BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Kuliah Sukses, Dakwah Yes (1)

Kuliah Sukses, Dakwah Yes (1)

KULIAH SUKSES, DAKWAH YES!!

Oleh: Riki Nasrullah (Ketua LDK DKM Unpad)

Hari-hari ini saya sering ditanya oleh siswa-siswa SMA dan sederajat yang sedang mengalami masa-masa galau. Soalnya mereka sebentar lagi meninggalkan masa abu-abunya menuju masa ‘Ngampus’. Kebanyakan dari problem mereka adalah bingungnya memilih jurusan untuk kuliah. Pasalnya yang mereka tanyakan adalah, “kalau saya kuliah di jurusan ini, nanti saya mau jadi apa ya?”. “Terus, nanti kalau saya kuliah di jurusan ini, nyari kerjanya mudah gak ya?”. Pertanyan-pertanyaan itulah yang banyak mereka lontarkan. Tidak mengherankan memang, pasalnya dewasa ini orientasi kebanyakan orang sudah berubah derastis. Kuliah yang dulu dijadikan ajang untuk belajar, kini sudah berubah menjadi ajang untuk mempersiapkan kerja. Sehingga tidak heran ketika mereka selesai kuliah, yang mereka hawatirkan adalah masalah kerja dan karier.

Ternyata, kegalauan itu bukan hanya menimpa ABG labil di ujung tanduk masa SMA. Kebanyakan mahasiswa pun mengalami hal serupa. Bahkan lebih kronis lagi. Kegalauannya sudah masuk tingkat akut. Bagaimana tidak, mereka sering merasa hawatir dengan masa depannya. Pertanyaan-pertanyaan awam pun massif terlontar. “Wah, nanti kalau saya sudah lulus kuliah, mau ngapain ya?”. “nanti, kalau saya sudah lulus mau kerja apa ya?”. Dll.

Sekali lagi saya tekankan, dewasa ini orientasi sudah berubah derastis. Semuanya diakibatkan oleh persepsi yang keliru tentang makna “Sukses”. kebanyakan orang memandang bahwa seseorang layak dikatakan sukses ketika punya uang melimpah, kendaraan ‘wah’, rumah mewah, dapet istri cantik atau suami ganteng, dll. Sehingga persepsi yang diabangun ketika mulai kuliah adalah, mau kerja apa nanti setelah lulus, menghasilkan uangkah kalau kuliah di jurusan ini, dan banyak lagi.

perbedaan-orang-sukses-131027c

Makna Sukses Hakiki

Sebetulnya, sukses itu apa?. Apakah sukses itu ketika kondisi kita sesuai dengan apa yang disebutkan di atas?. Memang, kebanyakan orang berpandangan demikian. Namun, apakah benar makna sukses itu ketika kita punya uang melimpah, rumah mewah, dan kendaraan ‘wah’?. Tentu bukan hanya sekedar itu.

Bagi saya, kesuksesan adalah suatu perjalanan yang menciptakan nilia tambah untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar dalam rangka menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Kemudian, sukses di kampus berarti selama kita ‘Ngampus’, kita dapat menciptakan nilai tambah untuk diri sendiri dan lingkungan kampus dalam rangka kehidupan bahagia di akhirat kelak.

Kita mesti menyamakan persepsi dulu tentang makna sukses dan bahagia. Karena kesuksesan dan kebahagiaan kadangkala dipandang berbeda oleh setiap orangnya. Kita sering menemukan fakta bahwa menurut salah seorang, banyaknya uang itu akan membuat kita bahagia. Namun ternyata tak selamanya seperti itu, ada juga yang merasakan bahwa banyak uang dan kekayaan itu membuatnya senantiasa gundah gulana dan tidak menenangkan.

Para filsuf dan psikolog telah menguraikan panjang lebar bahwa perasaan menderita dan bahagia berasal dari ranah pikiran manusia. Ia adalah realitas subjektif, bukan realtas objektif. Anda bisa merasa bersedih karena sudah bekerja belasan tahun menjadi pegawai negeri tapi tak kunjung mampu memiliki mobil mewah dan rumah ‘wah’, tetapi ada orang yang menderita karena memiliki mobil mewah. Pasalnya, ia harus membayar pajaknya, BBM-nya, uang parkir, biaya perawatan, dan dicekam kekhawatiran kalau suatu saat terjadi tabrakan dan pencurian.

Ada hal-hal yang sering kita lewatkan dalam hidup yang membuat kita menderita, meski sebenarnya tak pantas membuat kita menderita. Demikian pula terkadang kita melupakan sejumlah hal sehingga kita merasa tidak bisa berbahagia. Untuk itu, menjadi beban moril bagi saya untuk sedikit menjelaskan ulang nasihat mullah kontroversial, Nasruddin Hoja, kepada seseorang yang merasa tidak bahagia karena memiliki rumah yang kecil.

Suatu ketika seorang pria mendatangi Hoja, ia mengeluh bahwa rumahnya terasa sempit bagi dia dan keluarganya. Lantas sang Hoja pun menyuruh kepada pria tersebut “Cobalah Engkau masukkan ayam ke dalam rumahmu, dan datanglah beberapa hari lagi” saran Hoja. Sang pria merasa keheranan. Alih-alih meminta petuah karena ia merasa rumahnya sempit, malah diminta untuk melakukan hal konyol yang membuatnya bingung. Meski kebingungan, sang pria tetap melakukan apa yang disarankan oleh Hoja. Beberapa hari kemudian, sang pria tersebut mendatangi Hoja kembali. “bagaimana keadaan rumah kalian?”, tanya Hoja. Tentu saja pria itu mengeluh bahwa rumahnya semakin sempit dan pengap. “kalau begitu, masukkanlah domba ke dalam rumah kalian, kemudian beberapa hari lagi silakan datang lagi kemari”, pinta Hoja kemudian. Pria itu pulang dan kembali mengikuti saran Hoja, memasukkan domba ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian, ia kembali mendatangi Hoja dan mengeluh kalau ia sudah tidak tahan lagi. Lalu seperti yang sudah Anda ketahui, Hoja kemudian meminta kepada pria itu untuk mengeluarkan ayam dan domba satu demi satu yang ada di dalam rumahnya. Sesaat setelah hewan-hewan itu keluar, barulah pria itu merasakan bahwa rumahnya itu luas. Meski perasaan gembira itu tebilang naïf – karena ukuran rumahnya tidak berubah sedikit pun,  tetapi ia telah memberi pelajaran kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki.

Begitulah, rasa bahagia adalah realitas subjektif yang semua orang mempunyai standarnya masing-masing. Namun, selayaknya bagi seorang muslim, makna kebahagiaan adalah tatkala ia mendapatkan rida Allah di setiap aktivitasnya. Inilah makna kebahagiaan yang hakiki. Lantas, bagaimana mungkin kita akan bahagia, meskipun harta kita banyak, rumah mewah, kendaraan ‘wah’, tetapi Allah tidak rida sama sekalai dengan apa yang kita miliki. Oleh karenanya, mari kita luruskan persepsi kita, bahwa kebahagiaan dan kesuksesan adalah ketika Allah rida dengan apa yang kita lakukan.

Sukses itu adalah suatu perjalanan bukan tujuan. Kesuksesan akan didapatkan seiring dengan usaha yang kita lakukan untuk meraihnya. Ketika kita ingin sukses, maka menjadi kemutlakan bagi kita untuk bekerja keras.

Kesuksesan kuliah, bukan hanya diukur dengan seberapa besar nilai IPK kita, namun kesuksesan itu mesti diukur dengan sejauh mana kita memberikan kontribusi kepada dunia kampus dalam mencapai ketakwaan dan kebahagiaan akhirat. Artinya, kesuksesan dan kebahagiaan bagi seorang muslim bukan hanya kebahagiaan yang sifatnya materi belaka. Itu artinya, kesuksesan bagi mahasiswa adalah ketika ia mampu memupuk ketakwaan bagi dirinya dan menyebarkannya ke seluruh civitas kampus. Ia layak dikatakan sebagai mahasiswa sukses ketika hatinya mampu terpatri pada syariat Illahi dan menyebarkannya kepada masyarakat kampus. Hal itu akan terwujud ketika ia memantapkan dirinya memilih menjadi mahasiswa berporos pada jalan dakwah.

Gaya Hidup Mahasiswa

Kegagalan memahami hakikat hidup bagi mahasiswa akan berakibat pada kegagalan menentukan standar kebahagiaan dan kesuksesan. Sehingga meskipun kehidupannya penuh dengan kesibukkan akademik, namun sejatinya ia bak mayat yang tak bernyawa. Pasalnmya, kehidupannya sudah jauh dari orientasi akhirat dan Illahiyah. Kehidupannya sudah terputus dengan pemahamannya tentang hakikat hidup di dunia. Dan ia sudah tidak memahami kehidupan pasca hidup di dunia, yakni hari akhir dan hisab.

Kegagalan memahami hakikat hidup juga akan berakibat pada kesesatan, kelalaian, keengganan untuk membela agama Allah, dan mengedepankan hawa nafsu di setiap aktivitasnya. Sehingga tidak heran ketika kita masuk dunia kampus, akan kita jumpai dua tipe gaya hidup mahasiswa. Ada yang bertipe Islami, ada juga yang bertipe sekular.

GAYA HIDUP ISLAMI GAYA HIDUP SEKULER
Hidup untuk beribadah Hidup untuk mencari kesenangan jasmani
Landasan iman Landasan hawa nafsu
Tolok ukur perbuatan: aturan Islam (halal dan haram) Tolok ukur perbuatan: manfaat
Orientasi hidup dunia dan akhirat Orientasi hidup dunia semata
Hidup untuk kemuliaan diri, keluarga, umat dan perjuangan agama (dakwah) Hidup untuk kepentingan diri dan keluarga sendiri
Makna kebahagiaan: ridha Allah Makna kebahagiaan: tercapainya kepuasan jasmani

Bertolak dari fakta mahasiswa dewasa ini, kita bisa membagi tipe mahasiswa menjadi tiga bagian, yakni mahasiswa ideologis, mahasiswa pragmatis, dan mahasiswa akademisi.  Mahasiswa akademisi adalah mereka yang mengedepankan orientasi akademik. Nilai IPK menjadi tujuannya. Sehingga, mereka enggan untuk ikut bergabung dengan organisasi-organisasi kampus. Bagi mereka, aktivitas keorganisasian dianggap sebagai penghambat kesuksesan di dunia kampus. Sedangkan mahasiswa pragmatis adalah mahasiswa yang tak punya arah hidup yang jelas. Mereka akan ikut kebanyakan orang meskipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan. Karena banyak orang yang ikut organisasi A, maka ia pun terpaksa ikut organisasi tersebut.

Yang paling melek adalah mahasiswa bertipe ideologis. mahasiswa tipe ini mempunyai orientasi hidup yang jelas. Meskipun demikian, mahasiswa tipe ini pun masih bisa kita bagi lagi, ada mahasiswa yang bertipe Islam ideologis, dan ada juga yang bertipe sosialis ideologis. mahasiswa Islam ideologis adalah mahasiswa yang mengemban ideologi Islam di setiap aktivitasnya. sedangkan mahasiswa sosialis ideologis adalah mereka yang membawa ideology sosialis sebagai arah pergerakannya. Sehingga tidak heran, ketika kita masuk ke dunia kampus, kita akan bertemu dengan orang-orang seperti disebutkan di atas. Kuliah Sukses, Dakwah Yes (2)

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Sosial Media Itu Buatan Kafir, Kenapa Masih Menggunakan?

Di sebagian ummat islam itu, salah kaprah menyikapi sesuatu itu bisa jadi wajar | sebab ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *