BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Ibu, Kaulah Pahlawan Ku

Ibu, Kaulah Pahlawan Ku

Oleh Ravica Sagita Puterie | Mahasiswa SPIG

            Marhaban Ya Ramadhan…

            Marhaban Ya Ramadhan…

            Marhaban Ya Ramadhan….

Tak terasa bulan ramadhan sudah di depan mata, harumnya ramadhan kini tercium sudah, aura bulan yang suci mulai terasa, esok adalah hari yang penuh dengan kemuliaan, semua pahala akan dilipatgandakan, semua pintu maaf akan dibukakan, semua kebaikan akan bernilai tinggi dimata Sang Pencipta (Allah SWT).

Do’a ku malam ini…

Tuhan, izinkanlah malam ini aku tidur dalam lindungan Mu.

Izinkanlah esok aku masih bertemu dengan bulan suci Mu.

Amin.

Keesokkan harinya diwaktu senja, Tuhan kirimkan malaikat kematian untuk menjemput ayah ku. Celetuk hati ku seakan menantang Tuhan, Ya Allah mengapa engkau ambil nyawa ayah ku begitu cepat? padahal hari ini adalah hari pertama kami menginjak bulan ramadhan di tahun ini, dengan sekejap kau cabut nyawa ayahku tanpa permisi, TUHAN !!!!! apa mau mu? apa salah ku? hingga kau melakukan ini pada ku, mengapa tidak kau cabut saja nyawa ibu ku yang cacat agar tidak mempermaluakan ku lagi (dengan nada menantang dan marah).

Tuhan, kini kau buat aku menjadi anak yatim yang hanya memiliki ibu yang cacat, kemarin lusa kau ambil mata ibu ku, dan kini kau ambil pula ayah ku, esok apa lagi yang akan kau ambil dari ku Tuhan!!!! Tak lelah kah kau selalu membuat ku menderita? sudah cukup kau lahirkan aku dari keluarga yang miskin, lalu kau tambah lagi dengan kekurangan yang bertubu-tubi. Takdir seperti tak berpihak kepada ku, Tuhan pun enggan memberikan kesempurnaan dalam hidup ku, aku seperti ditimpa malapetaka disepanjang masa ku, entah apa dosa ku, aku tak tau. Tuhan seperti pilihkasih pada ku, padahal aku selalu taat terhadap perintah Nya. Kini tinggalalah aku dan ibu yang menghuni rumah gubung beralaskan tanah dan berdindingkan anyaman bambu.

Hari ini adalah hari pertama aku dan ibu sahur, sepi rasanya makan sahur tanpa kehadiran seorang ayah, makan sahur pun seperti tak selera, setelah sahur aku menunggu datangnya azan subuh sambil memandangi layar tv yang berwarna hitam putih. Waktu sekolah pun tiba aku berangkat ke sekolah dengan mengayun sepeda tua peninggalan ayah ku. Hari-hari ku kini sudah tidak berwarna lagi sejak kematian ayah ku, kini aku duduk di bangku SMK kelas 3 jurusan Analisis Kimia. Aku terus mengarungi hari ku dengan kesedihan yang berlarut, semua organisasi yang aku ikuti terabaikan. Sering kali sahabat ku Toni menasihati ku agar ikhlas dengan semua musibah yang menimpa ku dan Toni selalu memberikan semangat agar aku bangkit, nasihatnya selalu memotivasi ku, kini ku coba untuk menjalani hari-hari ku dengan semangat dan ku coba lagi untuk fokus pada sekolah karena sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional.

            Pada acara pesantren kilat aku diamanahi untuk menjadi ketua pelaksana pada pertengahan ramadhan kami mengadakan acara buka bersama. Tidak ku sangka ibu ku datang ke sekolah ku dengan membawakan makanan untuk aku berbuka puasa, semua teman-teman mengejekku karena aku dilahirkan dari ibu yang hanya memiliki satu mata. Akupun langsung mengajak ibuku untuk pulang ke rumah. Aku sangat kecewa dengan sikap ibu sudah berkali-kali aku melarang ibu untuk datang ke sekolah tapi ibu masih saja datang untuk menemui ku, aku malu memiliki ibu yang cacat, nanti apa kata teman-teman sekolah ku, seorang Rendi yang memiliki jabatan ketua pelaksana dan seorang aktivis terlahir dari rahim ibu yang cacat itu semua akan menurunkan jabatan ku dimata orang banyak. Aku tidak mengerti mengapa aku memiliki ibu bermata satu, aku tidak bisa mengingat masa lalu ku yang aku tau aku dilahirkan dari seorang ibu yang cacat dan aku tidak suka dengan ibu yang cacat yang hanya bisa mempermalukan ku seumur hidup ku. Aku selalu berdoa kepada tuhan “ Tuhan!!! cabutlah nyawa ibuku secepatnya, agar tidak membuat ku malu, aku sangat malu dengan semua cibiran tentang kecacatan ibu, sejak kecil aku selalu menjadi bahan olokkan teman-teman ku karena kecacatan ibu. Tuhan!!! kalau perlu cabut saja nyawa ibu ku malam ini, aku benci memiliki ibu yang cacat”. Malam itu aku berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari masalah ini dan akhirnya aku memutuskan untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan setelah sukses nanti aku akan pergi dari rumah ini, aku akan meninggalkan ibu yang cacat dan meninggalkan semua kesengsaraan yang ada di rumah ini.

Saat ibu membangunkan ku untuk sahur aku sangat kesal sekali “sudahlah ibu tidak usah membangunkan ku lagi ibu hanya bisa membuat ku malu dan mengganggu tidur ku, aku tidak butuh ibu yang cacat seperti mu. Sang ibu pergi dan mengambil air wudhu untuk salat tahajjud, saat salat sang ibu meneteskan air mata sesak hati yang dirasakan seorang ibu karena terlukai lisan anaknya sendiri begitu mendalam tapi sang ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Mendengar tangisan sang ibu, Rendi terbangun dari tidurnya dan melihat ibunya sedang berdoa dan menangis, rupanya tidak sedikitpun terketuk pintu hatinya melihat sang ibu yang menangis karena lisannya. Celetuk Rendi “ untuk apa dia menangis ,hanya mengganggu tidur ku saja “.

Ramadhan kali ini terkesan begitu membosankan hanya ada aku dan ibu yang cacat dalam ramadhan tahun ini, tidak ada lagi sosok seorang ayah pada ramadhan tahun ini. Hari kemenanganpun tiba, tidak sedikit pun ku sentuh tangan ibu untuk bersalaman, tidak sedikitpun terucap dari lisan ku untuk meminta maaf padanya karena aku merasa aku tidak memiliki dosa sedikitpun pada ibu karena yang membuat ibu buta bukan aku tapi Tuhan.

            Setiap hari aku belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh, aku ingin merubah hidup ku agar tidakmiskin seperti sekarang ini, karena aku sudah lelah dengan semua kemiskinan ini, dengan bermodalkan keyakinan untuk sukses dan terus berusaha dengan sungguh-sungguh dihari kelulusan akhirnya aku mendapatkan peringkat terbaik di sekolah ku dan banyak perusahaan yang menawarkan aku untuk bekerja. Aku putuskan untuk bekerja disalah satu perusahaan ternama di Jakarta dan aku tinggalkan ibu yang cacat itu dengan semua penderitaan yang ada di gubug derita ini.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun aku pun menikah dengan seorang gadis yang cantik jelita asli Jakarta. Berkali kali melewati bulan ramadhan sendiri akhirnya ditahun ini aku melwati bulan ramadhan didampingi seorang istri. Pada malam takbir ada sanak saudara yang datang menemui ku, beliau adalah sahabat ayah ku namanya Pak Budi, beliau datang kemari untuk meminta ku agar menemui ibu ku yang sedang sekarat di rumah sakit tetapi aku tetap tidak sudi untuk menjenguknya karena aku sudah hidup bahagia tanpa kehadiran seorang ibu yang cacat yang hanya bisa merepotkan ku lagipula aku sudah berkata kepada istriku kalau ibuku sudah meninggal dunia. Pak Budi sangat kecewa dengan sikap ku, akhirnya beliau menceritakan semuanya pada ku, mendengar semua cerita beliau air mata penyesalan ku menetes, sekarang aku mengerti dengan keadaan ibu ku yang hanya memiliki satu mata, sewaktu aku kecil disaat kecelakaan besar terjadi pada ku, aku kehilangan satu mata ku, selama ini aku tidak bisa mengingat kejadian itu kerena terlalu banyak menghirup asap pada saat kecelakaan itu terjadi dan ibuku memberikan matanya untukku agar aku bisa melihat indahnya dunia dengan kedua mata ku, agar aku tidak di tertawakan orang, dan agar aku bisa hidup dengan kesempurnaan,disepertiga malam terakhir ibu selalu terbangun dari tidurnya untuk bertahajjud dan mendoakanku agar aku di berikan kesuksesan.Ibu, aku menyesal atas semua tingkah ku yang sudah melewati batas, akupun langsung bergegas menemui ibu ku yang sedang sekarat di rumah sakit dengan berlinagkan air mata penyesalan. Sesampainya aku di rumah sakit, Tuhan sudah mencabut nyawa ibu ku, belum sempat aku meminta maaf, ibu sudah pergi meninggal kan ku untuk selamanya, sekarang aku hanya bisa menangis diatas mayat ibuku. Tuhan !!! sekarang aku hanya bisa menyesal. Ya Alllah dimalam kemenangan ini aku hanya bisa menagsi kepergian ibuku andai kau hadirkan kesempatan kedua aku tidak akan menyakiti hati ibu ku lagi, aku menyesal pernah berdoa kepada mu agar kau segerakan mencabut nyawa ibu ku sekarang kau kabulkan doa itu aku sangat menyesal Ya Allah. Dimalam kemenangan ini takbir namamu tak bisa lagi ku dengarkan dari lisan ibu ku, bertumpuk semua penyesalan dalam diri ku selama ini ibu yang aku benci ternyata adalah ibu yang rela mengorbankan matanya bahkan seluruh hidupnya untukku, sampai ajal menjemputnya ibu rela melihat dunia dengan satu matanya sedangkan aku yang mengambil pengelihatan ibu hanya bisa menyakiti hati seorang ibu yang telah melahirkan ku, belum sempat aku berterimakasihnya, belum sempat kucium tangannya dan meminta maaf kepadanya, selama ini ibu rela bangun dari tidurnya hanya untuk mendoakan ku, doa ibu lah yang mendorongku menjadi sukses tanpa doa ibu mungkin aku hanya kerikil jalanan yang merepotkan. Ya Allah sekarang semuanya sudah terlambat aku sangat meyesal Ya Allah.

Ibu, besok adalah hari kemenangan, besok adalah hari lebaran, Rendi mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan dan kekhilafan Rendi selama ini. ( sambil menangis diatas mayat sang ibu ).

Ibu adalah mutiara yang harus kita jaga dengan apik bukan dengan menyakitinya, satu tetes air mata kekecewaan seorang ibu karena anaknya adalah dosa besar untuk sang anak, patut kita ingat sorang ibu rela mempertaruhkan nyawanya untuk anaknya, ketika anaknya measakan sakit ibulah yang lebih merasa sakit. Buatlah ibu mu menangis karena kesuksesan mu bukan karena kegagalan mu dan semua kesuksesan mu selalu ada doa ibu yang terselip di dalamnya.

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD             Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *