BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Sukses Hidup / Manajemen Diri

Manajemen Diri

Oleh: Hafizhah Syifa’ (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Surabaya)

Apa yang Anda bayangkan apabila mendengar kata “manajemen”? Para pakar mendefinisikan bahwa manajemen meliputi empat aktifitas penting yang meliputi planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pengkoordinasian) dan controlling (pengawasan) untuk mencapai tujuan melalui orang lain.

Lalu, apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata “dakwah”?  Dalam kitab ad Dakwah Ila al Islam karya Ustd Ahmad Mahmud dijelaskan bahwa hakikat dakwah adalah upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan. Menyeru orang pada Islam maknanya adalah berupaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang kita serukan, yaitu Islam. Dan dakwah mempunyai makna bukan hanya mencakup aktifitas lisan tetapi juga mencakup seluruh perbuatan harus sesuai dengan Islam.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban yang harus dilaksanakan, tidak ada tawar menawar dalam hal ini. Namun demikian kita pun harus melaksanakan kewajiban yang lain. Sebagai manusia biasa, terkadang kita merasa putus asa bila dihadapkan dengan berbagai aktifitas yang ‘berat’ dalam kehidupan, seperti kewajiban amar ma’ruf nahi munkar ini. Terkadang, merasa tidak sanggup melaksanakannya atau bahkan salah satunya tidak tersentuh sama sekali. Bila hal ini terjadi kepada diri kita, mengapa? Saya mengatakan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar itu berat karena memang tidak semua orang melakukannya. Hanya orang-orang yang mampu bersabar yang bisa melakukannya. Sebab aktifitasnya menanggung banyak resiko sebagaimana yang pernah dialami oleh Rasulullah dan para sahabat. Karenanya adalah suatu kewajaran bila diantara manusia ada yang merasa tidak sanggup melaksanakannya. Bahkan, mereka yang sudah berkomitmen di jalan dakwah pun terkadang malah ‘tumbang’ dan berhenti di tengah jalan. Berbagai alasan melatarbelakangi ketumbangan mereka di jalan dakwah, salah satunya karena ketidakbisaan mereka dalam mengatur aktifitas dakwah dan aktifitas keperluan pribadi.

Setiap orang memang perlu melakukan muhasabah diri. Apalagi bagi mereka yang berhenti di jalan dakwah dengan alasan waktu aktifitas dakwah banyak bertabrakan dengan aktifitas pribadi.  Karena dalam Islam kita mengenal istilah aulawiyat, yakni mana yang harus lebih dahulu kita lakukan atau prioritas diri. Kesalahan yang sering kita lakukan adalah terbiasa dengan pola rutinitas yang secara otomatis berjalan begitu saja. Ada juga yang mencoba mengatur diri, sayangnya hanya manajemen yang selalu dipikirkan tetapi tidak direncanakan.

Misal posisi kita sebagai mahasiswa, kita pasti dihadapkan dengan tumpukan tugas, seperti membuat makalah, jurnal, PPT, atau tugas kelompok. Dalam waktu bersamaan kita mendapat amanah dakwah seperti kontak personal, menyebar undangan acara, menyebar buletin, kajian rutin atau bahkan diminta untuk menjadi pembicara dalam forum yang sederhana. Keduanya merupakan kewajiban, Kuliah menjadi wajib karena amanah dari ortu, dan menuntut ilmu juga wajib bagi seorang muslim. Sedangkan saat ini dakwah kepada Islam adalah kewajiban atas tiap individu juga.

Jika kita hanya fokus pada kuliah, kecenderungan kuliah akan berhasil dan lulus tepat waktu bisa jadi sangat besar. Orangtua merasa bahagia melihat kita lulus tepat waktu dan sudah siap turun ke dunia kerja. Namun, jika semua mahasiswa seperti ini, apa yang akan terjadi? Tentu saja mahasiswa hanya sukses dalam masalah akademis tetapi umat Islam akan terus terpuruk karena kemaksiatan terus berjalan secara terorganisir sedangkan orang yang mencegah kemungkaran tidak ada. Begitu juga sebaliknya jika kita hanya fokus dakwah, sementara diri kia tidak pernah menambah ilmu pengetahuan sesuai dengan jurusan yang telah dipilih, maka jadilah kita pemuda yang miskin ilmu. Jangan-jangan Barat sudah bisa menciptakan teknologi pembunuh massal yang canggih tetapi kita masih menggunakan bambu runcing.

Untuk menyeimbangkan dua kewajiban tersebut, yakni kuliah dan dakwah tentu ada pola tersendiri. Tidak asal mengalir seperti air. Ingatlah! Air yang mengalir tidak semuanya berakhir di lautan, ada juga yang berakhir di comberan. Akan lebih tragis lagi jika hidup kita tidak mempunyai visi dan misi yang jelas. Hidup tak tentu arah, merana dan kebingungan setiap saat.

Mau jadi apa kita kedepan dan bagaimana sukses dakwah kedepan harus ditentukan dari sekarang. Karenanya mari kita berbicara tentang planning (perencanaan), bila perlu tuliskan rencana kita di white board setiap hari, target apa yang ingin diraih dan sekalian atur waktu, tentu jangan sampai tabrakan dengan aktifitas yang lain. Setelah itu, perencanaan ini harus dijalankan secara istiqomah.

Selanjutnya kita perlu berbicara tentang organizing (pengorganisasian). Kita mau sukses kuliah tapi tidak mempunyai teman, kalau ada masalah kuliah diselesaikan sendiri. Sadarilah hal seperti ini akan terasa lebih sulit dibanding jika kita mempunyai banyak teman dan setiap kali ada kesulitan selalu didiskusikan. Begitu pun dalam dakwah, kita mau mencegah kemaksiatan tapi dilakukan hanya sendirian. Tentu, ini akan terasa lebih sulit dibanding jika kita tergabung dengan sebuah jamaah dakwah dan sama-sama berjuang. Karenanya menemukan lingkungan kondusif yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan dakwah dan kuliah adalah suatu keharusan. Bila sudah menemukan, niscaya akan mempermudah pengorganisasian aktifitas dakwah dan kuliah kita. Ingat kebaikan yang tidak terstruktur akan dikalahkan dengan kejahatan yang terstruktur.

Kita juga tidak boleh melupakan tentang actuating  (pengkoordinasian). Coba banyangkan jika kita dalam sebuah jamaah dakwah tetapi tidak ada koordinasi, apa yang terjadi? Bisa saja antar individu yang ada di dalamnya terjadi misscom. Bahkan sebuah acara bisa menjadi berantakan hanya karena tidak ada pengkoordinasian. Bayangkan jika seorang pemimpin tidak cakap dalam menyampaikan informasi, maka personal yang ada dibawahnya bisa saja tidak tahu akan tugas-tugasnya. Dalam masalah koordinasi tentu saja harus benar-benar digodok sampai ‘matang’. Jangan setengah-tengah, ketidakpahaman intruksi dan tanggung jawab akan menyebabkan kegagalan sekalipun itu sebuah planning yang cukup semerlang. Pengkoordinasian merupakan awal langkah menuju action.

Terakhir, pembicaraan kita pun harus sampai kepada controlling (pengawasan). Pengawasan yang dimaksud bukanlah pengawasan otoriter dari pimpinan kepada bawahan. Dalam sebuah organisasi atau jamaah dakwah, pengawasan yang saya maksud bisa dengan persahabatan yang hangat. Pemimpin tidak ada salahnya turun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa tujuan berjalan sesuai dengan rencana. Dan sebagai personal yang ada dibawahnya hendaknya melaksanakan tanggung jawab yang sudah menjadi amanahnya.

Sebagai seorang muslim, kewajiban dan tanggung jawab seharusnya tidak melemahkan kita. Justru, seharusnya menjadi kekuatan bagi kita bagaimana agar keduanya bisa dilaksanakan dengan maksimal. Jangan sampai menjadi alasan, seakan-akan tanggung jawab itu begitu berat dan tidak bisa memikulnya lagi.

Karena yang saya perhatikan, saat ini banyak sekali aktifis dakwah yang tadinya aktif sekali dalam dakwah tiba-tiba melemah dan hilang entah kemana ketika dibenturkan dengan aktifitas wajib yang lain. Mahasiswa merasa sibuk dengan tugas, orang yang sudah berumahtangga sibuk mencari nafkah untuk anak dan istrinya, dan yang lainnya pun merasa sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Tentu hal ini sangat tidak dinginkan. Karenanya, sebagai seorang aktifitas dakwah, kita harus mempunyai manajemen yang bagus, stategi yang menarik dan bisa ditempatkan dalam semua kondisi. Agar dakwah ini bisa tersebar luas dan hidup kita pun berjalan penuh kebahagiaan tanpa merasa dibebani oleh kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Yang perlu diperhatikan dari Pujian

Diriwayatkan : Disamping Rasulullah SAW ada orang yang memuji-muji temannya. Lalu, Rasulullah mengingatkannya, ”Celaka kamu! ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *