BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Agenda / Ar Rijal / Kalam On The Spot#4 – “Freeport, Ada Apa Denganmu?”

Kalam On The Spot#4 – “Freeport, Ada Apa Denganmu?”

Kalamedia, Bandung – Kamis sore pukul 15.30 WIB (29/10/15), KALAM UPI (Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia) menggelar acara KOS#4 (Kalam On The Spot) di lorong masjid Alfurqan UPI Lt.1, bentuk acara dari KOS adalah kajian analisis, pada sore hari itu tema yang di angkat yaitu “Freeport,Ada Apa Denganmu?”. Kajian itu dihadiri oleh mahasiswa UPI dari berbagai jurusan, bukan hanya mahasiswa dari program S1 saja yang hadir pada kajian itu, bahkan ada seorang mahasiswa dari program S2 pascasarjana UPI yang turut serta meramaikan acara pada sore hari itu. Adalah Ust.Eka Cahya Prima, MT, (dosen IPSE UPI) selaku penyaji yang menyampaikan analisisnya pada sore hari itu.

IMG_20151029_170734808

Berangkat dari sebuah artikel yang penyaji bawa untuk di analisis, yakni tulisan yang ditulis oleh Nasihin Masha yang berjudul “Berebut Panas dan Nikmatnya Freeport”.  Eka C. Prima,MT menyampaikan urgensi dari tulisan tersebut yaitu adanya perebutan kepentingan penanganan perpanjangan kontrak karya PT.Freeport Indonesia 2×10 tahun hingga waktu 2041. Beliau pun (Eka C.Prima) menganalisis bahwa tujuan penulis menulis artikel tersebut adalah;

(1) dengan menggambarkan perebutan kepentingan di kalangan elit politik, bisa dijelaskan bahwa para penguasa cenderung mementingkan kepentingannya sendiri; (2) kondisi public di kalangan penguasa yang panas, bisa menggambarkan betapa mudahnya Freeport melakukan perpanjangan kontrak karena berbagai pihak sama-sama berburu kepentingan berbasis materi (uang); (3) berdasarkan nota kesepahaman kontrak karya Freeport II tahun 1991, tidak ada halangan bagi Freeport untuk memperpanjang kontrak dengan pemerintah Indonesia dengan menawarkan investasi pembangunan pertambangan bawah tanah.

Artikel yang ditulis oleh Nasihin Masha, bercerita tentang kisruh antara dua menteri, adanya kefret mengefret antara Menko Maritim & SD yakni R.R dengan Menteri ESDM, S.S , yang saling menuding masalah permasalahan kontrak perpanjangan Freeport.

Eka C. Prima dalam kesempatan sore itu memberikan komentarnya; “Konflik antara R.R dan S.S sepertinya tidak akan terjadi, manakala keduanya saling berkoordinasi dengan baik. Namun, seandainya terjadi hubungan yang baik dari keduanya, sama sekali tidak berpengaruh terhadap keputusan akhir pemerintah, yakni perpanjangan kontrak Freeport.”

“Karena itu dalam kasus PT Freeport dan lainnya yg terlanjur menguasai kekayaan alam negeri ini, yang mesti dilakukan bukan merundingkan ulang kontrak atau memperpanjang ijinnya. Negara justru harus mengambil-alih sekaligus mengelola kekayaan alam itu secara langsung dan seluruh hasilnya untuk rakyat. Pengelolaan kekayaan alam yg melimpah itu harus dilakukan oleh negara mewakili rakyat. Seluruh hasilnya dikembalikan untuk rakyat. Dalam Islam tambang yg berlimpah, haram diserahkan pada swasta, apalagi asing. Ini diperkuat dengan dalil dari Rasul. Abyadh bin Hammal ra menuturkan bahwa :

Ia pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu meminta (tambang) garam. Ibn al-Mutawakkil berkata (maksudnya tambang) yang ada di Ma’rib. “Beliau (Rasul) kemudian memberikan tambang itu kepada dia. Ketika dia pergi, seorang di majelis itu berkata kepada Nabi saw, “Apakah Anda tahu apa yang Anda berikan? Sesungguhnya Anda memberi dia (sesuatu laksana) air yang terus mengalir.” Ibn al-Mutawakkil berkata, “Rasul lalu mearik kembali (rambang itu) dari dia (Abyadh bin Hamal).” [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi]

Dalam Kajian itu pun beberapa mahasiswa yang hadir memberikan komentarnya, “R.R dan S.S memiliki dua kepentingan yang sama-sama buruk. Disini peran kepala negara juga seperti kurang paham dengan perannya. Padahal dalam Islam masalah kepemilikan itu harus dibedakan, karena ada kepemilikan umum, negara, dan pribadi. Apakah pantas barang yg sifatnya kepemilikan umum ini digulir – gulirkan kepada pihak-pihak tertentu saja (asing dan swasta) ?”, ujar Mumuh Muhammad MAPRES UPI dari prodi IEKI.

“Ada dua hal yang sala lihat. Pertama, saya lihat dari kondisi dari permasalahan Freeport adalah adanya pragmatisme politik, artinya ada kepentingan elite politik di sini yang bermain, para elite ikut bermain dalam project – project yang sekiranya menguntungkan mereka. Kedua, perlu kita pahami bersama Emas yang diambil/digali Freeport adalah Milkiyah Amm (Kepemilikan Umum) , maka seharusnya dikelola oleh negara, jika tidak, ya seperti ini akhirnya, terjadi konflik dan perebutan”, ujar Fadly Sekjend KALAM UPI.

“Dalam kasus ini memperlihatkan, bahwa tidak adanya ketegasan dari kepala negara, karena seolah-olah membiarkan dua menteri tersebut itu ribut, di atasnya saja sudah rebut apalagi yang dibawah” , tambah Kang Wahyudi Mahasiswa S2 Pascasarjana UPI prodi Pendidikan Fisika.

Terakhir, penyaji menutup kajian sore itu dengan menyampaikan sebuah dalil ; “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. [QS. Al-Maidah ; 48]

 [] Kalamedia/Ra

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

KALAM UPI SELENGGARAKAN PAMERAN PENDIDIKAN ISLAM 2016

Kalamedia – UKM KALAM UPI melaksanakan Pameran Pendidikan Islam dengan tema “Islamic Education Model For ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *