BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Tsaqofah / Alquran dan Hadits / Makna Iman Kaum-Kaum yang Disebutkan pada QS. Al-Baqarah: 62

Makna Iman Kaum-Kaum yang Disebutkan pada QS. Al-Baqarah: 62

Allah Swt., berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 62)

Adapun dengan kandungan ayat ini, sangat mungkin memunculkan pertanyaan, “Apakah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, dapat masuk syurga Allah apabila mereka memenuhi apa yang disyaratkan Allah Swt., sebagaimana tercantum di dalam ayat di atas?”. Untuk menjawab pertanyaan ini penulis melampirkan pendapat Ibnu Katsir rahimahumullah.

Ibnu Katsir berpendapat[1]:

Setelah Allah Swt., menyebutkan keadaan orang-orang yang menentang perintah-perintah-Nya, melanggar larangan-larangan-Nya, berlaku kelewat batas melebihi dari apa yang diizinkan, serta berani melakukan perkara-perkara yang diharamkan dan akibat azab yang menimpa mereka, maka Allah mengingatkan melalui ayat ini, bahwa barang siapa yang berbuat baik dari kalangan umat-umat terdahulu dan ta’at baginya pahala yang baik.

Kemudian beliau menjelaskan

Demikianlah kaidah tetapnya sampai hari kiamat nanti, yakni setiap orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ‘ummi’, maka baginya kebahagiaan yang abadi. Tiada ketakutan bagi mereka dalam menghadapi masa mendatang, tidak pula mereka bersedih hati atas apa yang telah mereka lewatkan dan tinggalkan.

Dari penuturan di atas kita dapat menarik pemahaman bahwa sebenarnya penyebutan “orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin” bukanlah jastifikasi bahwa umat-umat tersebut akan dimasukan ke dalam syurga (tanpa syarat). Perkataan Ibnu katsir selanjutnya menerangkan bahwa “kaidah tetap”-nya adalah orang yang mengikuti Rasul, yaitu Nabi yang Ummi yang tiada lain melainkan Rasulullah Muhammad Saw. Dengan demikian “orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin” yang akan selamat adalah mereka yang menjadi seorang muslim, membenarkan risalah islam sebagai bentuk kepatuhan dan penerimaan mereka kepada risalah para nabi yang mereka ikuti. Dengan kalimat lain membenarkan rasulullah saw., sebagai penyempurna risalah nabi-nabi sebelumnya.

Oleh karena itu Ibnu Katsir pun meriwayatkan kisah Salman r.a., “… dari Mujahid yang mengatakan bahwa Salman r.a., pernah menceritakan hadis berikut:

Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw., tentang pemeluk agama yang dahulunya aku salah satu dari mereka, maka aku menceritakan kepada beliau tentang cara shalat dan ibadah mereka. Lalu turunlah firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian,” hingga akhir ayat.[2]

Berkaitan dengan sebab turunnya ayat ini

A­s-Saddi mengatakan bahwa firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 62) diturunkan berkenaan teman-teman Salman Al-Farisi. Ketika ia sedang berbincang-bincang dengan Nabi Saw., lalu ia menyebutkan perihal teman-teman yang seagamanya di masa lalu, ia (red. Salman) menceritakan kepada Nabi berita tentang mereka. Untuk itu ia mengatakan, “Mereka shalat, puasa, dan beriman kepadamu serta bersaksi bahwa kelak engkau akan diutus sebagai seorang nabi.”

Setelah Salman selesai bicaranya yang mengandung pujian kepada mereka, maka Nabi Saw., bersabda kepadanya, “Hai Salman, mereka termasuk ahli neraka.” Maka hal ini terasa amat berat bagi Salman. Lalu Allah menurunkan ayat ini.[3]

Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan apa yang dimaksud dengan “Yahudi, Nasrani dan Shabiin” dalam ayat ini. Beliau menulis:

Iman orang-orang Yahudi itu ialah barang siapa yang berpegang kepada kitab Taurat dan sunnah Nabi Musa a.s., maka imannya diteima hingga Nabi Isa a.s. telah datang, sedangkan orang yang tadinya berpegang kepada kitab Taurat dan sunnah Nabi Musa a.s. tidak meninggalkannya dan tidak mau mengikut kepada syariat Nabi Isa, maka ia termasuk orang yang binasa.

Iman orang-orang Nasrani ialah barang siapa yang berpegang teguh kepada kitab Injil dari kalangan mereka dan syariat-syariat Nabi Isa, maka dia termasuk orang yang mukmin lagi diterima imannya hingga Nabi Muhammad Saw. datang. Barang siapa dari kalangan mereka yang tidak mau mengikuti kedapa nabi Muhammad Saw. Dan tidak mau meninggalkan sunnah Nabi Isa serta ajaran Injilnya sesudah nabi Muhammad Saw. datang, maka dia termasuk orang yang binasa.[4]

………

Berkaitan dengan Shabiin, Ibnu Katisr menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang mereka. Pendapat-pendapat tersebut antara lain; “…adalah suatu kaum antara Majusi, Yahudi,,  dan Nasrani namun hakikatnya mereka tidak memiliki agama” (Sufyan As-Sauri, Ibnu Abu Nujaih), “… sekte dari kalangan ahli kitab, mereka mengakui kitab Zabur” (Abul Aliyah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, Abusy Sya’sa, Ad-Dahhak, Ishaq ibnu Rahawaih), dan ulama lainya menyatakan bahwa mereka menyembah malaikat, bagian dari kaum majusi, dan pendapat-pendapat lainnya. Namun dari beragam pendapat itu  semua ulama sepakat bahwa Shabi’in bukanlah muslim, meski mereka melakukan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain sebagaimana kaum muslim.

Oleh karena itu, untuk memahami ayat ini, kita harus mengacu pada firman Allah Swt:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS. Ali Imran [3]: 85)

Ibnu  Abbas r.a. mengatakan bahwa ayat ini diturunkan setelah QS. Al-Baqarah [2]: 62. Sesungguhnya ini merupakan suatu pemberitahuan bahwa tidak akan diterima dari seseorang suatu cara dan tidak pula suatu amal pun, kecuali apa yang bersesuaian dngan syariaat Nabi Muhammad saw. Sesudah beliau diutus membawa risalah yang diembannya. Adapun sebelum itu, setiap orang yang mengikuti rasul di zamannya, dia berada dalam jalan petunjuk dan jalan keselamatan[5].

Wallahu’alam bi shawab.

[1] Al-Imam Abul Fida Isa’il Ibnu Katsir Ad-Dimsyiqi, Tafsir Ibnu Katsir Juz 1, hlm. 544.

[2] Ibid, hlm. 545.

[3] Ibid, hlm. 546.

[4] Ibid.

[5] Ibid, hlm. 547.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Hadits Tentang Niat Dan Kedudukannya

Hadits tentang niat ini merupakan hadits pertama dalam Shahih Bukhari, sekaligus hadits pertama dalam kitab ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *