BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Agenda / Ar Rijal / Reportase Ar Rijal / Kajian Kitab Kuning Ta’lim Muta’allim – Pasal Tentang Niat

Kajian Kitab Kuning Ta’lim Muta’allim – Pasal Tentang Niat

Kalamedia, Bandung – Selasa (10/11) mesjid Alfurqan UPI yang merupakan basis pengkajian Islam di kampus UPI seperti biasanya ramai dikunjungi oleh mahasiswa, baik itu sekedar mengerjakan tugas, melakukan diskusi-diskusi, maupun melakukan kajian-kajian keislaman. Dan seperti biasa juga, UKM KALAM UPI selalu ikut andil untuk memakmurkan masjid alfurqan, dengan rutin melaksanakan kajian keislaman. Kajian keislaman yang rutin dilakasanakan oleh KALAM UPI pada selasa sore pukul 16.00 – 17.30 WIB di selasar ikhwan lt.1 mesjid alfurqan UPI adalah Kajian Kitab Kuning  Ta’lim Muta’allim (tatacara belajar dan mengajar) karya Syaikh Az-Janurzi seorang ulama terdahulu. Mengkaji kitab klasik dari para ulama terdahulu merupakan salah satu penghormatan terhadap para ulama terdahulu. Kajian ini terbuka untuk umum, mahasiswa ataupun mahasiswa UPI yang notabene bergerak di lingkungan pendidikan, cocok mengkaji kitab ini, karena di  dalamnya Syaikh Az-Janurzi menuliskan bagaimana tatacara belajar dan mengajar dalam Islam dan bagaimana norma atau adab yang mesti ada pada seorang pendidik ”ujar Tatang Ketua Departemen Pembinaan & Pengkaderan Kalam UPI”

Sore itu bahasan yang dikaji adalah pasal (bagian) tentang niat, Ust. Alfa Silmi yang hadir sebagai pengisi pada kajian tersebut, membacakan kitab kuning yang berbahasa Arab tersebut dan menyampaikan terjemahannya, dalam kitab ta’lim muta’allim ini dituliskan bahwa sesungguhnya niat itu adalah pondasi dalam setiap perkara, dalam konteks mencari ilmu seorang murid/pelajar harus menata ulang (memperbaiki/meluruskan) ulang kembali niatnya. Penting niat itu bagi para pelajar dalam mencari ilmu didasarkan pada ridha Allah. Karena sabda nabi saw Innama a’malu bin niati “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya”. Niat dalam mencari ilmu harus diluruskan karena Allah, agar amalan dalam mencari ilmu tersebut bernilai amalan akhirat bukan sekedar amalan duniawi. Mencari ilmu atau belajar tujuannya untuk memberantas kebodohan pada diri sendiri dan kebodohan lainnya serta untuk menghidupkan agama dan melanggengkannya. Maka niat dalam mencari ilmu/belajar itu tidak boleh iqbalannas, yaitu mencari pengakuan dari manusia. Contohnya kita belajar agar jadi terkenal, ingin disanjung dan dikatakan oleh orang lain pintar, hal ini akan membuat kita rugi di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda : ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.”Allah berkata, “Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.”Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.” [HR. Muslim]

Wallahu a’lam.

[] Kalamedia/Ra

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Ketua Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam UPI Apresiasi Survei Persoalan Seks Bebas 2016

Ketua Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam UPI Apresiasi Survei Persoalan Seks Bebas 2016 Kalamedia ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *