BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Tsaqofah / Alquran dan Hadits / Makna Timur dan Barat  pada QS. Al-Baqarah: 177

Makna Timur dan Barat  pada QS. Al-Baqarah: 177

Allah Swt., berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 177)

Ibnu Katsir menjelaskan[1]:

Ayat yang mulia ini mengandung kalimat-kalimat yang agung, kaidah-kaidah yang luas, dan akidah yang lurus…. dari Abu Dzar r.a., telah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., tentang iman, “Apakah yang dinamakan iman itu?” Maka Rasulullah Saw. membacakan kepadanya firman Allah Swt., (QS. 2:177) hingga akhir ayat.

………

Pembahasan mengenai tafsir ayat ini ialah: Sesungguhnya Allah Swt., setelah memerintahkan kepada orang-orang mukmin pada mulanya untuk menghadap ke arah Baitul Maqdis, lalu Allah memalingkan mereka ke arah Ka’bah, maka hal tersebut terasa berat oleh segolongan orang-orang dari kalangan Ahli Kitab dan sebagian kaum muslim. Maka Allah Swt., menurunkan penjelasan hikmah yang terkandung di dalam hal tersebut. Yang intinya berisikan bahwa tujuan utama dari hal tersebut tiada lain adalah taat kepada Allah dan mengerjakan perintah-perintah-Nya dengan patuh, serta menghadap ke arah mana yang dikehendaki-Nya dan mengikuti apa yang telah disyari’atkan-Nya.

Demikianlah makna kebajikan, takwa, dan iman yang sempurna; dan kebajikan serta ketaatan itu tidak ada kaitannya  sama sekali dengan kepatuhan menghadap ke arah timur atau barat, jika bukan karena perintah Allah dan syari’at-nya. Karena itulah maka Allah Swt., berfirman (QS. 2:177) hingga akhir ayat.

Seperti yang disebutkakn oleh Allah Swt., dalam masalah kurban dan menyembelih “hadyu”, yaitu firman-Nya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang dapat mencapainya. (TQS. Al-Hajj [22]:37)

 Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa kebajikan itu bukanlah kalian melakukan shalat tetapi tidak beramal….

Abul Aliyah mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menghadap ke arahbarat, dan orang-orang Nasrani menghadap ke arah timur. Maka Allah Swt., menurunkan firman-Nya (QS. 2:17).

………

Mujahid mengatakan, “Kebajikan yang sesungguhnya ialah ketaatan kepada Allah Swt., yang telah meresap ke dalam hati.”

………

 “Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Maksudnya, mereka yang memiliki sifat-sifat ini adalah orang-orang yang benar imannya, karena mereka merealisasikan iman hati dengan ucapan dan amal perbuatan; maka mereka itulah orang-orang yang benar. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa, karena mereka memelihara dirinya dari hal-hal yang diharamkan dan mengerjakan semua amal ketaatan.

Itulah pemahaman ayat QS. Al-Baqarah [2]: 177[2] yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahumullah. Ayat ini tentu tidak dapat menjadi landasan bagi pendapat sebagian orang yang menolak syariah islam dikarenakan konteks yang dibangunnya itu sendiri menegaskan tentang penegakan syariah dalam melaksanakan ketaatan.

Wallahu ‘alam bishowab.

===

[1] Al-Imam Abul Fida Isa’il Ibnu Katsir Ad-Dimsyiqi, Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, hlm. 113-125.

[2] Pemahaman terhadap ayat ini akan lebih baik apabila kita membaca dan mengkaji QS. Al-baqarah [2]: 142-152, berkaitan dengan pemindahan arah kiblat (dari Baitul Maqdis ke arah Masjidil Haram).

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Hadits Tentang Niat Dan Kedudukannya

Hadits tentang niat ini merupakan hadits pertama dalam Shahih Bukhari, sekaligus hadits pertama dalam kitab ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *