BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Ketua Umum Kalam UPI : Duka di Puncak Kemenangan, Tak Cukupkah Jadi Pelajaran?

Ketua Umum Kalam UPI : Duka di Puncak Kemenangan, Tak Cukupkah Jadi Pelajaran?

asHari Raya Idul Fitri adalah hari kebahagiaan bagi umat Islam sekaligus puncak kemenangan setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Namun, perayaan Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini di Tolikara, papua, terjadi kekacauan. Mesjid Baitul Muttaqin yang menjadi tempat pelaksanaan Shalat Idul Fitri dibakar dan jamaah sholat dilempari batu oleh massa yang dipimpin Pendeta Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo selaku Koorlap. Bahkan rumah sekaligus kios milik warga pun ikut dibakar. (Sumber : eramuslim.com)

Sebelum insiden ini terjadi, ternyata telah tersebar surat yang atas nama Jemaat GIDI yang berisi larangan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1436 H di Wilayah Kabupaten Tolikara dan pelarangan memakai jilbab bagi kaum muslimah. Surat tersebut juga mendapat tembusan kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, POLRES Tolikara dan Dandramil Tolikara.

Pelarangan yang dilakukan ini jelas-jelas telah membatasi dan merampas hak umat Islam di Tolikara Papua. Kemudian, pembakaran mesjid dan pelemparan batu kepada jamaah sholat Idul Fitri merupakan pelecehan yang besar terhadap umat Islam.

Sebagai seorang muslim, layaklah kita menjadi marah ketika saudara-saudara kita didzalimi dan dirampas hak-haknya. Apalagi terjadi di puncak kemenangan, kemarahan yang ada semakin menyulut dada. Namun, tentu kemarahan kita adalah kemarahan yang terarah bukan kemarahan yang gegabah. Apalagi sampai kisruh dan berdarah-darah. Karena kita muslim yang beriman kepada Allah, maka wajib mengikuti apa yang disampaikan Rasulullah. Tidak membalas kedzaliman dengan kedzaliman lagi.

Umat Islam ketika hidup di tempat yang tidak menerapkan syariat Islam akan selalu didzalimi, termasuk di Indonesia. Ingatlah insiden yang menimpa umat Islam bukan hanya insiden di Papua saja. Insiden yang masih hangat adalah penindasan dan pengusiran umat Islam di Burma yang kemudian sampailah saudara-saudara kita terdampar di Aceh. Dan lagi-lagi, kita pun diperlihatkan oleh fenomena yang miris ketika mereka hendak diusir kembali ke laut lepas.

Jika insiden yang terjadi pada umat Islam di Burma tidak cukup menjadi pelajaran, apakah insiden yang terjadi di Papua pun akan tetap tidak menjadi pelajaran pula untuk kita? Ataukah harus ada insiden yang menimpa diri kita sendiri agar kita menyadari bahwa umat Islam sedang didzalimi, sehingga kita bisa bergerak untuk berjuang dalam penerapan syariat Islam?

Saudaraku, di negeri yang tidak menerapkan syariah Islam ini, kita dipaksa untuk menghormati agama lain dengan dalih toleransi. Tanpa sadar, kadang di waktu yang sama kita pun mengorbankan akidah. Semisal ketika pelaksanaan Natal, bagaimana para pekerja muslim dipaksa untuk menggunakan atribut-atribut natal yang jelas dilarang dalam Islam.

Saudaraku, kita adalah umat Islam yang telah Allah muliakan dengan Islam itu sendiri. Kita pernah berjaya selama 13 abad dan memberikan kesejahteraan bagi umat muslim maupun non muslim. Namun, semenjak tahun 1924 yakni pengahancuran khilafah Islamiyah sebagai institusi penerap syariah, kekacauan terjadi dimana-mana dan kedzaliman menimpa umat.

Saudaraku, cukuplah sudah berbagai insiden menimpa umat ini. Cukuplah sudah berbagai kesedihan menimpa umat ini. Cukuplah sudah berbagai kedzaliman dirasakan oleh umat ini. Tidakkah kita merindukan kedamaian dan kesejahteraan hidup? Tidakkah kita merindukan suasana hidup Islami penuh kesejukkan?

Saudaraku, mari kita menyadari bahwa kedzaliman ini terjadi ketika Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam tidak ada. Andaikan Sang Khalifah masih ada, niscaya ia akan memberikan perlindungan kepada saudara-saudara kita di Papua sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah Sulaiman Al Qonuni dalam melindungi seorang wanita yang sedang didzalimi. Bukan hanya itu, kita pun akan bersatu padu membangun peradaban besar dibawah panji Laa Ilaaha Ilallaahu Muhammadurrasulullah.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kepada segenap mahasiswa muslim dan umat untuk mari kita berjuang bersama-sama mewujudkan kembali institusi penerap syariah. Semoga Allah Swt. memudahkan kita dan memberikan kesabaran dalam menjemput kemenangan dariNya. Aamiin.

Ketua Umum Kalam UPI

Aif Saiful Ma’ruf

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *