BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / LGBT : Ide Kapitalisme, Perusak Tatanan Kehidupan

LGBT : Ide Kapitalisme, Perusak Tatanan Kehidupan

lgbt-flag-5596d95ce3afbd6f14c6cf87

Oleh Tia Miftahul Khoiriyah | Ketua Divisi Annisaa Kalam UPI, Mahasiswa Departemen Fisika Universitas Pendidikan Indonesia

Lagi-lagi dunia diramaikan oleh LGBT yang merupakan akronim dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Fenomena ini berkaitan dengan gender, (1) Lesbian : istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan, (2) Gay: istilah bagi laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki , (3) Bisexual: ketertarikan romantis atau seksual pada semua jenis identitas gender atau pada seseorang tanpa mempedulikan jenis kelamin atau gender biologis orang tersebut dengan kata lain ketertarikannya bisa pada wanita maupun laki-laki, (4) Transgender : ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap jenis kelaminnya yang ditentukan.

Tepatnya pada tanggal 26 Juni 2015, pasangan dan pendukung LGBT mengalami momentum besar, hari tersebut menjadi sejarah bagi mereka karena diresmikannya keinginan mereka oleh Mahkamah Konstitusi Amerika Serikat untuk bisa menikah secara legal dan diakui negara. Peristiwa yang diresmikan di 50 negara bagian Amerika Serikat ini disambut meriah oleh pasangan LGBT maupun pendukung LGBT didepan Gedung Putih Amerika. Media sosial Facebook pun tidak ketinggalan ikut memeriahkannya dengan menyedia fitur pendukung LGBT melalui facebook.com/celebratepride yang akan mengengganti foto profil kita menjadi berlatarkan pelangi. Begitupun dengan Obama sebagai Presiden Amerika Serikat dengan terang ia mendukung LGBT , ia mengatakan dalam pidatonya “Sekarang adalah tugas generasi kita untuk melanjutkan apa yang telah dimulai para pendahulu. Perjalanan kita tidak akan lengkap hingga istri kita ,  ibu  kita ,  dan anak  perempuan  bisa  mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan usaha mereka. Perjalanan kita belum selesai sampai saudara dan saudari kita yang gay, diperlakukan seperti sama di depan hukum – karena jika kita benar-benar diciptakan sama, maka tentulah komitmen cinta kita satu sama lain juga sama”, (timeofgod.net, 29 Juni 2015). Bukan hanya di Amerika saja LGBT ini sudah dilegalkan tetapi di 17 negara termasuk di Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, dan Swedia pun ternyata lebih dahulu meresmikan konstitusi pernikahan LGBT ini.

Suara Amerika untuk LGBT

      Amerika sebagai Negara adidaya, pengemban Ideologi Kapitalisme mempunyai suara khusus dimata dunia. Hal ini lah yang membuat pemberitaan LGBT ini bagai ombak yang dihembuskan angin besar sehingga sangat cepat tersebar. Untuk negera berkembang yang tidak memiliki identitas atau ideology yang jelas seperti Indonesia maka hal ini menjadi rangsangan bagi kaum LGBT untuk diberlakukannya hal yang sama di Indonesia. Hal ini pula yang menjadikan perkembangan upaya penegakan hak-hak LGBT pun semakin gencar dilakukan, terlihat dari meningkatnya organisasi penegak hak-hak LGBT, melalui penyuluhun kesehatan, kajian tentang seksualitas dan LGBT dalam forum ilmiah, hingga menggandeng Musdah Mulia (tokoh Jaringan Islam Liberal) untuk melakukan reinterpretasi terhadap ayat-ayat Al Qur’an hingga berpendapat perkawinan antar pasangan lesbian maupun gay halal untuk dilakukan dengan anggapan orientasi seksual LGBT adalah terberi sehingga harus diperlakukan sama dengan manusia, dengan orientasi seksual yang lain berarti tidak mencakup LGBT yang merupakan pilihan individu dan bukan karena faktor biologis (http://www.icrp-online.org/wmview.php). Inilah faktanya LGBT saat ini semakin merajalela.

LGBT Tidak Sesuai Fitrah Manusia

            Sebagai seorang muslim, Islam telah mengatur secara keseluruhan perbuatan manusia yang hanya berlandaskan pada Al-Quran dan Assunah. Suara Amerika terhadap LGBT tersebut menjauhkan hakikat manusia sebenarnya yang diciptakan oleh Allah SWT dari fitrahnya. Manusia diciptakan dengan membawa potensi hidup, salah satu potensinya yaitu naluri mempertahankan jenis atau Gharizah Na’u. Naluri ini juga lah yang memunculkan rasa kasih sayang dan rasa cinta diantara manusia, seperti halnya seorang ibu yang mempertahankan anaknya dengan menjaga anaknya, kemudian seorang kakak yang menjaga adiknya dengan penuh kasih sayang agar adiknya tidak tersakiti. Begitupun dengan kasih sayang diantara pria dan wanita yang disatukan dalam ikatan pernikahan pun bermaksud untuk mempertahankan jenisnya dengan melahirkan keturunannya sehingga adanya regenerasi dari keturunannya. Hal itulah yang sesuai dengan fitrah manusia. Sedangkan LGBT ini merupakan hubungan antar sesama jenis yang menyalahi fitrah manusia karena tidak dapat memenuhi potensi hidupnya, Gharizah Na’u nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (TQS. An-Nisa’: 1)

Hal ini pun didukung dengan fakta bahwa LGBT bukan merupakan bawaan sejak lahir atau bukan berasal dari faktor genetis (biologis). Seorang pakar psikologi klinis dan pengajar di International Islamic University Malaysia, Prof. Dr. Malik Badri mengatakan bahwa “Tidak benar bila homo dan lesbi adalah bawaan sejak lahir. Tidak mungkin seperti itu. Bila penyebab LGBT adalah faktor genetis, maka kita telah memvonis Tuhan tidak adil. Para psikolog barat mengklaim, LGBT terjadi lantaran hormon estrogen lebih banyak dibandingkan dengan endrogen. Faktanya pun manusia yang punya hormon estrogen lebih banyak tidak menderita homoseksual,” papar pria lulusan Universitas Leicester, Inggris, tahun 1961 ini di Gedung Program Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibn. Khaldun, Bogor, (psikologizone.com,29/05). Begitupun dengan Dean Hamer, seorang gay, meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Dia mengklaim bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual. Namun setelah 6 tahun diteliti, gen pembawa sifat homoseksual itu tak juga ketemu. Sehingga ia pun mengakui bahwa risetnya itu tak mendukung bahwa gen adalah faktor penentu homoseksualitas. Dan pada tahun 1999 Prof George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih besar, hasil penelitiannya terbaru tak mendukung adanya kaitan gen X yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria. Jelaslah ucapan Musdah Mulia diatas, bahwa LGBT merupakan terberi adalah hal yang salah. Nyatanya, ini bisa terjadi karena ada faktor eksternal sehingga mampu dikendalikan asalkan ada tekad dan keinginan yang kuat dari dalam dirinya.

LGBT ada atasnama Demokrasi dan HAM

      Sistem pemerintahan Demokrasi yang berasal dari Ideologi Kapitalisme telah membiarkan LGBT tumbuh bahkan disahkan. Empat asas kebebasan yang dibawa demokrasi yaitu kebebasan beragama, kebebasan berkepemilikan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan bertingkah laku membuat LGBT ini ada bahkan disahkan. Dengan dalih kebebasan bertingkah laku itulah menjadikan manusia bebas melakukan apapun sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Selain demokrasi yang membiarkan LGBT ini berkembang adalah HAM, atas nama Hak Asasi Manusia mereka akan berdalih bahwa ini adalah hak mereka sebagai manusia yang tidak mengganggu orang lain. Kapitalisme memiliki standar pada manfaat bukan pada benar atau salah, sehingga pemikiran ”selagi bermanfaat untuk seseorang” walaupun hal itu mampu merusak tatanan kehidupan dan bertentangan dengan agama maka itu akan dianggap benar dan boleh. Suara manusia merupakan suara agung di mata kapitalisme.

      Atasnama Demokrasi dan HAM maka SOGI (Sexual Orientation and Gender Identity) Project yang merupakan sebuah proyek International yang dilaksanan secara sistematis dalam mendukung hak-hak kelompok LGBT menjadi suatu hal yang boleh ada dalam keadaan sistem Kapitalisme-Demokrasi. SOGI ini pun mengerahkan semua dukungan pada LGBT baik dalam bentuk pendanaan melalui lembaga dunia, seperti World Bank (Dokumen PDF Gender and Sogi Safeguard, Spring Meeting 2014 IMF World Bank).

      Negara Barat, khususnya Eropa dan AS pun mengemban misi membela LGBT dan menyebarkannya ke seluruh dunia. AS mengakui hal itu dalam release kedubes AS “Amerika Serikat Mendukung Perlindungan Hak Kaum Lesbian, Gay, Transeksual, dan Biseksual”, (http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/news/embnews_15052012.html). Tak ketinggalan Menlu AS Hillary Clinton pun memberikan dukungan yang serupa untuk kaum LGBT dalam sambutan Hari HAM Sedunia di Jenewa pada Desember 2011. Sejak Juni 2010, ia telah mendeklarasikan, “Hak kaum Gay adalah HAM dan HAM adalah hak kaum Gay, sekarang dan untuk selamanya”. Sejak Januari 2009, Menlu Clinton telah mengarahkan Deplu AS untuk mendukung penuh diciptakannya sebuah agenda HAM yang komprehensif, agenda yang meliputi perlindungan terhadap kaum LGBT. Deplu AS menggunakan berbagai perangkat diplomatik dan fasilitas-fasilitas bantuan pembangunan untuk mendorong dihapuskannya kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum LGBT di seluruh dunia. Begitupun dengan Kedubes AS di Jakarta telah berusaha untuk mengintegrasikan hak-hak kaum LGBT ke dalam usaha-usaha untuk mendukung HAM di Indonesia.

      Ide-ide kapitalisme ini akan senantiasa dijejalkan oleh orang-orang kafir kepada umat muslim, mereka tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menjauhkan umat muslim dari agamanya. Sungguh sebuah kemenangan besar bagi para kapitalis jika umat muslim jauh dari agamanya dan sebuah kesengsaraan serta kehinaan bagi kaum muslim yang jika tidak menerapkan Islam sebagai sebuah Ideologi negara. Jelaslah LGBT ini menjauhkan agama Islam dari kehidupan kaum muslim, karena Islam sebuah agama yang sempurna melalui sistem pemerintahnya Khilafah Islamiyyah dengan tegas mengutuk pelaku LGBT, beserta ide pembawanya yaitu Kapitalisme, Demokrasi, dan HAM yang harus segera dihapuskan dari pemikiran kaum Muslim.

Di Balik Gagasan LGBT

            Adanya LGBT bukanlah sesuatu yang hadir tanpa alasan, tetapi ia hadir dengan membawa ide-ide liberalisme (read: kebebasan) atas nama demokrasi dan HAM. LGBT yang disahkan dibeberapa negara diawali oleh Declaration of Human Right (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) yang disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1946 yang bertujuan menjunjung tinggi martabat umat manusia dan menghargai setiap insan tanpa memandang suku, ras ataupun golongan. Lalu disambut oleh gerakan yang prihatin terhadap nasib kaum LGBT dimana mereka tidak mendapatkan tempat dalam masyarakat. Kemudian disambut oleh dukungan partai politik dalam suatu pemerintah dan negara yang menginterpretasikan bahwa kaum LGBT merupakan manusia yang harus mendapatkan haknya sebagai seorang manusia seperti lainnya. Maka munculah secara bertahap Negara-negara yang berusaha membela hak kaum LGBT. Diawali oleh Belanda yang mengesahkan pernikahan sejenis pada bulan April 2001 hingga pada 18 Mei 2013 oleh Negara Perancis, terdapat 17 negara yang mengesahkan dan mengakui pernikahan sejenis.

Indonesia sebagai negara yang terikat dalam sebuah wadah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maka akan terkait dengan Hukum Internasional. Hukum Internasional dapat lahir dari kesepakatan antara Negara dan sebaliknya terciptanya hukum dalam negara dapat dipengaruhi oleh kebijakan internasional dan tekanan internasional. Kekuatan hukum nasional dan internasional saling memengaruhi untuk dapat pengakuan. Tekanan yang dilakukan oleh ketentuan internasional dan masyarakat internasional terhadap peraturan nasional suatu negara semakin terasa. Terutama ketika suatu konvensi telah diratifikasi oleh lebih dari separuh anggota PBB maka secara moral Negara yang belum meratifikasi akan merasakan diskriminasi dikarenakan ketidakikutsertaan dalam konvensi tersebut. Terlihatlah dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh kaum LGBT beserta desakan Internasional, maka dimasa mendatang Indonesia akan menjadi negara terdesak karena tidak bisa dipungkiri bahwa desakan dari Komisi Hak Asasi Internasional dan LSM tersebut dipengaruhi oleh semakin banyaknya anggota PBB yang meratifikasi LGBT. Terlebih dari segi keuangan, dana yang telah diberikan oleh donator internasional kepada para LSM Indonesia memberikan suatu hutang jasa untuk mengangkat isu yang menjadi kepentingan pihak luar. Maka bukan suatu hal yang mustahil jika LGBT ini akan disahkan dimasa mendatang.

Kepentingan Asing terhadap pengesahan LGBT ini adalah untuk merubah pola pikir masyarakat. Tepatnya penanaman perubahan cara berpikir masyarakat untuk semakin liberal dan meninggalkan ketentuan agama. Pola pikir liberal akan mengutamakan apa yang dianggapnya hak asasi di atas norma-norma agama. Jika masyarakat sudah terbiasa dibenturkan dengan ide liberalisme, sedikit demi sedikit akan mengalami perubahan maka sekalipun ia tidak menjadi pelaku LGBT, ia akan dengan sukarela mendukung dan membiarkan LGBT ini berkeliaran. Seperti hal nya di Amerika yang awalnya masyarakat menolak LGBT, rupanya bukan hal yang tidak mungkin hari ini mereka mendukung. Maka ini pula yang akan terjadi pada generasi Indonesia bahkan ini pun akan berpengaruh pada aktivitas yang lainnya yang berujung pada kebebasan dalam seluruh aspek. Kebebasan seluruh aspek ini akan mencakup hal pokok seperti cara berpakaian, gaya hidup, konsumsi makanan yang berujung pada penaikan daya konsumsi dan persaingan dalam dunia kapital.

LGBT dalam Pandangan Islam

            Sebagai agama yang sempurna Islam telah mengatur setiap aktivitas manusia termasuk LGBT pun diatur dalam Islam. Ya, Kasus LGBT ini sama halnya dengan kasus kaum Luth yang dilaknat oleh Allah SWT, ditimpakanlah azab kepada mereka dengan menjungkir-balikkan kampung halamannya, menenggelamkannya kedalam bumi, lalu menghujaninya dengan batu-batu dari langit dan menghapuskan penglihatan mereka, itu semua menunjukkan kemurkaan-Nya kepada para pelaku perbuatan menyimpang ini.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”” (TQS al-A’raf [7]: 80)

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,”.(TQS. Asy-Syu’araa [26]: 165).

“Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.(TQS. Asy-Syu’araa [26]: 166).

“Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya).” (TQS.Al-Qamar [54]:33) “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing.” (TQS.Al-Qamar [54]:34)

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu”.(TQS. Asy-Syu’araa [26]: 173).

”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Hud [11]: 82-83)

Solusi Islam bagi Pelaku LGBT

            LGBT merupakan seksualitas yang berkaitan dengan Gharizah Na’u, Gharizah (naluri) berbeda dengan Hajatul’Udhawiyah (kebutuhan fisik). Hajatul’udhawiyah akan selalu meminta pemenuhan apabila tidak dipenuhi maka besar kemungkinan akan terjadi kematian, sedangkan Gharizah Na’u apabila tidak terpenuhi maka hanya akan timbul kegelisahan, sehingga gharizah ini harus bisa kita atur, apalagi Gharizah ini bertentangan dengan fitrah manusia. Maka Islam memberikan solusi sebagai berikut :

1) Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, sementara perempuan memiliki kepribadian feminin.

Nabi saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki (HR al-Bukhari).

Berbagai stimulus dari lingkungan dan pola asuh orang tua pun harus mendukung terbentuknya sosok laki-laki dan perempuan sejati.

Anak-anak pun harus dipisahkan tempat tidur mereka. Rasul bersabda “Suruhlah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah mereka pada usia 10 tahun dan pisahkan mereka di tempat tidur” (HR Abu Dawud)

Dalam pergaulan dengan lawan jenis dan sesama jenis pun diatur, berdasarkan sabda Rasul “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki. Jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut. Jangan pula perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut. (HR Muslim).

Sebagai langkah praktis, negara harus menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi dalam segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku LGBT atau mendekati ke arah itu juga.

2) Penerapan sanksi yang tegas. Hubungan sesama jenis, liwath merupakan dosa besar yang lebih besar dosanya dibandingkan dengan pezina. Keberadaan persanksian Islam yang bersifat pencegah dan penembus dosa maka hukumannya pada pelaku liwath adalah dibunuh dalam keadaan bagaimana pun. Jika seseorang yang sudah baligh melakukan liwath dengan orang baligh lainnya karena sama-sama punya keinginan melakukannya, maka kedua pasangan tersebut harus dibunuh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sodomi) bagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut. (HR. Abu Daud no. 4462, At Tirmidzi no. 1456 dan Ibnu Majah no. 2561, hadits Ibnu ‘Abbas ra). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah sepakat (berijma’) bahwa pelaku liwath harus dibunuh. Jatuhnya sanksi pembunuhan kepada pelaku liwath ini akan terjadi ketika kelamin seorang lelaki dimasukkan ke dubur lelaki lainnya. Apabila tidak terjadi demikian maka tidak bisa diterapkan hukum bunuh terhadap mereka, akan tetapi diberikan teguran keras dan diwajibkan atas mereka untuk bertaubat dengan taubat nashuha serta kembali kepada Allah SWT, berpegang pada syariat-Nya dengan melakukan amalan

Solusi Islam terhadap pelaku LGBT merupakan sebuah penerapan hukum syara yang hanya bisa kita laksanakan dalam naungan negara Khilafah Islamiyyah.

Khatimah

            Wahai Kaum Muslim, LGBT merupakan ide kapitalisme, perusak tatanan kehidupan yang memotong regenerasi kaum, perilaku menjijikan yang dilaknat Allah. Maka sudah saatnya kita bangkit untuk melenyapkan akar LGBT ini yaitu ide Kapitalisme. Kita ubah tatanan dunia saat ini menjadi tatanan dunia yang tentram, serta berjalan sesuai dengan fitrah manusia hanya dengan menerapkan kembali Islam secara keseluruhan dalam sebuah naungan Khilafah Islamiyyah.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *