BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Kemerdekaan Hakiki untuk Asia-Afrika

Kemerdekaan Hakiki untuk Asia-Afrika

Asia Afrika

Oleh: Fadly Okta Pratama (Sekretaris Jenderal Kalam UPI)

Manusia dalam sejarahnya telah melalui berbagai macam peristiwa, termasuk penjajahan. Seperti apapun bentuknya, penjajahan merupakan tindakan merugikan dan selalu menyisakan duka bagi pihak yang terjajah. Sebagaimana penjajahan Belanda selama 350 tahun terhadap Indonesia menjadi kenangan pahit bagi bangsa ini. Karena itu, keinginan untuk melepaskan diri dari penjajahan merupakan fitrah manusia.

Kesadaran untuk menentang penjajahan itulah yang mendasari terlaksananya KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Asia-Afrika. KTT Asia-Afrika atau sering disebut KAA (Konferensi Asia Afrika) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika yang kebanyakan saat itu baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Burma (sekarang Myanmar), Ceylon (sekarang Sri Lanka), India, dan Pakistan. Konferensi yang dikoordinasi Menteri Luar Negeri Indonesia ini berlangsung pada 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia.

Tujuan dari KAA adalah mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika serta menentang kolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya. Hasil dari KAA ini tertuang dalam Dasasila Bandung. Inti dari Dasasila Bandung tersebut adalah penentangan bagi kolonialisme dan imperialisme.

Jika kita cermati, Indonesia memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. KAA yang menjadi proses awal dari terbentuknya GNB (Gerakan Non-Blok) merupakan bukti peran dan kontribusi penting Indonesia dalam melawan penjajahan terhadap negara-negara Asia-Afrika. Terlebih lagi dengan diakuinya Presiden Soekarno sebagai salah satu tokoh penggagas dan pendiri GNB, semakin menunjukkan peran Indonesia dalam perlawanan terhadap kolonialisme.

Asia-Afrika Masih Terjajah

Namun, 60 tahun setelah KAA dilaksanakan, tidak sedikit negara-negara Asia maupun Afrika yang masih berada dalam kungkungan penjajahan. Baik penjajahan secara fisik seperti yang dialami oleh Palestina, maupun penjajahan ekonomi dan politik oleh negara-negara lainnya.

Negara-negara yang menjadi anggota KAA, khususnya negara-negara muslim belum berdaulat secara penuh. Eksploitasi kekayaan alam oleh para imperialis sampai saat ini masih terjadi. Kebijakan negara-negara muslim kebanyakan tidak lepas dari intervensi negara asing imperialis.

Indonesia sebagai koordinator KAA pertama pun secara fisik memang sudah merdeka, tetapi secara politik dan ekonomi sejatinya belum berdaulat. Kekayaan alam Indonesia dikeruk sampai habis. Namun, siapa yang menikmati hasil kekayaan alam tersebut? Sektor hulu kekayaan alam migas Indonesia hampir seluruhnya dikuasai asing. Bahkan dengan dicabutnya subsidi BBM, swasta dan asing menjadi lebih leluasa untuk menguasai sektor hilir. Terlihat jelas bahwa kekayaan alam Indonesia tidak bisa dinikmati oleh rakyat selaku pemiliknya sendiri.

Seharusnya kita sadari bahwa peringatan 60 tahun KAA tidak hanya sebatas seremonial saja. Peringatan 60 tahun KAA seharusnya bisa membangkitkan kembali semangat awal KAA yaitu melawan kolonialisme dan imperialisme. Namun, dengan apa Asia-Afrika dapat lepas dari kolonialisme dan imperialisme?

Kemerdekaan Hakiki

Jika kita kembali melihat sejarah, Asia-Afrika pernah mengalami suatu kejayaan. Pernah berdiri suatu negara adikuasa yang kekuasaannya meliputi hampir seluruh Asia dan Afrika. Negara yang kekuatan militernya merupakan militer terkuat. Negara dengan sistem ekonomi yang terdepan dalam menyejahterakan rakyatnya. Negara dengan sistem pendidikan yang mampu melahirkan banyak ilmuwan yang mempengaruhi dunia. Negara itu adalah Khilafah Islam.

Bernard Lewis dalam Bukunya “What Went Wrong” mengatakan, “(Khilafah) Islam merupakan kekuatan militer terkuat di Dunia, dan ekonominya adalah ekonomi terdepan di Dunia. (Khilafah) Islam telah mencapai tingkat tertinggi selama ini dalam sejarah manusia dalam seni dan ilmu pengetahuan”.

Sangat kontras keadaan Asia dan Afrika di masa Khilafah Islam dengan keadaan saat ini. Lantas mengapa Asia dan Afrika dalam naungan Khilafah Islam dahulu bisa mencapai kejayaan? Mengapa negara-negara Asia dan Afrika yang dulunya merupakan bagian Khilafah Islam kini mengalami keterpurukan dan penjajahan?

Semua kejayaan itu bisa diraih karena hanya Islam yang menjadi aturan dalam kehidupan. Hanya dengan Islam kita bisa mencapai kejayaan dan kemuliaan. Menjauhkan Islam dalam kehidupan hanya akan membawa kita pada kehancuran. Karena kemerdekaan yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan Islam. Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika hanya aturan yang berasal dari Pencipta yang menjadi aturan hidup kita.

“Kami adalah kaum yang dibangkitkan oleh Allah untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Khaliq semata. Dan membebaskan manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan akhirat. Dan membebaskan manusia dari kedzhaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Sa’ad bin Abi Waqqash)

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *