BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Keluarga dan Masyarakat / Jangan Ngaku Pemimpin Jika Gengsi Bawa Anak

Jangan Ngaku Pemimpin Jika Gengsi Bawa Anak

ayah-dan-anak

JIKA mendengar pembahasan tentang Rasulullah bawaannya suka sedih, karena tak sedikit orang yang hapal sejarah baginda Rasulullah, tapi mendidik anak, Rasulullah SAW tak dijadikan uswah.

Rasulullah begitu menghormati bayi sekalipun beliau dikencingi, tak marah, tak merasa jijik.

Rasulullah tak gengsi bawa anak, meski menghadap Allah pun memimpin umat.

Bagi seorang pemimpin besar itu sebuah tindakan keteladanan, bahwa Rasulullah sepenting apapun jabatannya, sehebat apapun beliau bahkan sudah dijaminkan surga baginya, memposisikan anak anak tidak sebagai pengganggu, namun dihargai keberadaannya.

Bahkan, tak jarang, meski sudah lelah berjihad, tatkala berjumpa dengan anak kecil tak lantas menyurutkan Baginda untuk menyapa dengan kasih sayang.

Sehebat apa pun sebuah diskusi yang mengupas tuntas sejarah Rasulullah SAW, tapi mendidik anak memakai asumsi pribadi rasanya saya agak kurang simpati.

Mendidik anak untuk dijadikan kepanjangan tangan, misal dulu orangtuanya ingin masuk sekolah favorit tapi gagal, didrill lah anaknya agar bisa meneruskan keinginan orangtua tanpa bertanya apakah anaknya nyaman atau tidak masuk ke sana.

Mendidik anak untuk dijadikan pameran, diikutkan berbagai ajang kontes bakat atau kontes macam macam, koleksi piala, medali juga piagam padahal masih usia dini yang tidak aman ikut lomba menang kalah.

Mendidik anak asal-asalan, asal cukup uang jajan, pakai pakaian bermerek, makan makanan di restoran keren cepat saji, keluar masuk mobil mewah dengan supir pribadi, gadget terbaru agar tak ketinggalan tekhnologi, sekolah di sekolah dengan gedung bertingkat skala internasional super megah tuntas tugas menjadi ayah yang fungsinya mencari nafkah.

Sungguh, Rasulullah tidak lah begitu. Jika beliau mau, tentu beliau akan jadi orang paling kaya didunia di zamannya, anak anaknya akan jadi pewaris harta dan tahtanya.

Tapi Rasulullah tidak begitu, sungguh tidak begitu.

Sedih jika para suami, menjadikan Rasulullah sebagai uswah hanya ketika ingin menikah lagi.

Sedih jika para ayah, menjadikan Rasulullah Uswah dengan dasar satu hadis pukul anakmu jika tidak solat sebagai alasan memarahi anak yang masih belia hanya karena Hp baru atau Laptopnya terkena noda.

Sedih jika seorang pemimpin yang jabatan kepemimpinannya setinggi apapun, tak akan bisa sejajar dengan kepemimpinan Rasul, tapi melihat anak sebelah mata malah tak sedikit merasa hina jika berada di dekat mereka.

Sedih. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Lembutlah Dalam Mendidik

NABI adalah orang yang paling lembut kepada orang. Beliau memperhatikan faktor psikologis dan kondisi mereka. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *