BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Keluarga dan Masyarakat / Komponen Bangsa yang Terabaikan

Komponen Bangsa yang Terabaikan

Oleh: Dr. Diding Nurdin., M.Pd (Dosen Administrasi Pendidikan FIP UPI)

Dalam perjalanan sejarah bangsa indonesia, sejak zaman orde baru sampai orde reformasi sekarang pemimpin indonesia selalu dihadapkan pada tantangan sangat mendasar yakni masalah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang dianggap paling sulit dientaskan. Mengapa? Karena tiga faktor tersebut dijadikan acuan dalam mengukur tingkat kesejahteraan suatu bangsa, walaupun faktor lainnya mempengaruhi.

Secara spesifik penulis ingin menyampaikan bahwa ada empat komponen bangsa yang masih terabaikan oleh penguasa sampai sekarang ini, yakni petani, nelayan, guru, dan buruh.6

Petani Indonesia adalah negara agraris yang sangat subur tanahnya. Namun sayang, kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian ini masih belum dapat memberdayakan petani, apalagi menjadikan petani hidupnya lebih baik dan sejahtera. Petani akan merasakan kesulitan sekali pada saat menanam, mengairi sawah atau ladang, membajak sawah, memupuk tanaman, bahkan pada saat panen hasil pertanian harganya rendah. Sementara itu, produk pertanian dari luar negri harganya tinggi dengan kemasan dan kulaitas yang lebih baik. Buah-buahan, sepserti apel USA, jeruk mandarin, durian Bangkok, lengekeng dari Cina, dan produk pertanian dari luar negri lainya menghiasi swalayan atau supermarket di tanah air ini. Padahal, anggaran sektor pertanian dari tahun ke-tahun meningkat signifikan, tahun 2004 sebesar 10,1 triliun, 2005 sebesar 12,6 trliun, 2009 menjadi 49,8 triliun, dan 2013 sebesar 71,9 triliun, teradi peningkatan 611% dalam tempo 9 tahun (Republika, 2 Juni 2014). Dalam catatan Badan Pusat Statistik, periode Januari-Juli 2011, pemerintah telah menggelontorkan anggaran hingga Rp45 triliun untuk mengimpor produk pangan (mentah dan olahan mulai dari beras, kedelai, bahkan singkong). Ironis, tanah kita yang subur dan luas masih terabaikan sehingga pembangunan pertanian di pedesaan selama ini belum bisa mengentaskan kemiskinan.

Nelayan. Indonesia memiliki tidak kurang dari 1.702 pulau sebagian besar adalah lautan yang indah dan sangat kaya akan biota laut belum dikelola secara baik untuk kepentingan bangsa. Kenyataan menunjukkan, nelayan berada dalam garis kemiskinan. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan karena potensi kekayan sumber daya laut yang luasnya mencapai 5,8 juta kilometer atau 2/3 dari daratan, semestinya mampu menigkatkan harkat dan martabat kehidupan nelayan. Yang lebih memprihatinkan sekali adalah para nelayan hidup dalam lingkungan yang kumuh, miskin, dan terbelakang.

Diantara kategori pekerjaan terkait dengan kemiskinan, nelayan sering disebut sebagai masyarakat termiskin dari kelompok masyarakat lainnya (the poorest of the poor). Berdasarkan data the World Bank mengenai kemiskinan bahwa 108,78 juta orang atau 49% dari total penduduk Indonesia dalam kondisi miskin dan rentan menjadi miskin. Badan Pusat Statistik, dengan perhitungan berbeda berbeda dari Bank Dunia, mengumumkan angka kemiskinan di Indonesia 34,96 juta orang (15,42%). Angka tersebut diperoleh berdasarkan ukuran garis kemiskinan ditetapkan sebesar 1,55 dolar AS. Sebagian besar (63,47%) penduduk miskin di Indonesia berada di daerah pesisir dan pedesaan (BPS, 2008).

Masalah kemiskinan nelayan merupakan masalah yang bersifat multidimensi sehingga untuk menyelesaikannya diperlukan solusi menyeluruh, bukan solusi secara parsial. Akar masalah yang menajdi penyebab terjadinya kemiskinan pada nelayan atau masyarakat pinggiran pantai, yaitu (1) kebijakan pemerintah yang tidak memihak masyarakat miskin nelayan, (2) banyak kebijakan terkait penanggulangan kemiskinan bersifat top down  dan selalu menjadikan nelayan sebagai objek, bukan subjek, (3) rendahnya pendidikan nelayan, dan (4) lemahnya penguasaan teknologi dan informasi. (Suharto, 2005)

Guru. Dalam kehidupan sehari-hari sosok guru tidak pernah lepas dalam aktivitas anak-anak kita. Guru bagian dari kehidupan anak-anak kita. Guru memiliki pengaruh yang kuat dalam kepribadian anak-anak.

Namun, masih diakui bahwa profesinalitas dan kompetensi guru masih banyak yang perlu dikelola dengan baik. Sedikitnya ada delapan hal yang harus dikelola dengan baik berkaitan dengan guru, yaitu (1) peningkatan kualitas guru, (2) peningkatan kualifikasi guru, (3) pengembangan kompetensi guru, (4) pemerataan dan penempatan guru untuk setiap wilayah, (5) kesejahteraan guru honorer, (6) perhatian terhadap guru nonformal, (7) seleksi calon guru, dan (8) pendidikan calon guru yang bermutu. Kedelapan hal tersebut menuntut kebijakan pemerintah dengan LPTK secara terpadu dan sistematis sehingga keberadaan guru di perkotaan dan pedesaan tidak terlalu jauh ketimpangannya.

Buruh. Kesejahteraan, kesehatan, dan masa depan mereka masih terombang-ambing tidak menentu. Upah minimum regional masih jauh dari harapan mereka. Seringkali sebagian buruh hanya dapat bertahan hidup, tak bisa menabung karena pendapatan mereka tida cukup, apalagi bagi yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. Sisi yang lain masih terjadi majikan melakukan kekerasan terhadap buruh. Bahkan, kita menyaksikanmasih terdapat perbudakan terhadap buruh di era modern sekarang ini. Kita sering miris lagi, ada TKI yang diperlakukan tidak manusiawi bahkan hukum mati.

Presiden terpilih nanti, “empat komponen bangsa yang menjadi fenomena bangsa ini” mohon segera diperhatikan solusinya agar permasalahan tersebut secara bertahap dapat diselesaikan dengan baik. Semoga.

Tulisan ini pernah dimuat di kolom opini koran Pikiran Rakyat pada selasa (17/6/2014).

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Anda Ingin Istri yang Penuh Berkah? Inilah 3 Cirinya

Anda seorang laki-laki yang shalih yang sedang mencari istri yang penuh keberkahan? Rasulullah memberikan tiga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *