunan dan keikhlasan kepada Allah.” Yang demikian itu merupakan penafsiran maknawi. Karena pada dasarnya kata tabattul itu berarti keterputusan. Dari Sa’ad bin Abi Waqqas, ia berkata: “Rasulullah pernah memperingatkan dengan tegas, Utsman bin Madzun, sebagai orang yang berniat membujang. Seandainya beliau mengizinkannya, niscaya kami sudah bervasektomi (berkebiri)” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi). Juga hadis dari Samurah, ia berkata: “Rasulullah melarang tindakan membujang” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi serta dihasankan oleh At-Tirmidzi).

“Pada hadis di atas terdapat larangan yang bersifat mengharamkan dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini di kalangan para ulama. Karena, membujang itu dapat mengandung unsur pengrusakan dan penyiksaan diri dengan mendekatknnya kepada bahaya yang tidak jarang membawa kepada kebinasaan,” demikian menurut Ibnu Hajar. Selain itu membujang juga dapat menghilangkan makna kejantanan serta merubah ciptaan Allah dan kufur terhadap nikmat-Nya. Karena, penciptaan alat kelamin pada seorang laki-laki merupakan nikmat yang sangat besar, sehingga jika ia menghilangkannya (dengan cara dikebiri), maka berarti ia telah menyerupai wanita.

Al-Qurthubi mengatakan: “Selain dilarang pada manusia, vasektomi juga dilarang pada hewan, kecuali untuk pengobatan atau menghindarkan bahaya yang mengancam.” Secara umum, vasektomi diharamkan pada semua jenis hewan, selain pada hewan potong yang khusus dimakan dagingnya. Ini pun hanya dibolehkan pada hewan-hewan yang masih kecil dan tidak pada yang besar. Penulis berpendapat, bahwa hal itu memperkuat apa yang dikemukakan oleh Al-Qurthubi yang membolehkan vasektomi pada hewan-hewan besar, yaitu ketika adanya behaya yang mengancam. Demikian menurut pendapat An-Nawawi.

Ditulis oleh: M. Sufyan As Tsauri

 

Sumber:

Uwaidah, K. M. (2009). Fiqih Wanita Edisi Lengkap. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tata Cara Sholat Jamak dan Qashar (2)

JIKA telah memenuhi syarat sah sebagai rukhsah, selain di jamak salat fardu juga dapat di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *